Obituari: Mambaca Sikap Semedulur Pak Dindin

Saat ditraktir orang, saya biasanya malu pesan makanan dalam jumlah banyak. Tapi tiap kali ditraktir Pak Dindin atau Pak Muslihudin, perasaan malu itu biasanya tidak ada. Karena itulah saya akan pesan makan yang saya suka, dengan porsi yang kira-kira (lebih dari) cukup.

Perasaan malu yang tidak muncul itu mungkin terjadi karena dua hal. Pertama, Pak Dindin sendiri tampak lahap saat makan, sehingga membuat orang di sekitarnya “terprovokasi”. Kedua,  dia punya kecerdasan unik yang membuat orang di sekitarnya merasa akrab dan nyaman. Dalam bahasa Jawa, kecerdasan itu mungkin tepat kalau dilambangkan dengan kata “semedulur”.

Kemurahan hati Pak Dindin sering saya nikmati sejak 2013 saat saya mengelola majalah Merah Putih bersama. Dia jadi pemimpin perusahaan, saya jadi wakil pemimpin redaksi.

Saat kami masuk periode sibuk karena jelang deadline, Pak Dindin biasanya datang menjenguk. Tapi bukan perkembangan kerjaan yang pertama dia tanyakan. Pertanyaan yang justru pertama dia lontarkan adalah: wis do mangan durung?

Saya dan rekan sesama awak redaksi: Heru Ferdiansyah dan Tries Supardi senang mendengar pertanyaan itu. Bagi kami – anak-anak muda berdompet tipis – itu jenis pertanyaan yang sejuk dan menentramkan.

Beberapa menit setelah pertanyaan itu terlontar, kami biasanya sudah duduk manis dalam mobil menuju warung makan.

Ada dua tempat favorit yang sering Pak Dindin kunjungi saat mentraktir kami. Pertama, warung makan seafood (di dekat) Kampung Laut. Kedua, Warung Ijo di Jalan Bojong Salaman, dekat Banjir Kanal Barat.

Karena sikap Pak Dindin yang semedulur, saya merasa tidak punya hambatan psikologis apa pun untuk makan sampai puas. Apalagi kalau lihat teman-teman lain juga lahap. Saya merasa menemukan “habitat” yang pas.

***

Secara umum, Pak Dindin dikenal sebagai manajer di salah satu sekolah swastra terbesar di Semarang.  Tapi di luar aktivitas profesional itu, ia punya banyak aktivitas sosial.

Sejauh yang saya tahu, dia adalah pengurus Lembaga Pendidikan Maarif Jawa Tengah. Selain itu, dia juga anggota Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. Meski tidak secara formal menjabat, dia juga jadi bagian tak terpisahkan dari Dewan Pendidikan Jawa Tengah. Di tempat tinggalnya, dia juga punya kesibukan sosial sebagai sekretaris RT.

Meski tidak melakonina secara profesional, Pak Dindin adalah penulis hobi yang produktif. Selama bertahun-tahun dia menulis di Kompasiana. Dia suka menulis lapora perjalanan dan kuliner. Dia suka sekali nulis dua jenis laporan itu. Saking sukanya nulis perjalanan, naskah yang diketiknya seringkali turah-turah. Sebagai pemimpin redaksi, saya kerap mengedit tulisannya agar sesuai dengan ruang yang tersedia.

Karakter Pak Dindin yang mudah akrab, saya kira, dibentuk oleh rekam jejaknya. Selain karakter egaliter yang dibawanya dari kultur Kebumen (yang dalam banyak hal sama dengan Banyumasan), karakternya dibentuk berkat kiprahnya sebagai aktivis mahasiswa selama kuliah di IKIP Semarang (sekarang Unnes).

Mahasiswa angkatan 1995 ini masuk dalam lingkaran Joglo. Saat itu lingkaran Joglo dikenal sebagai komunitas aktivis lintas bidang. Disebut Joglo karena para aktivis ini berkegiatan (dan seringkali ngekos secara gratis) di kompleks Joglo. Di kompleks inilah aktivis dari berbagai bidang berkumpul: pers mahasiswa, teater, pecinta alam, pramuka, kopma, KSR, dan lainnya.

Sebagai bagian dari lingkaran Joglo, Pak Dindin tentu saja terbiasa dengan cara berpikir ala aktivis: kritis dan terbuka. Di lingkungan seperti itu, hubungan satu orang dengan orang lainnya cenderung sangat egaliter.

Para aktivis yang tinggal di Joglo, konon, hidup sebagai sebuah keluarga. Mereka juga menjadikan bangunan itu sebagai rumah (dalam arti yang sebenarnya). Satu sama lain terhubung secara emosional.

Barangkali karena sudah seperti rumah itu juga, para aktivis bisa berkegiatan selama 24 jam. Sementara beberapa orang sibuk ngetik di ruang pers mahasiswa, beberapa lainnya sedang asyik latihan mementaskan Matahari Tertusuk Jari. Sementara beberapa orang latihan panjat dinding, lainnya belajar melakukan pertolongan pertama.

Setelah bertahun-tahun bekerja dan meninggalkan Joglo, kecenderungan itu masih tampak pada Pak Dindin. Dia tampak sangat menikmati kesibukannya. Meski sering harus pulang malam, dia selalu tampak enjoy.

Karena itulah, jelang majalah yang kami kerjakan naik cetak dia sering ikut tidur di kantor. Manajer itu berbagai karpet seluas 3 x 3 meter dengan pekerja lepas seperti kami.

Sayang, beberapa tahun belakangan kesehatannya cenderung menurun.
Dia kerap merasa gampang capek.

Awalnya saya kira itu keluhan biasa. Tapi setelah beberapa lama tidak ketemu, saya dengar kabar dia masuk rumah sakit.

Kamis pagi, kabar bahwa Pak Dinding meninggal saya terima.

Ratusan orang mengantarkan kepergiannya. Mereka bersaksi bahwa Pak Dindin adalah orang baik. Mereka menderas doa agar orang baik itu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Selamat jalan Pak Dindin….

Rahmat Petuguran

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.