Mahasiwa Sastra Indonesia Unnes Kritik Srimenanti, “Jokpin Gagap Menulis Prosa”

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes), Aristyan Abi Fathe, mengkritik novel Srimenanti karya Joko Pinurbo. Menurutnya, Jokpin mengalami kegagapan ketika menganyam cerita dalam bentuk prosa. Kegagapan itu, menurutnya, terjadi karena Jokpin belum sepenuhnya berhasil bermigrasi dari dunia puisi ke dunia prosa.

Kritik itu disampaikan Abi dalam diskusi buku yang diselenggarakan Komunitas Alas pada Rabu (30/10) di Lantai 5 Perpustakaan Rumah Ilmu Unnes.

Diskusi itu diikuti sejumlah pegiat sastra di lingkungan Universitas Berwawasan Konservasi. Selain dari Komunitas Alas, hadir peserta dari Unit Kegiatan Mahasiswa Cakra.

Abi berargumen, meskipun sama-sama karya sastra, puisi dan prosa memiliki “hukum” estetik yang berbeda. “Dalam menulis puisi Jokpin terbiasa bermain-main dengan bunyi kata. Ia bisa saja mengabaikan plot, karena dalam puisi memang bisa tidak ada. Tapi dalam menulis prosa plot harus jadi unsur yang diperhatikan.”

“Apakah menggunakan hukum puisi dalam prosa adalah salah? Itu tidak salah. Bahkan bisa memberi bobot nilai estetik yang lebih kuat. Tapi tentu harus diperhatikan juga dampaknya terhadap keutuhan naratif prosa,” katanya.

Peserta diskusi lain, Iqbal NH, menangkap kesan “Jokpin banget” dalam novel Srimenanti karena kegemaran Jokpin bermain-main dengan kata. Di tangannya, kata-kata bisa dipermainkan sebagai bahan mainan saja. Kecenderungan untuk main-main itu juga tergambar dalam Srimenanti.

Bagi Iqbal, kesan main-main itu juga tergambar dalam caranya memilih tokoh. Jokpin suka-suka memilih nama teman-temannya, seperti Sapardi, Faisal Odang, Beni Satrio, dan sebagainya.

Meski dengan catatan itu, keduanya menilai ekperimen Jokpin dalam penulisan prosa adalah hal yang menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.