Mahasiswa Bohemian Versus Dosen Borjuis

Meski tidak serumit hubungan dua orang yang berpacaran, hubungan mahasiswa dengan dosen ternyata juga menyimpan kerumitan. Kerumitan itu, terutama, terjadi karena mahasiswa dan dosen adalah dua entitas dengan tipe kepribadian dan mental yang berbeda. Meminjam judul buku John Gray: mahasiswa dari venus, dosen dari mars, bertemu di kampus.

Perbedaan karakteristik mahasiswa dan dosen dapat terjadi karena berbagai variabel: usia, status sosial, dan tentu saja: kemapanan ekonomi. Tetapi di antara sekian faktor itu, perbedaaan struktur mental adalah yang paling dominan.

Lebih banyak dosen menunjukkan sikap sebagai borjuis. Tapi sebaliknya, lebih banyak mahasiswa menunjukkan sikap mental sebagai bohemian. Memang ada dosen bohemian sebagaimana ada pula mahasiswa borjuis. David Brooks dalam Bobos in Paradise menunjukkan dengan humor dan kelakar yang baik perbedaan keduanya.

Mentalitas borjuis dosen dapat dibaca secara visual dari penampilan mereka. Dosen berdandan necis, mengenakan hem dengan setrikaan yang licin, memilih celana berbahan lembut, juga menggunakan sepatu yang disemir mengkilap hingga lalat akan kepleset jika hinggap di atasnya. Kami, para dosen, menyisir rambut pada pagi hari ke arah kanan atau kiri, dan sesekali menggunakan jel atau pomade sehingga bisa disisir ke belakang.

Di media sosial, simbol-simbol yang ditampilkan oleh kami – ya kami, dosen borjuis – juga simbol kemapanan. Foto yang ditampilkan adalah foto saat rapat di hotel berbintang, berlibur bersama keluarga, atau mobil SUV baru. Jika sesekali menulis status: yang ditulis adalah nasihat bijak dari motivator, ulama, yang berisi himbauan untuk mempertinggi moralitas.

Tapi mentalitas borjuis yang paling substansial dalam diri dosen adalah keyakinananya pada ketertiban, kemapanan, dan struktur. Kami percaya bahwa struktur dan keteraturan adalah keniscayaan yang paling baik. Sejauh struktur itu bekerja, kami yakin semua akan semakin baik.

Nah, mahasiswa menunjukkan mentalitas yang berkebalikan: yakni mentalitas bohemian. Memang, tidak sedikit pula mahasiswa bersikap borjuis, tapi dalam jumlah yang lebih sedikit.

Mentalitas bohemian mahasiswa dapat diamati dari penampilannya. Mereka cenderung memilih sesuatu yang bertekstur kasar. Mereka tidak memilih hem polos, tetapi hem bermotif kotak-kotak. Mereka tidak menggunakan celana kain, tetapi memilih jins. Mereka tidak memilih fantovel seperti Donatello, Gucci, atau Playboy tetapi memilih sepatu Nike atau Adidas yang mewakili semangat bergerak dan kelincahan.

Di media sosial, foto yang dipamerkan mahasiswa bukan saat mereka terkungkung dalam ruang megah. Mereka lebih suka memasang foto sedang beraktivitas outdoor. Bahkan jika diamati, aktivitas outdoor yang mereka lakukan biasanya bereferensi pada pergerakan, mobilitas, kebebasan. Misalnya: foto di atas bukit dengan tangan yang terentang. Semua foto-foto itu mewakili keinginan jiwanya untuk bergerak, berpindah, mencoba.

Tetapi sikap bohemian yang paling subatsnsiaal bukan pada apa yang nampak. Mentalitas bohemian sejati mereka terdapat pada pemujaan mereka terhadap kreativitas, spontanitas, dan hal-hal yang bersifat artistik. Mahasiswa meragukan kemapanan, menolak berdisplin, atau mereka bahkan ragu stabilitas ekonomi negara akan membawa kebaikan bagi dirinya. Mahasiswa punya kecenderungan menolak keteraturan yang dibentuk oleh generasi sebelum mereka.

Di kelas, perbedaan sikap mental antara dosen dan mahasiswa kerap menghasilan pertarungan yang sesungguhnya. Dosen menganjurkan mahasiswa bangun lebih pagi, berangkat ke kelas lebih awal, tetapi mahasiswa melawannya dengan datang terlambat. Dosen menganjurkan mahasiswa menggunakan kemeja atau setidak-tidaknya kaos berkerah, mahasiswa masuk ke kelas dengan oblong dan jins yang kadang-kadang sengaja disobek di bagian lutut.

Para dosen menganjurkan mahasiswa supaya rajin membaca dengan yakin bahwa daya baca seseorang berimplikasi langsung terhadap masa depan yang cerah, kehidupan sosial yang hangat, dan karier yang menjanjikan kelimpahan. Mahasiswa meragukan anjuran itu dan dengan sikap ragu mempertanyakan apakah pengetahuan yang diperolehnya di kampus akan berguna. Itula pertentangan-pertentangan kecil di kelas yang menunjukkan kerumitan hubungan mahasiswa dengan dosennya.

Rahamdiyanti Prihastuti, salah satu mahasiswa di kelas saya, mempertanyakan mengapa di kampus mahasiswi tomboi sepertinya harus berdandan rapi. Ia mengaku rapi bukanlah jiwanya. Ia ingin tampil alami dengan menggunakan jenis pakaian yang membuatnya nyaman, tidak membuatnya berkeringat terlalu banyak, dan memudahkannya naik sepeda motor. Pertanyaan itu, saya kria, lahir dari jiwa bohemiannya.

Tapi dosen tentu tidak akan membiarkan mahasiswa seperti Rahmadiyanti datang ke kampus dengan celana jins sobek, tangtop, dan topi yang paruhnya dihadapkan ke belakang. Dosen, setidak-tidaknya saya, adalah para borjuis sejati yang menunjung tinggi moralitas, ketertiban, dan kemapanan. Dengan argumentasi yang diambil dari undang-undang atau aturan yang lebih rendah dari itu, dosen seperti saya siap melabrak mahasiswa seperti Rahmadiyanti dengan tuduhan sebagai pribadi urakan. Mungkin hardikan juga akan saya berikan dengan memberinya teror bahwa jalan hidup sepertiitu tidak akan membuahkan kebahagiaan. Namanya juga borjuis: kemapanan adalah segalanya.

Begitulah pertarungan terjadi antara anak muda yang bohemian dengan orang-orang tua borjuis. Ini bukan pertarungan baru. Jenis pertarungan ini telah dimulai sejak Benjamin Franklin menganjurkan kerja dan Flaubert yang menganjurkan membuat kerajinan.

Rahmat Petuguran
Borjuis di awal bulan, bohemian di akhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.