M Satria Nugraha, Pengusaha Gitar Berorder Rp3 M

M. Satria Nugraha sebetulnya tak mewarisi darah pengusaha dari kedua orang tuanya. Ayahnya seorang dokter dan berharap ia pun mengikuti jejaknya menjadi dokter. Namun, pria yang akrab dipanggil Hanung ini tak berminat. Sejak SD, ia menunjukan hasratnya pada musik, khususnya gitar. Ketika duduk di bangku SMP, ia kerap ingin main band bersama teman-teman.

“Kepengen-nya sih jadi musisi, tapi enggak kesampaian,”€ ujarnya sambil tertawa. Meski berasal dari keluarga dengan latar belakang pendidikan tinggi, Hanung mengaku kehidupannya tak berlebihan. Karena itu, ia tak berani meminta uang untuk membeli hal-hal yang mungkin akan dianggap tidak penting, termasuk gitar. Jadi, ia hanya bisa meminjam gitar temannya.

Hanung, demikian nama panggilan lelaki 27 tahun ini, terpilih sebagai wirausahawan muda terbaik pada Dji Sam Soe Award 2009. Selain mengarungi pasar nasional, gitar stranough sudah dieksport ke Belanda, Australia, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Amerika. Pabriknya yang berlokasi di Sindanglaya, Kabupaten Bandung Timur, memproduksi 250 buah gitar per-bulan. Omzetnya kini mencapai Rp 3 milyar per tahun.

Ketika lulus SMA pada 2000, Hanung memutuskan ingin kuliah di Bandung, dimana pun sekolahnya. Ia tertarik karena Bandung kota kreatif. Hanung kemudian kuliah di Teknik Industri di Institut teknologi Nasional (Itenas). Saat kuliah, ia belum juga memliki gitar, di sisi lain, Hanung seorang yang idealis dan mau serba yang terbaik. “Harga gitar yang saya mau Rp19-an juta. Ha-ha-ha….,” ujarnya.

Gitar itu mahal karena termasuk artist series. Ia kemudian minta uang kepada orang tuanya. Tentunya, ia tidak bilang mengenai harga gitar impiannya itu. Berapa saja yang mau diberikan orang tuanya, ia terima. Ternyata orang tuanya memberinya dana Rp 2 juta.

Hanung kemudian banyak melakukan riset lewat internet tentang bermacam spesifikasi gitar. Ia benar-benar ingin memaksimalkan uang yang dimilikinya untuk mendapatkan yang terbaik. Setelah hampir setahun meriset, Hanung akhirnya mendatangi sebuah tempat perajin gitar di Bandung.

Tempat itu sangat sederhana dan pengerjaannya dilakukan secara tradisional. Ia memaparkan spesifikasi gitar seperti apa yang diinginkannya. Para perajin itu kaget karena Hanung ternyata tau lebih banyak dari mereka.

“Mereka selama ini hanya membuat gitar dan servis secara tradisioal sesuai dengan yang diwariskan dari kakeknya secara turun menurun. Bayarannya untuk sevis saja kadang cuma rokok. Jadi, keterampilan mereka seperti tidak terlalu di hargai,” ujar Hanung.

Melihat kondisi itu, Hanung terpikir untuk menjadikannya sebagai bisnis yang lebih profesional. Iseng-iseng ia menawari perajin itu bekerja dengannya dan nanti ia pula yang menjualkan. Tak di sangka, para pengrajin itu setuju. ”Saya juga kaget ketika mereka mau. Tapi ya sudahlah, kenapa tidak seriusi saja,” kata Hanung.

Pada 2003, ia mulai membuat rencana bisnis. Masalahnya ia tak punya modal. Hanung pun kembali menghubungi orang tuanya untuk minta bantuan dana. Ketika ia bilang mau berbisnis membuat gitar, orang tuanya tak setuju dan serba ragu akan pilihan itu.

Setelah beberapa waktu, ia kembali membujuk orang tuanya. Kali ini ia mengatakan butuh dana untuk belajar sesuatu yang tidak bisa diperolehnya dari bangku kuliah. Akhirnya, orang tuanya melunak dan memeberinya uang Rp 7 juta.

Berbekal uang itu, Hanung menyewa sebuah rumah kecil di kawasan Jalan Suci, Bandung.

”Rumahnya seperti kandang kuda, kecil dan semua terbuat dari kayu,” ujanya mengenang. Lantai duanya disewakannya lagi untuk kos-kosan, sedangkan lantai dasar untuk usaha gitar. Proses produksi dilakukandihalaman belakang rumah.

Hanung memulai usahanya bersama tia orang perajin. Di masa-masa awal usahanya, ia hanya mendapat pesanan satu gitar per bulan. Hanung kemudian melakukan pemasaran melalui internet secara lebih serius, apakah itu melalui website ataupun komunitas-komunitas musik. Pertumbuhan usahanya masih merangkak pelan.

Awal 2005, barulah Hanung mendapat e-mail dari calon pembelidi Singapura, Australia, dan Belanda. Sejak awal, Hanung telah menjelaskan bahwa usahanya kecil dan belum pernah menerima pesanan dalam jumlah besar.

Ternyata pembeli dari Belanda tampak serius. Mereka minta dibuatkan gitar dengan spesifik tertentu. Hanung membuatnya sesuai dengan permintaan dan mengirimkan fotonya. Ternyata mereka suka dan minta dikirimi sampel aslinya ke Belanda.

Waktu itu, Hanung betul-betul tak tahu seberapa nyata pembeli dari Belanda itu. Namun ia nekat saja mengirimnya dengan paket kiriman luar negeri. “Setelah itu, saya telepon bapak dan bilang, eh saya sudah jual gitar ke luar negeri, lho. Padahal waktu itu saya juga belum tahu apa akan dibayar apa tidak,” ujar Hanung sambil tertawa.

Sikap optimisnya itu ternyata berbuah manis. Sebulan kemudian, perusahaan dari Belanda itu kembali mengirim e-mail. Mereka menyatakan sangat senang dengan sampel gitar yang dikirim dan ingin menjajaki kerja sama lebih jauh.

Lagi-lagi dengan jujur Hanung menceritakan kondisi usahanya yang memang masih kecil. Karena sudah kadung jatuh cinta dengan gitar Stranough, bos besar perusahaan Belanda itu datang langsung ke Bandung untuk mengecek sendiri bengkel produksi stranough. ”Ia terkejut melihat tempat saya yang kecil,” kata Hanung.

Pertemuan itu ternyata berhasil mencapai kesepakatan akhir. Perusahaan dari Belanda melakukan pemesanan pertama 250 gitar. Itulah order besar pertama yang di peroleh Stranough. Bertepatan dengan itu, Hanung sedang mengerjakan skripsi. Ia sempat bingung menentukan prioritas. Pada akhir 2005, ia berhasil membereskan keduanya, pesanan gitar dan skripsi.

Hasil keuntungan order itu cukup besar. Hanung pun makin mantap menekuni bisnisnya. Apalagi kewajiban morilnya untuk menyelesaikan kuliah sudah ia penuhi. Ia kemudian bisa menyewa rumah yang sedikit lebih besar sebagai tempat usaha.

Tak ingin setengah-setengah, Hanung membeli mesin Computer Numerical Control (CNC) untuk memuat body gitar secara terkomputerisasi. Harga mesin itu di atas Rp 100 juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.