Lion Mom – Catatan ke-4 Harjanto Halim

Kami sekeluarga transit di Singapore beberapa hari, sebelum meneruskan perjalanan libur Lebaran ke Taiwan. Kami panggil taksi untuk ke Bandara Changi. Taksi datang, dan sopirnya ternyata…, cewek! Perempuan India. Saya duduk di depan, ngobrol dengannya. Omong punya omong ternyata si Ibu sopir mantan pramugari Garuda!

Hah?? Yg bener..??
“You were a stewardess?”
“Yes.”

Saya melirik untuk memastikan ulang. Kulitnya memang terbilang manis, sawo matang. Hidungnya mancung terarah, matanya besar berbinar. Sisa-sisa kecantikan dan keanggunan masih tergurat melalui sapuan make up tipis dan rambut yang digelung rapi. Perkiraan sekilas, si Ibu masih lolos tes pramugari.

Tidak hanya wajah dan tutur katanya yang bikin saya terpana, tapi caranya bicara yang penuh percaya diri. Bahasa Inggrisnya terdengar intelek, meski berlumur logat Singlish, Singapore english. Ia mengisahkan kariernya mulai dari pramugari hingga jadi sopir taksi. Ia bercerita tanpa beban, seolah itu sebuah keniscayaan; seakan yang ia jalani adalah sebuah misi mulia.

Ia punya dua anak, laki-laki dan perempuan. Dua-duanya kuliah di NUS, National University of Singapore, sebuah universitas yang sangat bergengsi di Singapore. Dua anaknya lulus ujian A-level dengan bertaburan nilai A. Hmm…., sebuah kebanggaan tak terperi terpancar di wajahnya.

Saya berkomentar, “You must be very smart…, and your A-Level must be very good…”

Si Ibu terdiam sejenak. “I didn’t go to Uni…,” ujarnya dengan suara tersendat.

Lalu si Ibu bercerita. Ia dari keluarga kurang mampu. Penghasilan ayahnya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Sebagai anak tertua, akhirnya ia memutuskan keluar di tengah persiapan ujian A-level yang tengah ia hadapi. Ia melamar kerja jadi pramugari untuk membantu membiayai sekolah dan kuliah ketiga adiknya. Kini adik-adiknya sudah jadi sarjana semua, bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Mereka semua, hingga hari ini berterimakasih pada sang Kakak yang telah berkorban. Namun ia selalu menjawab, “It’s my duty as the eldest…”

Saya terdiam. AC mobil berhembus pelan. Saya memberi kode ke isteri yang duduk di belakang, agar si Tengah, putra kedua kami, mencopot earphone yang sedari tadi nempel di telinganya. Si Tengah cemberut, saya diamkan. Ini pendidikan yang baik didengar, penuh petuah yang hidup.

“I don’t have the heart to see Papa works alone, day and night by himself, trying to make the ends meet… Somebody has to sacrifice to help him…”

Hmmm, sebuah kesadaran isa rumangsa, yang kini semakin langka.

“….but I’m very happy with what I did, and now both my kids are also in the university…”

Ia tersenyum. Sebuah kebanggaan yang patut dan bermartabat.

“But why you become a taxi driver?”

Jan gumun tenan aku.

“I know the day will come when I have to be on the side of my kids…, and that’s when my daughter was preparing for her A-level exam…”

Ia pun memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pramugari yang ketat tuntutan jadwalnya dan menjadi sopir taksi agar bisa mendampingi putrinya menghadapi ujian A-level. Hasil ujian A-level sangat menentukan universitas yang akan menerima. Makin bagus hasilnya, makin bagus universitasnya.

Lalu kenapa supir? Saya masih tidak rela, dengan tata wajah dan tata bahasa se-apik itu, dia punya banyak opsi.

“Actually I want to open a bakery…”

Oo, mau buka toko roti. Nah, itu agak memper.

“But I didn’t have enough money to rent a place…”

Tapi karena terbentur biaya sewa yang tidak terjangkau, ia memutuskan jadi sopir taksi.

“The schedule is very flexible. I also have the chance to know all the streets, and…, I can drive my son and daughter to school…, for free…”

Hahaha. Betul juga ya, bisa untuk nyambi antar jemput.

Awalnya anak lakinya malu mengakui kalau mamanya sopir taksi. Tapi suatu hari, putranya berkata sambil memegang tangan mamanya, “On my graduation, I will tell everybody that my mom is a taxi driver…, and I AM VERY VERY PROUD OF HER..!”

Kalau Amy Chua adalah ‘Tiger Mom’ di Amerika, maka sopir taksi yang mengantar kami ke bandara Changi adalah ‘Lion Mom’ made in Singapore. Good job Lion Mom!

Saya tercenung. Jika kita yakin, benar-benar yakin dengan keputusan kita, sepenuh hati menjalani peran, kita tidak akan merasa malu. Kita tidak merasa takut. Semua kita jalani dengan penuh tekad. Sebuah pengorbanan kadang terasa berat dan sarat bersimbah airmata, tapi jika tekad sudah bulat, tidak sekalipun membebani atau mematahkan asa. J

ika kita merasa ragu atau malu, artinya kita masih separuh hati. Tekad yang tulus tanpa ego; indah dan hangat, dan di penghujung hari kan bertebaran rasa terima kasih tak berkesudahan. Tegaklah, mantaplah, lakoni peran apapun yang telah kau sepakati sepenuh hati, setulus tulusnya.

– Harjanto Halim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.