Lima Pertanyaaan Merepotkan yang Sering Terlintas di PIkiran Wisudawan

Bagi mahasiswa, wisuda adalah salah satu momentum paling dinanti. Wisuda semacam Idul Fitri yang dirayakan setelah puasa panjang. Kegembiraan tampak di mana-mana, senyum ceria menyeringai dari siapa saja, bahkan kerap ada bunga aneka rupa.

Kebahagiaan jadi making lengkap karena saat wisuda kamu akan didampingi orang-orang tercinta. Seseibuk apa pun, mereka akan datang menemani kamu. Bahkan, kadang-kadang mereka lebih heboh dari kamu sendiri.

Untuk yang punya pacar, saat wisuda pacar kamu juga akan datang. Dia akan dandan sebaik mungkin: hanya buat kamu. Romantis kan?

Di tengah kegembiraan itu, ada 5 pertanyaan reflektif yang patut kamu pertanyakan pada diri sendiri. Kadang ini cukup mengganggu, tapi pertanyaan itu muncul begitu saja.

1. Sudah Jadi Sarjana, Besok Mau Kerja Apa?

Bagi saya, seideal-idealnya orang yang mau wisuda adalah yang pamit dengan karyawannya. “Saya akan cuti sehari wisuda, tolong urusan kantor dihandle semua ya?” Itu berarti, kita diwisuda setelah jadi bos.

Kalau itu terlalu sulit, wisudawan yang baik adalah yang izin cuti dengan bosnya. “Pak/Bu, besok saya diwisuda. Saya izin tidak masuk kerja sehari.” Itu berarti, kamu diwisuda setelah kerja.

Nah, kondisi paling tidak ideal jelang wisuda adalah saat kamu benar-benar menunggu wisuda sambil tidak melakukan apa pun. Urusan kuliah sudah selesai, tapi kamu belum punya aktivitas. Akibatnya, dari hari ke hari kamu Cuma ngeliat tanggalan yang sudah kamu lingkari dengan tulisan: WISUDA.

2. Cukupkah Handalkah Aku Bertarung di Luar?

Di kelas kamu mungkin tampak cemerlang. Kamu juga punya reputasi yang baik di kampus. Bukan hanya dari para dosen, tapi juga mahasiswa lain.

Tapi, apakah itu berarti kamu siap bertarung di luar. Sebab, di dunia professional ada hukum-hukum yang sama sekali berbeda dengan hukum “pertarungan” di kampus.

Agar tidak kaget, ada baiknya kamu kenali karakter dunia professional sejak awal. Tidak cukup lewat Program Kuliah Lapanga (PKL), kamu juga perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang.

3. IPK-nya di Atas Tiga, Diperoleh dengan Cara Baik Gak ya?

Berapa IPK-mu? Wah, 3,7. Hebat! CItu berarti, kamu dianggap rata-rata atas.

Nah, coba ingat-ingat apakah IPK setinggi itu sudah merepresentasikan karaktermu? Apakah kemampuan komunikasi, argumentasi, dan analisismu juga “rata-rata atas”?

Pada akhirnya, kualitas seseroang ditentukan oleh caranya memahami dunia. Bukan oleh angka kauntitatif yang tertera diijazahnya kan? Pada akhirnya, kualitas seseroang ditentukan pada caranya berkomunikasi. Bukan oleh IPK yang diperoleh dengan nyontek.

4. Ijazah sudah di Tangan, Ilmunya Mau Diapakan?

Sarjana itu masyarakat terdidik. Dalam piramida kelas sosial, dia ada di puncak. Kedudukan sosialnya mungkin sama dengan para kyai dan pendeta. Tapi, apakah para sarjana siap mengamalkan ilmunya?

Kamu mungkin sudah belajar psikologi sosial, tapi belum tentu kamu mau datang ke kumpulan RT di kampung. Kamu mungkin alumni lulusan biologi, tapi belum tentu bisa tanam pohon mangga sebaik bapakmu.

Di kampus, mahasiswa sebaiknya tak puas belajar “tentang”. Lebih dari itu, sejak awal mahasiswa juga perlu belajar “membuat” dan “menjadi”.

5. Mau Ikuti Passion atau Ambil Jalan Aman Aja?

Kamu jurusan kimia, tapi sejak punya band di kampus kamu malah suka music. Setelah lulus, mau karier di bidang kimia atau music ya?

Kamu mungkin alumni jurusan olahraga, tapi kamu tidak punya kecintaan yang melebihi kecintaanmu pada fotografi. Harus jadi pelatih olahraga atau jadi fotografer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.