Lebaran, Warga Semarang Padati Pusat Keramaian Tak Pedulikan PKM yang Berlaku

Semarang –  Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kota Semarang diperpanjang hingga 7 Juni 2020, hal tersebut diungkapkan Walikota Semarang Hendrar Prihadi dalam laman postingan sosial media Instagram yang diunggah pada Kamis (21/5/2020). Hendi juga mengungkapkan bahwa unit operasional informal seperti PKL yang selama ini tutup pukul 20.00 malam diberi waktu hingga pukul 21.00 malam. Hal tersebut sebagai upaya perlahan Kota Semarang untuk masuk pada situasi “New Normal” namun belum bisa langsung secara normal.

Berdasarkan pemantauan, menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, pusat kota semarang dipadati pengunjung. Hal itu terlihat di Kawasan perbelanjaan dan pertokoan di daerah Tlogosari, Semarang Timur terutama pada malam hari. Warga berbondong-bondong memadati kawasan tersebut untuk berbelanja kebutuhan lebaran atau sekedar menghilangkan kejenuhan akibat terlalu lama dirumah. Pedagang kaki lima (PKL) juga terlihat berjejer-jejer menawarkan dagangannya. Warga seolah tak pedulikan imbauan pemerintah untuk menghindari kerumunan dan keluar rumah seperlunya.

Sementara itu, para remaja juga terlihat memadati kedai angkringan disekitar kawasan Bangetayu, Genuk. Bahkan banyak dari mereka yang tidak menggunakan masker sebagai antisipasi penyebaran Covid-19 ini. Mereka tidak mempedulikan himbauan pemerintah tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) yang diperpanjang.

“Sejak 2 hari yang lalu angkringan saya ramai karena lebaran, apalagi malam takbiran kemarin saya sampai harus panggil sodara dan anak saya untuk membantu karena kuwalahan. Petugas juga gak dateng buat razia padahal biasanya jam delapan lebih udah ada sirine biru. Ini malah semalem saya tutup sampe tengah malem,” ujar Rosyid (46) penjaga kedai angkringan di Bangetayu, Senin (25/5/2020).

Di kedai lain Linda (36), penjaga kedai angkringan “Pojok” mengungkapkan bahwa kedainya tetap ramai walaupun ada wabah Covid-19 dikarenakan anak-anak sekolah libur sehingga kedainya tetap ramai walaupun harus tutup lebih awal, ia mensiasati hal tersebut dengan membuka kedai lebih awal. Petugas yang biasanya merazia juga tidak ada dari kemarin.

“Pendapatan sih lumayan menurun sekitar 30-40% tapi tidak setiap hari, saya buka lebih awal walaupun resikonya jadi lebih capek,” ujar Linda.

 

[Aditya Lutfi Nanda Prasetya]
Berita ini merupakan hasil belajar peserta mata kuliah jurnalistik Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.