Kurikulum Terlalu Padat, Karakter Terabaikan

PENANAMAN berbagai nilai positif bagi anak dan remaja belakangan ini amat minim karena kurikulum pendidikan nasional terlalu padat. Anak-anak dijejali kurikulum laksana robot, diberi banyak tugas, akhirnya menjadi phobia terhadap sekolah dengan berbagai macam alasan dan tidak ada kesempatan bagi orangtua atau pendidik untuk menanamkan nilai-nilai positif.

Demikian salah satu kesimpulan seminar nasional psikologi bertema “Peran Pendidik, Psikolog, Orangtua dalam Penanaman Nilai-Nilai bagi Anak dan Remaja” yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang di aula kampus Jl Raya Kaligawe Km 4, Sabtu (21/5).

Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, Dr Seto Mulyadi mengatakan, banyak orangtua salah menafsirkan. Seorang anak disebut cerdas jika pintar matematika daripada menggambar, menari, atau menulis. Bakat anak yang beragam justru harus dihargai, karena tiap anak ada keunikan masing-masing. Dicontohkan, orang-orang ternama seperti Albert Einstein, Mozart, Maradona dan Pablo Picasso, mempunyai talenta di jalur bakatnya masing-masing.

“Parahnya, pada era globalisasi ini komunikasi antara orangtua dan anak semakin dangkal. Selain akibat gempuran budaya visual, kenyataan ini diperparah oleh kecenderungan pengalihan tanggung jawab pengasuhan anak kepada lembaga pendidikan formal. Akibatnya, anak tidak terbiasa berdialog dan kehilangan kreativitas,” kata mantan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak itu.

Dikatakan, kurikulum pendidikan nasional harus mengacu pada kompetensi dan standar kelulusan yang berbasis Ramah Anak. Formula ini merangsang kecerdasasan anak, yaitu kecerdasan angka, kata, gambar, musik, tubuh, teman, diri dan kecerdasan alam. PortalSemarang.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.