Kritiklah Mojok, Kau Kan Terpojok

Ada diskusi seru di antara kawan-kawan pembaca media online. Salah satu media nge-hits abad ini, Mojok.co, dikritik sebagai simpatisan Freeport. Dari situ, muncul tuduhan lanjutan bahwa media ini turut melestarikan penindasan terhadap Papua. Ini tuduhan serius, sama seriusnya dengan tuduhan papa minta saham yang dipernah dialamatkan kepada Setya Novanto. 🙂

Kritikan bersumber dari Yasir Dayak. Lewat tulisan berjudul Surat Peringatan untuk Mojok.Co, Yasir mengungkapkan kontribusi Mojok terhadap acara seni Art Jog. Event seni ini ditengarai menerima dana dari Freeport, perusahaan yang dalam memori kolektif banyak orang di Indonesia telanjur dipahami sebagai “perusahaan asing pengeduk kekayaan Papua”.

Nah, dari sinilah, diskusi bergulir dengan apik. Semakin hari semakin menarik karena kedua pihak itu memiliki argumentasi yang sama-sama diterima. Dan lebih seru lagi, ternyata kedua kubu ini memiliki pendukung masing-masing. Ada yang mendukung dengan menyuplai wacana tandinga. Ada yang mendukung layaknya juru sorak yang berisi dari tepi lapangan.

Yasir Dayak mendapat dukungan dari literasi.co, media yang selama ini banyak mengulas gerakan perlawanan ibu-ibu Kendeng dan Urutsewu. Tulisan Yasir juga banyak dibagikan oleh pegiat Rumah Buku Simpul Semarang, komunitas baca dan tulis yang pegiatnya juga banyak mengulas perjuangan ibu-ibu Kendeng.

Di kubu lain, Mojok tampaknya sudah menyiapkan barisan. Sang pemimpin redaksi Eddward S Kennedy membentuk tembok betis dengan Puthut Ea. Eddward menyerang balik Yasir via Facebook. Adapun Ea yang konon ditahbiskan sebagai ketua suku di komunitas itu turun dengan menerbitkan tulisan bernada olok-olok “Gerakan Kiri Kekimcil-kimcilan”.

Media dan Uang

Saling serang antara Yasir Dayak (dan lingkrannya) dengan Mojok (dan lingkarannya)  menarik diikuti. Dua pihak itu seperti sedang memainkan tenis meja. Satu pihak melancarkan serangan, diterima untuk kemudian dikembalikan sebagai serangan kepada pihak lainnya. Tik! Tok! Tik! Tok! Tik! Tok!

Bagi saya yang berada di luar lingkaran keduanya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Ciri orang saleh seperti saya memang begitu: mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Karena itulah, saya menuliskan ini. Siapa tahu tulisan ini bermanfaat bagi umat, bisa menambah pahala puasa Ramadan saya. Hahaha.

Salah satu pelajaran paling penting dari perdebatan ini adalah tentang peran uang dalam pengelolaan media. Jika Mojok memang menulis endorsment untuk Art Jog karena menerima uaang, itu semakin membuktikan bahwa uang adalah nilai tukar yang digemari siapa saja. Tapi simpulan itu hanya akan berlaku jika tuduhan bahwa Mojok menerima yang dari Art Jog dan Freeport terbukti.

Uang itu penting bagi anak muda di mana pun berada. Anak muda dungu yang bangga dimobilisasi untuk gerakan kanan itu suka uang. Anak muda tukang baca buku yang bisa berakrobat kata lewat tulisannya, juga suka uang. Yang membedakan keduanya, anak muda pembaca buku selalu bisa membuat uang yang diterimanya tampak terhormat.

Makanya, kalau ada orang yang bilang “Saya tidak butuh uang”, maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia mungkin orang suci. Kemungkinan kedua, dia mungkin orang yang merasa dirinya suci.

Bagi saya, tuduhan yang dialamatkan Mojok hari ini mustinya bisa digunakan untuk menjelaskan kepada pembacanya bagaimana media itu bekerja, termasuk dengan dana dari mana mereka bekerja. Benarkah, dengan nominal tertentu, seseorang bisa memesan tulisan kepada redaksi?

Mojok, saya kira, juga perlu berikitad baik menjawab tuduhan di luar yang menyebut bahwa media itu disponsori Dja**m. Uang dari perusahaan rokok itu, itulah yang konon membuat Mojok menjadi salah satu pembela rokok paling militan. Baca saja tulisna-tulisan tentang rokok yang diterbitkan para penulis Mojok itu.

Karena itu bukan dana publik, Mojok memang tidak punya kewajiban membuat laporan kuangan kepada pembaca. Tapi saya kira, Mojok bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk membuatnya menegaskan bahwa dirinya bukan media profit oriented, yang menulis semata-mata untuk uang.

Penjelasan Mojok itu akan membuat media itu tampak ksatria, sama kstarianya dengan Satpol PP Kota Serang yang berani menggelar konferensi pers pascatragedis razia. Tapi Mojok juga tidak harus menjadi kstaria juga kok. Dengan jaringan dan pengaruhnya, dia bisa defensif sambil memojokokkan pengkritiknya. Misalnya, dengan mengeluarkan artikel ad hominem untuk membuat kritikusnya cuma aktivis kiri kekimcil-kimcilan.

Tapi jika sikap kedua yang diambil,  saya sendiri khawatir para pembaca Mojok akan mengira bahwa media itu sama dengan media online lain yang money oriented. Tidak bisa dibayangkan kalau Mojok dipersepsi sama dengan portalpiyungan.com atau pos-metro.com, dua media yang selama ini eksis dengan slogan “Kami ada untuk uang.”

Media Penglipur Lara

Perdebatan tentang Mojok mungkin telah menjadi panggung. Di panggung yang tak diskenariokan, setiap orang boleh berebut menjadi protagonis. Maka, baik Mojok maupun mapun Yasir Dayak yang menyerangnya, bisa sama-sama mengakhiri konflik ending sebagai hero.

Saya sendiri berharap kritikan Yasir dianggap sebagai bahan masukan bagi redaksi Mojok untuk membuat pengaruhnya kian kuat. Meskipun saya tidak selalu suka dengan penulis-penulisnya yang genit, saya senang media seperti itu tetap eksis. Pasalnya, cuma media seperti Mojok yang punya itikad kuat menjadi penglipur lara anak muda.

Mojok telah berjasa besar bagi bangsa Indonesia. Berkat Mojok, pria-pria bertampang aduhai seperti Agus Mulyadi bisa tampak keren dan memiliki banyak fans. Ini pesan yang sangat penting bagi jutaan pria bertampang aduhai lain di Indonesia.

Tapi, kalau Mojok justru menunjukkan tabiatnya sebagai media yang profit oriented, saya sebagai pemabca akan kecewa. Meski saya tahu, menjadi media yang profit orented tidak benar-benar salah, tetapi itu akan membuat Mojok sama dengan media lain. Tidak ada istimewanya. Kalau sudah begitu, wassalam!

Rahmat Petuguran
Butuh uang untuk mudik lebaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.