Kota Kenangan, Antara Tagline dan Karya

APA pun tagline-nya, karya nyata harus mengikuti. Ketika Plt Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan keinginan agar Semarang menjadi Kota Kenangan, maka persoalan sebenarnya bukan pada perbincangan apakah tagline itu cocok atau tidak menggantikan yang sebelumnya.

Tagline tersebut hanya sebagai benchmark ke mana sebenarnya arah pembangunan Kota Lunpia. Sebelumnya telah dicanangkan Semarang Kota Atlas, Semarang Pesona Asia, Saat Semarang Setara, dan terakhir Semarang Kota Kenangan.

Keprihatinan sebagai kota genangan karena banyak daerah terkena rob dan banjir merupakan langkah awal yang perlu ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Dan aksi itu sudah dan sedang berlangsung dengan adanya banyak penataan di berbagai sudut kota.

Langkah yang menitikberatkan kebijakan anggaran pada upaya pembangunan untuk mengatasi masalah banjir dan rob patut diapresiasi. Warga menyaksikan berbagai upaya Pemkot, antara lain dengan normalisasi sungai, pembangunan waduk, dan membangun saluran drainase.

Kini kita bisa menikmati hasil normalisasi berupa sebuah area publik sepanjang 9,2 km dari Tugu Suharto sampai muara yang tertata apik serta sebuah sungai yang layak sebagai kanal arus air. Lingkungan yang lebih nyaman dari banjir juga sekarang sedang dalam pengerjaan, yakni dengan peningkatan sejumlah saluran seperti di Kali Es, Pasar Johar, MT Haryono, kawasan Bubakan, Jalan Agus Salim, kawasan Simpanglima, Jalan Imam Bonjol, dan pembangunan long storage di kawasan Kampung Kali. Harapannya Semarang lebih nyaman ditinggali dan disinggahi.

Dukungan juga perlu diberikan kepada penyelenggaraan berbagai event nasional maupun internasional yang menonjolkan potensi daerah. Berbagai program tahunan seperti Festival Pandanaran, Dugderan, Kampung Semawis, Semarang Night Carnival,  dan Semarang Great Sale perlu terus diangkat dan gencar dipromosikan. Kegiatan semacam ini akan melengkapi potensi wisata statis seperti Kawasan Kota Lama, Pecinan, Kampung Melayu, Kampung Kulitan, Lawang Sewu, Klenteng Sam Po Kong.

Kita menyarankan Pemkot untuk memperbanyak kawasan-kawasan kunjungan belanja khas yang bakal menjadi identitas kota. Seperti diketahui wisata belanja merupakan potensi yang perlu dikembangkan.

Selain mewadahi pengusaha lokal,  kawasan seperti ini juga menjadi daerah kunjungan wisata yang pasti bakal menjadi kenangan. Kalau bicara Bandung, maka tak mungkin melupakan Cibaduyut dan Cihampelas. Di Yogyakarta kita selalu mengingat Jalan Malioboro dan Pasar Bringharjo, atau Solo dengan Pasar Klewer.

Kawasan belanja itu bisa dipakai untuk lebih mempromosikan produk tradisional dan unggulan daerah. Selama ini tamu dari luar kota kebanyakan hanya tahu dan terpusat di Jalan Pandanaran untuk mencari oleh-oleh khas Semarang dan sekitarnya. Pemkot perlu lebih memfasilitasi kawasan lain untuk menjadi daerah tujuan wisata belanja.

Misalnya saja Jalan MT Haryono yang saat ini banyak penjual lunpia dijadikan pusat makan dan jajan lunpia atau makanan khas Semarang lain.Kawasan-kawasan ini bisa jadi identitas kota yang akan dikenang wisatawan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.