Konsiparasi di Tengah Kepercayaan Masyarakat

Oleh : Arief Yudhananto Nugroho

Konspirasi semakin marak dalam masyarakat. Banyak Asumsi mengenai konpirasi tersebar dalam masyarakat. Akhir akhir ini konpirasi menjadi perbincangan hangat dalam masyarakat khususnya konspirasi tentang virus Corona atau Covid 19. Dalam konpirasi ini beranggapan bahwa terdapat seseorang atau kelompok rahasia yang memiliki kekuatan dan kontrol dalam kepentingan yang bertujuan untuk mencari keuntungan pribadi..

Adanya konspirasi membuat masyarakat menciptakan dan mempercayai adanya common enemy. Adanya hal tersebut dalam kepercayaan masyarakat membuat masyarakat merasa spesial dalam lingkungan, mengontrol rasa aman, dan menginginkan kepastian. Konspirasi ini memiliki beberapa faktor khusus.

Goertzel menjelaskan dalam konspirasi terdapat monological belief system dimana rasa percaya dalam sistem tersebut menutup diri dan menyebarkan jaringan ide yang menguntungkan satu sama lain antara sesama pengikut konspirasi. Mereka cenderung membatasi diri dan mempunyai hubungan kuat antar pengikut (Douglas, 2019:7). Dalam hal seperti ini seharusnya perlu pendekatan khusus untuk membuat pengikut teori konspirasi untuk lebih membuka pikiran akan realita yang ada dalam masyarakat.

Demografis juga menjadi faktor mengapa banyak masyarakat mempercayai konspirasi. Masyarakat dengan tingkat Pendidikan rendah dan penghasilan rendah cenderung mempercayai konspirasi. Hal tersebut juga didukung dari survei yang dilakukan oleh Freeman dan Bentall. Dalam hasil survei tersebut orang yang menpercayai konspirasi cenderung orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah, penghasilan rendah dan pengangguran (Freeman & Bentall, 2017:597).

Tingkat pendidikan yang rendah inilah cenderung mengakibatkan kurangnya literasi dalam cara berpikir. Pendidikan dapat membentuk tingkat kognitif dan afektif yang lebih tinggi untuk menolak konspirasi (Douglas, 2019:10). Selain itu tingkat ekonomi rendah cenderung membuat masyarakat tidak mendapatkan fasilitas untuk mencari informasi lebih dalam dan detail sehingga mereka hanya menciptakan asumsi mereka sendiri.

Pendidikan adalah upaya untuk mencegah orang mengadopsi konspirasi. Perlu literasi yang kuat untuk mencegah konspirasi terus berkembang. Dengan literasi yang kuat masyarakat tidak akan menelan mentah mentah teori konspirasi yang ada dan akan cenderung mencari bukti terlebih dahulu.

Dalam motif sosial masyarakat cenderung ingin dipandang secara positif oleh lingkungan atau masyarakat lain. Orang yang mengikuti konspirasi akan cenderung merasa sepesial, langka dan memiliki informasi yang tidak dimiliki orang lain. Konspirasi cenderung digunakan dalam masyarakat kelas bawah dibandingkan kelas atas (Douglas, 2019:4). Mereka cenderung menggunakan konspirasi untuk mengangkat status mereka supaya lebih dipandang sebagai orang yang memiliki informasi lebih dibandingkan masyarakat lain.

Adanya krisis dan masalah juga dapat membuat rasa percaya pada konpirasi meningkat. Rasa terancam dan tidak dalam lingkungan aman akan membentuk konspirasi untuk berkembang. Dalam posisi ini, penggunaan teori konspirasi hanya menjadi pembenaran dalam suatu situasi yang tidak menguntungkan.

Cara berpikir tersebut harus segera dihindarkan. Konspirasi tidak akan membuat suatu keadaan menjadi lebih baik karena konspirasi masih sekedar asumsi yang hanya menimbulkan rasa aman tanpa disertai adanya fakta. Dalam hal lain konspirasi tanpa desertai fakta dan bukti nyata dapat merugikan orang lain karena dapat menyesatkan pemikiran orang lain.

Konspirasi memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Masyarakat masih membutuhkan asupan konspirasi sebagai pembenaran pribadi. Dengan adanya konspirasi yang semakin banyak menyebar diperlukan adanya literasi dan pemahaman dari berbagai pengetahuan. Cara berpikir kritis dibutuhkan untuk mencegah komsumsi konspirasi secara mentah mentah.

Hal yang paling penting supaya kita terhindar dari banyaknya asumsi dari konspirasi adalah mindset. Hal tersebut dapat kita gunakan untuk memilah konspirasi dengan cara memperbanyak literasi atau cara berpikir kritis. Mindset seperti inilah yang sangat dibutuhkan untuk masyarakat Indonesia sekarang.

 

[Arief Yudhananto Nugroho]

Artikel ini merupakan Latihan menulis di kelas jurnalisitk mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.