Konflik sebagai Berita, Berita sebagai Konflik

ADA dua pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat hubungan berita dengan konflik. Pertama, mendudukkan konflik sebagai berita. Kedua, mendudukkan berita sebagai konflik. Kajian untuk melihat hubungan kedua hal itu jadi sangat relevan karena belakangan ini dua hal itu berhubungan sangat erat.

Dalam pendekatan pertama, berita dinilai sebagai arena yang merekonstruksi konflik. Jurnalis menyarikan konflik yang menjadi objek liputannya menjadi berita. Konflik diposisikan sama seperti hal lain yang memiliki nilai berita, dan oleh karenanya menjadi perhatia jurnalis.

Dalam pendekatan kedua, berita dilihat sebagai bagian dari konflik itu sendiri. Berita dan konflik bukan dua variabel yang terpisah, melainkan saling mempengaruhi. Pemberitaan mempengaruhi konflik, dan konflik mempengaruhi pemberitaan.

Peneliti dari Cyprus University of Techonology, Dimitra L Milioni (2015), menunjukkan bahwa berita telah menjadi bagian penting dalam konflik menahun di Cyprus. Berita turut memperpanjang konflik karena fokus pemberitaannya pada konflik (conflict oriented), bukan pada solusi (solution oriented). Model pemberitaan itu mempertajam friksi antara dua (atau lebih) kelompok yang sedang berkonflik sehingga persoalan menjadi semakin rumit.

Menurut Milioni, berita kerap kali mempertegas batas antara Kita (Self) dengan Mereka (Other). Media (terutama partisan) membuat dua entitas itu dalam dikotomi yang sangat mendasar: baik-jahat, madani-barbar, humanis-evil, dan deskripsi lainnya.

Selama ini jurnalis memiliki ketertarikan dasar untuk mengulas konflik sebagai salah satu objek berita. Konflik memiliki keunggulan nilai berita karena dapat menarik perhatian publik. Ada suspense (ketegangan) dalam berita tentang konflik yang membuat penonton betah berlama-lama mengikutinya.

Ketertarikan penonton adalah jaminan bagi meningkatnya rating atau traffic. Adapun rating dan traffic adalah jaminan bagi meningkatnya pendapatan dari iklan. Skema ini membuat para jurnalis selalu tertarik memberitakan konflik, bahkan berpartisipasi agar konflik terus terjadi, sehingga ia bisa mengambil untuk sosial dan ekonomi darinya.

Dengan ungkapan yang vulgar, media berusaha membuat sesuatu yang wajar dapat ditampilkan sebagai konflik. Salah satu caranya adalah menempatka pendapat dari dua pihak yang berbeda seolah-olah bertentangan. Media berusaha membangun opini oposan dengan opini yang dibangun tokoh elit A. Ketika berkomunikasi dengan elit B, media juga bersifat oposan terhadapnya.

Selama ini media cenderung memberitakan kinerja elit (pejabat) yang gagal menangani masalah publik, atau melakukan tindakan tidak senonoh. Dengan memberitakan hal-hal itu, pada dasarnya, media membuat konflik karena menghadap-hadapkan elit (pejabat) dengan publiknya. Ketegangan antara pejabat dengan rakyatnya akan menjadi konflik itu sendiri.

Milioni menyebut, dalam memberitakan tentang konflik, media cenderung fokus pada friksi paling tajam dari konflik itu. jika diiabaratkan sebagai gunung berapi, jurnalis hanya fokus memberitakan bagian paling atas yang membara. Pada saat yang sama, jurnalis mengabaikan adanya usaha rekonsiliasi antara dua (atau lebih) pihak yang berkonflik itu.

Pemberitaan dengan cara demikian akan mempengaruhi persepsi dan perilaku publik (penonton). Mengutip An dan Gower, Melioni menyebutkan bahwa penelitian menunjukkan bahwa media memiliki kontribusi untuk mendefinisikan isu-isu kontroversial dan konflik sehngga mengendalikan persepsi penonton bahwa hal “yang diberitakan kontroversial” adalah memang “benar-benar kontroversial”.

Di Cyprus, katanya, pemberitaan telah andil melestarikan knflik menahun di negara itu. Jurnalis di televisi mainstream terlalu fokus mempersolkan perbedaan antara dua pihak yang berkonflik dan mengabaikan kemungkinan resolusi antarpihak itu. Dalam istilahnya: fueling disputes (mbensini konflik).

Kondisi demikian terjadi karena dua sebab utama: kompetisi dan komersialisasi. Dua hal itu mendorong jurnalis lebih fokus memberitakan aspek negatif dari sebuah peristiwa, misalnya isu politik. “Conflice-cenetered negativity is more marketable than positive news as it as more eye-cathcing, adds drama, stimulates interest, and is easy to understand even by uninformed audience.

Berita-berita demikian, dalam konteks di Cyprus, tidak hanya dilakukan oleh media abal-abal, tetapi justru oleh televisi mainstream.

Dari riset ini penonton di Indonesia patut belajar bahwa konflik tidak selalu konfli atau sebaliknya. Sangat mungkin, konflik hanyalah riak-riak yang diciptakan oleh jurnalis yang conflict oriented. Oleh karena itu, sangat penting untuk membatasi diri dan bersikap kritis terhadap berita yang kita baca.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.