Komunitas Hysteria, Istikamah Berkreatifitas

 

NAMAN komunitas itu Hysteria. Di Semarang dikenal sebagai kumpulan anak muda  menggeluti aneka kesenian. Komunitas berdiri pada 2005 bermula dari terbitan berupa buletin. Selebaran, diakui penerbitnya, berisikan tulisan-tulisan tentang puisi, cerpen, esai, propaganda dan kadang-kadang slogan-slogan tidak jelas. Kini mereka bertahan menjadi salah satu komunitas seni yang diperhitungan di Semarang.

Dilaporkan Suara Merdeka, tak mudah bagi Hysteria bertahan dan menjaga eksistensi sebagai sebuah komunitas seni. Apalagi di Kota Semarang yang pernah disebut sebagai ”kuburan” seni. Tapi hal itu tampaknya tak berlaku bagi Komunitas Hysteria.

Kelompok yang beranggotakan anak-anak muda itu, beberapa waktu lalu, merayakan ulang tahunnya yang keenam. Menempati salah satu joglo di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), perayaan itu diadakan dengan sederhana lewat obrolan seputar eksitensi mereka selama ini.

”Kami hadir semula lewat buletin sastra yang terbit rutin. Setelah itu agenda kami berkembang dengan mengadakan berbagai macam acara,” jelas Yuswinardi, salah satu pendiri Hysteria.

Hysteria kemudian harus diakui sebagai salah satu komunitas yang aktif menggelar berbagai acara kesenian.

Tak hanya kegiatan yang berbau sastra, mereka juga bersentuhan dengan berbagai berbagai jenis kesenian yang lain. Sekretariat mereka di daerah Sampangan sering riuh oleh kegiatan mereka selama ini.

Tapi pertanyaan yang mengemuka kemarin adalah seberapa besar dampak kehadiran mereka bagi kesenian di Semarang. Hal itu bisa dirangkum dari pendapat beberapa hadirin malam itu.

”Hysteria telah mendapatkan posisi tersendiri dalam dunia kesenian di Semarang. Apalagi bagi penulis-penulis muda yang sering diundang di sana,” ujar Widyo Leksono, seniman teater.

Sementara penulis muda, Galih Pandu Adi menambahkan, sebenarnya acara di Komunitas Hysteria memang cukup menarik. Sayangnya, kemasan acara tersebut sering terabaikan. Kesan yang bisa ditangkap, acara itu tak terselenggara dengan sungguh-sungguh.

Penulis Nugroho WU menyarankan, Hysteria untuk bisa menggelar acara yang lebih terbuka, di mana semua pihak bisa terlibat di tempat yang mudah dijangkau pula. Dia memberi contoh kegiatan kedai apresiasi yang pernah diadakan di TBRS beberapa tahun lalu.

Sementara itu, penulis Gunawan BS menilai Hysteria masih minder untuk terjun di blantika kesenian Semarang. Dia berharap, komunitas yang kini dimotori oleh Adin itu tak lagi bersikap seperti itu.

Lantas, bagaimana tanggapan aktivis Hysteria? Mungkin, status yang tertulis di akun Facebook milik Adin bisa menjawab. Status yang ditulis Selasa (29/9) malam itu berbunyi,”ulangtaun ke 6! kecil dan potensial!”. Demikian direktur Hysteria berpendapat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.