Kisah Rombongan Tukang Gali Kabel Instalasi

BANYAK cerita menarik tentang perantau yang coba mengais rizki di kota besar seperti Semarang. Kisah mereka menjadi narasi lain di tengah aktivitas warga yang sibuk. Rombongan tukang gali instalasi kabel optik ini salah satunya.

Kumandang adzan Maghirb terdengar dari Jalan Kelud Raya Sampangan. Sebuah kafe sudah menyalakan lampu hias berwarna kemerah-merahan. Saat itulah Saerozi dan Priyono sibuk menguruk sebuah lubang persis di pinggir jalan. Kaki, tangan, cangkul, bahkan baju yang mereka kenakan kotor terkena lumpur. Sabtu petang (4/12) kemarin Sampangan memang terguyur hujan, sehingga tanah galian jadi becek.

Saerozi dan Priyono adalah tukang gali saluran kabel optik. Mereka bekerja mulai pukul sepuluh siang tadi dan baru selesai menjelang Isya. Mereka tidak hanya berdua. Di titik lain ada 12 kawan mereka yang mengerjakan aktivitas serupa. Mereka berasal dari satu desa di Kecamatan Ndayang, Grobogan.

Syamsudin, ketua rombongan, bercerita, ia dan rekan-rekannya sudah tiga hari di Semarang. Total ada 14 pekerja. “Karena di rumah sawah belum musim dikerjakan kami kerja di sini,” ujarnya. Sambil menunggu pick up yang menjemputnya Syamsudin dan rekan-rekannya duduk di bawah pohon. “Anak saya juga ikut. Umurnya 16 tahun,” lanjutnya sambil menunjuk anak laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya.

Pekerja dari dusun Puluh, Ndayang, Grobogan ini memang hampir semuanya petani. “Tapi sawah kami sedikit,” Syamsudin menambahkan. Karena musim panen sudah selesai, sementara sawah sudah ditanami kedelai, mereka memilih bekerja di Semarang. “Siapa saja boleh ikut. Tidak pilah-pilih.”

Kardi, yang kini sudah berusia 52 tahun misalnya, memilih ikut karena di rumah tidak punya sawah. Sehari-hari dia bekerja membantu orang di pasar. Kakek satu cucu ini harus tetap bekerja karena punya banyak anak. Yang paling kecil bahkan masih berusia dua setengah tahun.
Menurut Sulis, salah satu anggota rombongan, mereka bekerja dengan sistem borongan. Mandor memerintahkan untuk menggali saluran sepanjang 25 kilometer. Biasanya, setiap meter dihargai seribu rupiah. Bayaran akan diterima setelah pekerjaan selesai. Hanya uang makan sebesar Rp 30 ribu yang mereka terima setiap hari. “Kadang-kadang segitu kurang,” lanjut Sulis.

Bekerja sebagai tukang gali ternyata tidak mudah. Selain tanah relatif keras, peralatan yang digunakan masih terbilang sangat sederhana. “Hanya pakai cangkul, garu, sama linggis,” terang Saerozi. Pekerjaan akan semakin berat karena di dalam sering ditemukan banyak batu. Karena itulah kadang-kadang mereka harus makan hingga empat kali sehari. “Ndak perlu enak-enak, yang penting ada nasinya,” sambung Sulis.

Meski pekerjaan itu melalahkan, mereka mengaku bisa menikmati. Menurut Saerozi tubuhnya tidak lagi terasa pegal-pegal lantaran sudah terbiasa. Memang, jauh hari sebelum menerima order di Semarang, mereka sudah bekerja di berbagai kota. “Pernah di Sumbawa, Madura, Bali, Kalimantan. Pernah juga di Batam,” terang Priyono. “Kalimantannya di mana saya tidak tahu,” sambungnya. “Yang penting Kalimantan.”

Sejak datang di Semarang tiga hari lalu mereka tinggal di sebuah kontrakan yang disediakan mandor. Total ada 30 orang yang tinggal di sana. “Selain kami ada rombongan lain. Dari Jember sama Malang kalau ndak salah,” Sulis menambahkan. Sebab tidak ada kamar, mereka tidur di atas lantai yang dialasi karpet. Meski tidak kedinginan, mereka mengaku kerap terganggu nyamuk. “Paling kami pakai sarung untuk selimut,” lanjutnya.

Usai bekerja mereka mencari hiburan sambil jalanan. Sebab di kontrakan tidak ada televisi. “Jalan-jalan di tempat-tempat seperti ini saja,” ucap Saerozi sambil menunjuk trotoar di seberang jalan. Kalau sedang malas keluar mereka memilih ngobrol sambil menikmati kopi. “Nggedebus sama teman-teman. Biasanya sampai malam,” kata dia.

Mereka akan bertahan di kontrakan hingga pekerjaan selesai. “Mungkin sekutar 20 hari,” ujar Syamsudin. Meskipun Grobogan tidak terlalu jauh, mereka akan pulang kampung sebelum pekerjaan selesai. Karena itulah mereka sering kangen keluarga di rumah.

“Sering inget anak sama istri,” ujar Saerozi. Tidak hanya itu. Karena berpisah lama, mereka juga kerap kangen bermesraan dengan istri. Lalu bagaimana? “Ya kami empet. Kami tahan saja. Puasa,” ujar Saerozi. “Kami tidak ‘macam-macam’. Takut dosa,” timpal Sulis tersenyum geli. PortalSemarang.Com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.