Helen Keller Tuli dan Buta, Mengapa Bisa Melihat dan Mendengar Lebih Baik dari Kita?

Helen Keller The Story of My Life

Seperti Helen Keller, setiap orang pada dasarnya tuli dan buta. Saat alat indra belum berfungsi sempurna, manusia terasing dengan dunianya.

Dalam kondisi buta dan tuli, orang memiliki kesukaran berkomunikasi. Bagaimana mungkin ia bisa mengungkapkan konsep dalam pikirannya, jika tak ada konsep yang pernah diketahuinya?

Maka, terjadilah yang Helen Keller alami pada awal hidupnya. Ia marah, frustrasi, karena tak punya alat untuk mengungkapkan gagasannya.

Dalam biografi The Story of My Life, Helen bercerita, yang bisa ia lakukan pada masa itu adalah membanting apa pun yang bisa diraihnya. Itu cara agar kemarahannya tersalurkan, membuat beban kemarahannya terkurangi. Helen baru akan berhenti saat tubuhnya kelelahan.

Perubahan mulai muncul ketika ada malaikat bernama Anne Sullivan muncul. Bagi Helen, Nona Sullivan adalah malaikat yang nyata. Berkat ketekunannya, Helen mulai bisa belajar bahasa dan menemukan cahaya dalam hidupnya.

Nona Sullivan adalah guru spesialis bagi anak-anak tuli dan buta. Sebelum bekerja pada keluarga Keller di Alabama, ia bekerja di Perkins School for the Blind.

Ketekunan Nona Sullivan adalah cahaya bagi Helen, gadis yang tampaknya mulai kehilangan harapan. Melalui bahasa simbol, Nona Sullivan mulai mengajarkan bahasa kepada Hellen. Dari situlah, dunia yang gelap dan sunyi Helen mulai terang.

Yang Nona Sullivan lakukan adalah mengejakan huruf-huruf di tangan Helen. Untuk memperkenalkan kepada Helen konsep air, Sullivan membuat simbol dalam telapak tangan Hellen berbentuk huruf W, A, T, E, dan R. Ia kemudian membiarkan Helen menyentuh benda cair yang menyegarkan itu.

Tentu saja, pada awalnya, itu pekerjaan yang sulit. Ia harus memperkenalkan satu per satu benda-benda yang di sekitarnya.

Tapi setelah proses itu berlangsung lama, Helen sudah mulai menemukan pola. Akhirnya, Helen tak Cuma bisa mengungkapkan nama benda, tetapi menggunakannya dalam sebuah kalimat yang bermakna. Itu kemajuan yang luar bisa.

Namun kesulitan lain datang ketika Nona Sullivan harus memperkenalkan konsep-konsep yang abstrak. Cinta, baik hati, dermawan, dan lain sebagainya.

Kata-kata itu tidak mewakili benda yang bisa disentuh, melainkan hanya konsep yang hidup dalam pikiran. Menjelaskan konsep-konsep itu kepada anak yang tuli dan buta tampaknya mustahil.

Tapi Sullivan kembali membawa keajaiban. Dengan pengalamannya yang panjang sebagai guru bagi anak-anak tuna netra, dia menggunakan perandaian. Melalui perandaian itulah ia mengantarkan Helen memahami bahwa cinta itu: bagaikan awan, yang tidak kamu raih tetapi kamu rasakan keteduhan berkat kehadirannya.

***

Kisah hidup Helen adalah kisah yang penuh keajaiban. Perempuan buta dan tuli itu berhasil memahami dunia dengan cara yang lebih cermat. Kemampuannya “melihat” dan “mendengar” dunia bahkan mungkin lebih baik dari kita,  orang yang mata dan telinganya berfungsi sempurna. Berkat kemampuan “melihat” dan “mendengarnya” yang luar biasa itulah  ia menorehkan prestasi besar.

Helen berhasil masuk ke Radcliffe College, kampus seni bergengsi di Cambridge Massachusetts. Tiket ke Radcliffe ia raih setelah ia menempuh sekolah pendahuluan bahasa Jerman, bahasa Perancis, sastra Inggris, sejarah Eropa, sejarah Amerika, dan sebagainya. Ia bahkan belajar aritmatika, meski mengaku mengalami kesulitan.

Bagaimana bisa perempuan buta dan tuli mempelajari hal-hal seperti itu? Lagi-lagi, ada peran Nona Sullivan di sini.

Dalam setiap perkuliahan Helen, Nona Sullivan diikutsertakan. Tugasnya adalah menerjemahkan penjelasan dosen ke dalam bahasa kode yang bisa dirasakan Helen dengan perabaan.

Selain itu, Helen mempelajari berbagai konsep di perguruan tinggi dengan memanfaatkan buku braile. Jumlah buku bercetak braile saat itu memang masih sangat terbatas, sehingga ia harus bersusah payah mendapatkannya.

Bahkan kemudian, Helen menjadi pembaca karya sastra yang amat bergairah. Ia membaca karya-karya klasik Homerus, Horace,  sekaligus membaca karya-karya Goethe, Shakespears, La Fontaines, Hawthrone Juana Spyri, Charles Dickens, Musset, Hugo, Schiller, dan Mark Twain.

Karya sastra adalah “dunia” yang membentuk intelektualitas Helen. Ia menaruh simpati kepada tokoh-tokoh dalam puisi dan cerita yang dibacanya. Kepada tokoh-tokoh itulah ia belajar cinta, kemanusiaan, semangat, dan sebagainya.

Meski dituturkan dengan gaya yang sederhana, perjalanan hidup Helen Keller adalah salah satu cerita yang paling layak dibaca. Cerita itu mampu mengalirkan energi positif yang melimpah kepada pembaca atau pendengarnya.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Penulis buku Politik Bahasa Penguasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.