Ketua MUI Jawa Tengah: Ajarkan Kebersamaan, Bangun Kerukunan

Hubungan antarkelompok masyarakat dirasakan merenggang dalam beberapa waktu terakhir. Konflik politik dan sosial berbau SARA sempat mengemuka. Kondisi ini dikhawatirkan membuat kerukunan antarumat beragam retak. Padahal, kerukunan telah jadi tradisi bangsa ini sejak dulu.

Bagaimana menyikapinya? Berikut wawancara Rahmat Petuguran dengan Ketua MUI Jawa Tengah KH M Daroji. Wawancara dilakukan Sabtu 18 Februari di Kantor MUI Jawa Tengah, kompleks Masjid Baiturahman Semarang.

Ada kecenderungan bahwa keharmonisan antarumat beragama di Indonesia beberapa waktu terakhir agak terganggu, apakah kondisinya benar demikian?

Ya memang itu dirasakan. Ada masalah di masyaakat yang menyebabkan terjadinya gangguan terhadap toleransi. Tetapi memahami toleransi itu yang benar. Jangan menurut persepsi masing-masing. Kalau orang Islam mengatakan qulhuwallahuahad, tuhan itu Esa, itu dikatakan tidak toleran. Jangan.

Kalau orang Islam mengatakan bahwa tuhan itu esa, ya itu prinsip, tidak boleh diotak-atik. Jadi yang namanya kerukunan atau dalam kata lain toleransi itu bukan antaragama tetapi antarumat beragama. Yang rukun umatnya. Kalau agamanya dirukunkan ya tidak bisa. Jadi Islam tidak bisa dirukunkan dengan Kristen, Budha, atau agama lain. Aqidahnya tidak bisa dicampur-campur.

Tapi kalau (umatnya) bergaul. Indonesia ini kan terdiri dari berbagai etnis, berbagai suku, berbagai agama. Orang-orang ini hidupnya harus rukun. Kita sama-sama membangun negeri ini. Kita berdagang ya saling membeli, saling menjual. Kita bangun jalan, ya kita bersama-sama. Pajaknya ya pajak bersama-sama.

Kalau orang Islam diajari bahwa inna dinna ‘indallahil Islam, bagi orang Islam ya agamanya yang palng benar ya Islam. Orang Islam harus begitu.  Tapi ketika bergaul dengan orang lain, kita harus rukun. Rukun itu dalam bahasa agama ya bermuamalat, hidup bermasyarakat secara bersama-sama. Hidup bersama.

Sebagai umat kita perlu pisahkan aqidah sebagai urusan pribadi dengan muamalah sebagai urusan bersama?

(Aqidah) bukan urusan personal. Kalau personal kan orang per orang. Kalau aqidah itu urusan keumatan. Urusan keagaman umat.  Jadi bukan urusan personal.

Kalau dalam agama itu ada aqidah dan ibadah, nah selain itu ada muamalah. Nah dalam bermualah itulah, dalam hidup bermasyarakat, kita harus toleran. Harus rukun.

Bagaimana menyikapi adanya anjuran dalam agama untuk mengajak orang lain menganut agama kita? Apakah tidak riskan menimbulkan konflik?

Di Indonesia ini masih banyak orang yang belum masuk agama  tertentu. Nah kalau yang begini silakan diajak. Tetapi kalau ada orang sudah beragama, kalau dia sudah jelas beragama lain, ya jangan diajak.

Tetapi, kalau kita menulis tentang keindahan Islam, kebaikan Islam itu begini-begini, dan ada orang yang tertarik, ya kita ajak. Jadi kita tidak menyerang, mendatangi orang-orang yang sudah menganut agama lain untuk menganut Islam. Kalau begitu akan menimbulkan konflik. Dalam prinsip kerukunan antarumat beragama tidak boleh yang begitu.

Begitu juga sebaliknya, kalau orang Nasrani, Budha, Hindu membuat tulisan yang menarik orang Islam tertarik ke sana juga tidak masalah. Jadi kita tidak boleh offensif.

Selama ini MUI kerap dianggap merepresentasikan umat Islam. Bagaimana MUI berkomunikasi dengan kelompok keagamaan lain?

MUI tidak merasa jadi representasi umat Islam, karena selain MUI ada organisasi keagamaan lain. Ada Nahdlatul Ulama, ada Muhammadiyah. Mereka yang punya massa. Tetapi di dalam MUI memang ada berbagai perwakilan. Ada Muhammadiyah, ada NU. Jadi kalau dikatakan representasi juga tidak terlalu salah. Masing-masing ada perwakilan. MUI jadi rumah bersama.

Ada forum yang dinyatakan sebagai perwakilan kelompok bersama, yaitu FKUB (Forum Kerukunan Antarumat Beragama – red). MUI ada di situ. Memang sering ada pertemuan di situ. MUI juga berpartisipasi di situ, bahkan kadang-kadang terdepan lah. Jadi komunikasi (antarumat beragam) selalu terjalin.

Untuk urusan kerukunan, umat Islam punya Rasullah sebagai teladan yang paling ideal. Mengapa umat generasi sekarang tidak selalu bisa meneladani beliau?

Antara jamaah Rasulullah dengan jemaah sekarang kan sudah terpaut sekian lama. Tentu rentang waktu seperti itu menyebabkan adanya modifikasi atau perkembangan variasi. Masing-masing daerah memiliki pendekatan berbeda. Taruhlah kalau di daerah yang panas seperti Afrika, tentu pendekatannya berbeda dengan di daerah sejuk seperti di Jawa ini.

Di Jawa ini, misalnya, kan tidak gampang digoyang. Kalau sudah cukup keras baru ada guncangan. Tetapi kalau di sana sedikit saja konflik ya menyala. Karena kondisinya begitu.

(Selain itu) karena zaman Rasulullah dan zaman kita ini jauh barangkali sudah melewati berbagai penafsiran. Penafsiran itu kan ada subjektivitas yang menafsirkan. Semakin jauh jaraknya maka jarak (tafsirnya) juga semakin jauh. Keegoisan orangnya, sifat manusianya, kondisi geografisnya, juga demografi setempat itu turut dipertimbangkan.

Nah di Jawa ada unen-unen aja golek musuh, musuh siji wis kakean, kanca sewu isih kurang. Itu barangkali kalau dicari hadisnya ada, tetapi kearifan lokal seperti itu di daerah lain belum tentu ada. Di daerah Kudus misalnya. Umat Islam di sana tidak menyembelih sapi. Padahal sapi tidak haram. Nah, yang seperti itu belum tentu ada di daerah lain.

Bagaimana dengan kerukunan internal agama, katakanlah antara yang berpandangan liberal dengan yang konservatif?

Belum tentu orang yang kontemporer itu tidak konservatif. Misalnya orang NU diminta meninggalkan nariyahan, dibaan. Itu kan dinilai konservatif. Tapi mereka sendiri memiliki latar belakang yang modern. Di Semarang ini misalnya, para doktor, profesor, rektor yang membaca dibaan. Orangnya tidak konservatif tetapi mempraktikkan amalan-amalan yang dinilai konservatif. Dan itu rukun. Orangnya modern tetapi tidak meninggalkan tradisi konservatif.

Bagi kami yang bekerja di bidang pendidikan, apa yang perlu kami ajarkan kepada anak-anak agar jadi generasi yang mampu menjaga kerukunan?

Anak-anak itu jangan dibiasakan untuk melakukan pendekatan yang menimbulkan konflik. Jangan biasakan anak-anak mencari titik perbedaan. Tetapi ajarkan titik persamaan. Titik temu. Kalau sudah menemukan titik temu.

Zaman sekarang jangan menuduh orang. Misalnya menuduh orang tidak Pancasilais. Ada yang mengklaim diri hanya kami yang membela NKRI. Klaim-klaim bahwa dirinya yang paling benar ini yang harus dihindari.

Jadi anak perlu diajari bahwa dirinya bukan yang paling baik. Bukan yang paling benar. Tetapi kita hidup bersama. Kita ajarkan bahwa di taman bunga itu kan ada kuning, ada biru, ada merah. Itulah yang menjadikannya indah. Tidak hanya satu warna.

Di Nasima, kita ajarkan rahmatan lil alamin. Jadi, hendaknya kita hidup berkasih sayang sesama kita, terhadap manusia lain. Bahkan terhadap alam kita juga harus sayang. Kita bisa hidup kalau ada jalinan kerja sama. Jadi jangan cari titik perbedaan, temukan titik persamaan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *