Ketidaktahuan, Stereotipe, dan Kebencian

KETIKA bertemu orang pertama kali, kita punya kecenderungan alami untuk membaca orang itu. Cara paling mudah membaca orang adalah mengaitkan hal-hal visual yang melekat padanya dengan stereotip tertentu.

Jika kita melihat orang itu berpayudara, kita simpulkan bahwa dia perempuan. Karena dia perempuan, dia (mungkin) akan bersikap lembut.

“Karena dia perempuan, maka dia bersikap lembut” adalah simpulan yang lahir akibat sterotip bahwa “sebagian besar atau seluruh perempuan bersikap lembut”. Sterotip semacam itu hidup dalam kepala dihasilkan oleh proses sosiokognitif, baik karena pengalaman pribadi maupun karena mendapat informasi dari sumber lain.

Sterotip bekerja pada berbagai situasi. Namun, peluang sterotip bekerja jauh lebih besar terjadi pada situasi ketika kita tidak tahu persis objek yang kita hadapi. Sifat-sifat umum yang kita lekatkan pada sebuah objek terjadi karena pembacaan terhadap objek itu memang hanya yang bersifat umum. Adapun tanda-tanda khusus belum terbaca pada situasi semacam itu.

Padahal, setiap objek pada dasarnya memiliki keunikan. Stertorip dan pengaketgorian hanyalah staregi otak manusia melakukan pemilahan secara sederhana agar relatif mudah membedakan satu dengan lainnya.

Ketika kita berkunjung ke alun-alun, misalnya, kita akan mendapati ratusan orang di tempa yang sama. Ketika memandangi mereka semua, otak barangkali akan membuat kategori-kategori sederhana berdasarkan jenis kelamin. Sebab, inilah cara paling mudah. Dalam hitungan kurang dari satu detik mata dapat mencermati tanda-tanda visual apakah manusia yang dilihatnya laki-laki atau perempuan, baik berdasarkan fisik maupun pakaian.

Jika waktu memungkinkan, proses pengkategorian bisa dilanjutkan dengan pengategorian berdasarkan tingkat ekonomi. Otak akan membuat kategori bahwa orang tertentu adalah orang kaya, dan orang lainnya adalah orang miskin. Untuk dapat membuat kategori seperti ini lazimnya diperlukan waktu lebih lama karena tanda-tanda visualnya cukup rumit. Mata dan otak harus bekerja keras menagitkan apakah model dan merek pakaian tertentu lebih mahal atau lebih murah dari lainnya.

Pengkategorian-pengkategorian itu terjadi secara kasar karena kita tidak mengenali satu per satu orang yang bekerumun di alun-alun. Ketika kita bertemu dengan teman baik di antara kerumunan itu, pengkategorian secara kasar dan umum itu tidak diperlukan lagi. Kita akan langsung melakukan penilaian yang spesifik karena memiliki bekal informasi yang memadai. Ketika saya melihat Devi teman seangkatan saat kuliah, otak tak perlu lagi membuat kategori apakah dia lak-laki ata perempuan. Saya punya kencederungan merecall informasi spesifik itu, misalnya, dia orang yang pernah mentraktir saya di kantin selepas ujian skripsi. Dia sekarang berpacaran dengan Hamdan setelah putus dengan Edo.

Ketidaktahuan terhadap ojek tertentu rentan melahirkan stereotip. Adapun sterotip rentan mlahirkan ketidakadilan karena cenderung melahirkan perilaku generalitatif. Perilaku generalitatif tidak cenderung simplifikatif, bertentangan dengan sifat alamiah objek yang unik dna beragam.

Pada situasi tertentu, cara berpikir yang generalitatif itu netral atau bahkan berakibat positif. Namun dalam situasi lain, cara berpikir itu berbahaya karena dapat melahirkan simpulan yang keliru.

Misalnya, saya melihaat laki-laki bertato. Dalam otak telanjur tersimpan bahwa orang bertato adalah preman. Mereka perlu diajuhi karena membuat onar, meresahkan masyarakat.

Penilaian itu dengan sendirinya akan menciptakan dorongan dalam bentuk perilaku. Karena jatuh pada penlitian tersebut, saya tidak akan mendekati orang bertato. Bahkan mungkin menghindarinya. Padahal, orang bertato juga memiliki keunikan karakteristik. Memang ada preman yang bertato. Tetapi ada juga orang bertato karena selera artistiknya.

Ketidaktahuan bahwa banyak orang bertato karena selera artistik membuat saya, sebagai contoh, akan cenderung menggunakan sterotip sebagai alat penilaian. Ketika yang lahir adalah penilaian buruk, di situlah kebencian bermula. Karena itulah, saya kira, ada hubungan lurus antara ketidaktahuan dan kebencian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.