Kesetian Berkarya Maston Teater Lingkar

MASTON adalah nama yang tak terpisahkan dari Teater Lingkar. Itulah teater yang dia dirikan 27 tahun silam. Maston Lingkar, begitulah orang mengenal dia. Terakhir, pria bernama asli Suhartono itu bermain sebagai Mat Kontan dalam lakon Malam Jahanam Motinggo Busye di Auditorium RRI Semarang, pertengahan April lalu.

Mengapa begitu menyetiai teater? “Tentu bukan karena teater bisa jadi penghidupan. Hingga saat ini, di Semarang, teater belum bisa menghidupi. Jangan berharap kaya dari teater,” katanya.

Ya, sutradara senior itu lebih mengandalkan penghidupan dari gaji sebagai PNS Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. “Dari teater, saya belajar memahami orang lain, berani berpendapat, bernalar, hingga beroleh pengalaman yang berkait dengan manajemen.”

Soal pilihan naskah, Lingkar cenderung ke naskah ringan dan riang gembira. Dia tak mempersoalkan kelompok lain yang menggarap lakon berat atau absurd.

Ayah tiga anak, Rio, Yaya, dan Sindu, – dari perkawinan dengan perempuan yang dia panggil Jeng Dhien – itu tetap setia pada Lingkar yang berdiri 4 Maret 1980. Belakangan, Lingkar seperti memasuki puber kedua dengan produktivitas tinggi.

Setelah Rumah Tak Beratap, Rumah Tak Berasap Akhudiat yang disutradarai Wiwiek Ari Wibowo, Malam Jahanam Motinggo Busye disutradarai St Sukirno, kini Lingkar menyiapkan dua penggarapan lain. “Anggota relatif banyak memungkinkan Lingkar menggarap dua-tiga lakon sekaligus pada waktu bersamaan,” kata Maston.

Mereka kini menggarap Kebebasan Abadi CM Nas. Mereka berencana mementaskan lakon itu Agustus nanti berkait dengan peringatan Hari Kemerdekaan. Lingkar juga menyiapkan penggarapan lakon berbahasa Jawa Rol mendiang Widoyo SP alias Kenthut, mantan dedengkot Teater Gapit Solo. Apa alasan Maston? “Saya prihatin, banyak anak muda Jawa gagap omong Jawa,” katanya.

Keberpihakan Maston dan Teater Lingkar pada budaya Jawa memang tak perlu diragukan. Setiap malam Jumat Kliwon, mereka mempergelarkan wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dengan dalang dan lakon silih berganti.

Tak perlu heran, sebab landasan gerak teater yang bermarkas di Jalan Gemah Jaya I/1 Semarang itu memang empat spirit Jawa. Itulah teteg (yakin), tekun (ulet), teken (berpegang teguh pada prinsip), dan tekan (sampai ke tujuan). (Achiar M Permana-53/SUmber: SuaraMerdeka.Com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.