Kemungkinan-kemungkinan di Balik “Maaf, Cuma Bercanda”

Dalam ragam percakapan sehari-hari (cak), ungkapan “Maaf, hanya bercanda” atau “Maaf. Cuma bercanda” sering sekali digunakan.

Jumlah tagar #hanyabercanda dan #cumabercanda di media sosial mencapai puluhan ribu. Dalam bahasa Inggris tagar #justkidding bahkan mencapai 2,2 juta.

Penutur menggunakan ungkapan itu agar pendengar mengabaikan atau merespons tuturan yang baru diucapkannya secara tidak serius.

Pada posisi itu, “hanya bercanda” adalah kalimat perintah tidak lengkap. Dalam ungkapan itu ada daya larangan yang jika ditulis secara lengkap menjadi: jangan ditanggapi terlalu serius karena tuturan tadi hanya bercanda.

Pola itulah yang membuat “hanya bercanda” memiliki dua fungsi pragmatik, yaitu membatalkan dan menghaluskan maksud tuturan sebelumnya.

Fungsi pertama dapat dipenuhi jika penutur dan pelibatnya sepakat bahwa tuturan sebelumnya menjadi tidak bermakna karena hanya diproduksi sekadar sebagai candaan. Dalam konvensi penutur bahasa Indonesia, teks tampaknya candaan dianggap tidak perlu dipikirkan substansinya. Tuturan jenis ini sengaja dibuat untuk meledakkan tawa atau mencairkan suasana. Jika tujuan itu terpenuhi, ujaran itu bisa dianggap tidak pernah ada.

Fungsi kedua dapat dipenuhi jika ungkapan sebelumnya dirasa terlalu keras. Penutur menggunakan “hanya bercanda” agar tuturan sebelumnya tidak ditanggapi terlalu serius oleh pendengar. Dengan memakai ungkapan ini daya perintah, pujian, atau makian yang melekat pada tuturan sebelumnya bisa dikurangi.

Dua fungsi pragmatik ini juga dapat ditemukan pada ungkapan “Maaf, sekadar mengingatkan” yang sangat populer di media sosial. Pengguna ungkapan ini biasanya memberikan penilaian, nasihat, atau saran kepada orang lain. Namun pengguna khawatir penilaian, nasihat, atau saran yang disampaikannya kurang berterima karena terlalu keras. Agar lebih lunak, ia menggunakan “maaf sekadar mengingatkan” sebagai pemarkah.

Selain memperhalus maksud tuturan, “Maaf, sekadar mengingatkan” juga digunakan untuk merevisi posisi penutur. Saat memberikan nasihat atau saran, secara implisit penutur menempatkan diri dalam posisi superior, baik secara intelektual, sosial, maupun moral. Posisi itulah yang memotivasi, membuatnya percaya diri, dan merasa layak memberikan nasihat.

Di sisi lain, penutur sadar bahwa posisi superior bukan sikap yang baik karena menunjukkan keangkuhan penutur. Di sisi lain, orang cenderung tidak senang ditempatkan dalam posisi lebih rendah. Ketidaksenangan itu akan membuatnya menolak
nasihat yang disampaikan penutur. Untuk merevisi hal itu, penutur menegaskan bahwa pesan yang disampaikannya bukan nasihat atau saran melainkan “sekadar mengingatkan”.

Dengan mengucapkan itu, ia berusaha mempatkan diri dalam posisi setara.

Meski dimaksudkan utuk membatalkan atau menghaluskan pesan, “hanya bercanda” tidak serta merta membuat tuturan sebelumnya kurang bermakna. Demikian pula “maaf, sekadar mengingatkan” tidak serta merta membuat nasihat menjadi lebih halus dan berterima. Kedua pemarkah itu justru melahirkan pesan sebaliknya: keengganan penutur untuk mempertanggungjawabkan tuturan sebelumnya.

Dengan melabeli tuturan sebelumnya dengan “sekadar”, konskuensi sosial dari aa yang dituturkannya menjadi gugur atau setidaknya berkurang. Karena itu, si penutur bisa terbebas dari tuntutan untuk mempertanggungjawabkan substansi perkataannya.

Dalam praktik berbahasa sehar-hari, fungsi pragmatik “”Maaf hanya bercanda” dan “Maaf, sekadar mengingatkan” bisa jauh lebih banyak. Kalian punya pengalaman lain? Maaf, cuma bertanya.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.