Kelas Menengah Baru dan Restoran Favoritnya

Ada satu pertanyaan yang selalu sulit dijawab dengan mulus Kelas Menengah Baru (KMB): mana resto favoritmu?

Pertanyaan itu sulit dijawab KMB karena mereka selalu ragu, tidak bisa menyebutkan satu tempat dengan mantap. Mereka (eh, kami!) ingin menyebutkan satu tempat, mungkin tempat terbaik yang pernah dikunjunginya, namun  ragu jangan-jangan tempat itu sudah terlalu umum.

Bagi KMB, tempat makan favorit adalah sesuatu yang esensial karena berhubungan dengan rekognisi terhadap identitas sosialnya. Para KMB selalu ingin diidentifikasi sebagai orang yang mapan secara ekonomi. Untuk itu, ia harus tampak berpengalaman mengunjungi berbagai tempat makan mewah. Tetapi pada kenyataannya, KMB tidak pernah bisa menjangkau tempat makan mewah. Ia hanya bisa menjangkau tempat makan medioker.

Di sinilah kebimbangan KMB bermula. Dia mungkin telah mengunjungi Rinjani View, restoran dengan pemandangan yang sangat cantik di Semarang. Tetapi ketika ditanya apakah Rinjani View adalah resto favoritnya, dia ragu untuk menjawab. Ia khawatir, jangan-jangan Rinjani View sudah terlalu pasaran.

Posisi sosial KMB melatih mereka (eh, kami) terlatih untuk memanfaatkan berbagai piranti untuk membangun citra sebagai kelas elit. Usaha ini terus-menerus dilakukan meski dengan sumber daya sosial dan ekonomi yang sangat terbatas.

Petualang Citra

Pada masa paling awal, KMB akan menyasar tempat-tempat makan yang dipersepsinya sebagai simbol modernitas. Dia akan datang ke KFC bersama keluarganya pada akhir pekan, janjian dengan teman lama di McDonald, atau mampir ke JCO setelah muter-muter (muter-muter, bukan belanja) di mall.

Pada awalnya, mereka akan bangga dengan simbol itu. Tetapi mereka justru terkejut ketika mendapati bahwa tempat-tempat itu tidak lagi ekslusif dan memberi kebanggaan sosial. Tempat seperti itu telah penuh sesak oleh KMB yang lain. Ini kondisi yang mengecewakan.

Untuk membebaskan diri dari rasa bersalah itu, KMB akan mengumpulkan lebih banyak uang untuk mencari tempat makan yang lebih eksklusif. Dia, mereka (eh, kami!) akan mencarinya di internet. Bukan mencari menu apa yang paling memenuhi selera makannya, tetapi melihat apakah sebuah restoran terdisplay cukup keren atau tidak.

Mengapa display restoran penting bagi KMB? Karena mereka dituntun oleh kamera, bukan oleh lidah atau perut. Yang mereka perlukan adalah foto-foto yang menunjukkan betapa indah dan eksklusifnya restoran itu, cukup indah untuk dijadikan foto profil atau bahkan foto sampul.

Mereka bisa mengampuni dirinya jika tersesat di restoran yang makanannya tidak enak, asal masih bisa bergaya. Tetapi mereka tidak bisa mengampuni dirinya jika bayar mahal justru tersesat di tempat yang displaynya biasa-biasa saja.

Bagi KMB, pilihan ini sangat logis, setidaknya karena mereka harus berhitung untung rugi. Dengan anggaran yang pas-pasan, KMB selalu melibatkan pertimbangan ekonomi untuk menentukan pilihannya. Jika mereka membelanjakan sejumlah uang, mereka harus menghitung akan memperoleh keuntungan sosial yang sepadan.

Kamuflase

Setelah mengunjungi restoran terbaik, KMB berusaha mengkoversi uang yang dibelanjakannya dengan keuntungan sosial. Mereka mentransaksikan pengalaman makan di restoran mewah dengan menceritakannya kepada sahabat atau mempostingnya ke media sosial.

Anehnya, ketika mereka menceritakan atau memposting gambarnya di media sosial, mereka akan berusaha menyembunyikan kekagumannya. Seorang yang berkunjung ke Garuda Indonesia Executive Lounge untuk pertama kalinya tidak akan memposting kepsen “Wah, loungenya mewah.” Mereka sadar kepsen itu tidak akan menguntungkan karena pembacanya akan tahu bahwa ia datang untuk pertama kalinya.

Sebagai ganti, mereka akan menceritakan hal lain, tetapi tetap dengan menyertakan sejumlah tanda bahwa dirinya sedang di GI Lounge. Misalnya, menulis status “Menunggu boarding” sambil memposting foto diri dengan background logo Garuda. Atau, memotret secangkir kopi dengan menambahkan keterangan check in di Garuda Indonesia Executive Lounge.

Pada satu sisi, para KMB selalu antuasias memamerkannya bahwa ia telah mengunjungi resto tertentu. Tetapi pada sisi lain, mereka enggan dipersepsi orang bahwa resto yang dikunjunginya adalah resto terbaik yang pernah dikunjunginya. Untuk menghindari persepsi itu, mereka bersikap seolah-olah restoran yang sedang dikunjunginya tidak terlalu istimewa. (foto: makanjogja.com)

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.