Kelas Menengah Baru dan Pilihan Politiknya

Pilihan politik selalu rumit ditebak, terutama karena variabelnya selalu kompleks dan dinamis. Tetapi pilihan politik dapat dibaca sebagai tren dan kecenderungan. Ada data-data, baik makro maupun mikro, yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kecenderungan sikap politik seseorang, komunitas, atau kelompok.

Kelas menengah baru (KMB), baik sebagai kelompok dalam masyarakat maupun sebagai gejala gaya hidup juga memiliki kecenderungan pilihan politik yang dapat dipetakan.  Meskipun dengan catatan: harus berhati-hati dengan generalisasi.

Seperti saya sebut pada tulisan pertama (baca: Kelas Menengah Baru dan Mobil Bekasnya), KMB bukan semata-mata terminologi ekonomi, tetapi kini telah berkembang menjadi terminologi sosiologi dan politik. Orang-orang yang diidentifikasi sebagai KMB tidak dapat dikenali hanya berdasarkan penghasilannya, tetapi sikap politik dan reaksinya terhadap merespon kecenderungan di sekitarnya.

Lalu, seperti apa sikap politik kelas menengah? Jika dibandingkan kelas bawah dan elit, KMB adalah kelompok yang paling cerewet terhadap gejala politik di sekitarnya. Merekalah orang-orang yang merasa dirinya menjadi bagian penting komunitas, sehingga harus selalu berkomentar. Ini itu, semua hal dikomentari.

Kelas menengah baru adalah keolompok yang baru saja hengkang dari kursi kelas bawah namun belum sepenuhnya diterima sebagai elit. Mereka mengalami kegalauan idetnitas, bingung menentukan apakah mereka kelas bawah atau telah elit.

Kondisi itu membuat mereka selalu bisa bergerak, berpindah pandangan politik, bersikap layaknya kelas bawah pada satu isu namun bersikap layaknya elit untuk isu yang lain. Mereka kelompok yang pragmatis, fleksibel, dan cenderung labil.

dalam merespon isu-isu kelas, mereka berusaha mengidentifikasi diri seolah-oleh sebagai elit. Tetapi jika sikap elit ini justru merugikannya, ia akan berpindah haluan dengan cepat menjadi kelas bawah.

Dalam merespon isu buruh, misalnya, kelas menengah baru cenderung menggunakan kata ganti orang ketiga (dia atau mereka). Kata ganti ini diperlukan untuk meyakinkan diri bahwa mereka (kami?) bukan bagian dari buruh. Tidak heran jika ada demo buru, KMB adalah kelompok yang paling cerewet mengutuki mereka sebagai penyebab kemacetan, perusak fasilitas umum, dan penghasil sampah.

Dengan mengutuki buruh demonstran sebagai penyebab kemacetan, KMB berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya bukan bagian dari kelompok itu. Meskipun bisa jadi, KMB sendirilah penyebab kemacetan sesungguhnya, karena mereka rajin membawa kendaraan roda empatnya ke mana-mana.

Meski mengidnetifikasi bukan bagian dari kelas bawah, KMB selalu berisik jika negara memberinya beban tambahan, misalnya kenaikan pajak penghasilan, kenaikan harga bahan bakar minyak, atau bahkan sekadar kenaikan tarif kereta api. Mereka sensitif dengan kenaikan harga karena riilnya, kondisi ekonomi KMB memang sangat riskan.

Sikap mendua para KMB terekspresi   dalam berbagai ruang sosial dan dapat diamati dengan sangat mudah. Demikian pula dalam  ruang politik.

Dalam ruang politik, KMB merasa dirinya merupakan kelompok terdidik yang paham situasi. Mereka merasa dirinya sudah bersikap moderat, berpikir ilmiah, dan bisa bersikap objektif. KMB menyadari (atau tepatnya merasa dirinya) adalah bagian penting dari komunitas berbangsa. Karena merasa dirinya adalah bagian penting, mereka berusaha menyuarakan sikap politiknya sekeras dan selantang mungkin.

Tetapi, dalam arena politik, KMB bukanlah kelompok yang memiliki modal politik cukup untuk menjadi pemain utama dalam arena. Mereka tidak dapat tampil di panggung utama sehingga hanya berbaris di tepi lapangan sebagai juru sorak.

Dari segi ekonomi, misalnya, mereka tidak dapat menjadi penyokong dana kandidat yang didukungnya dalam pemilihan. Dari segi sosial, mereka tidak cukup memiliki jaringan yang dapat dikonversi menjadi suara. Dari segi intelektual, mereka juga tidak memberi sumbangsih berarti.

Tetapi, sebagaimana para juru sorak dalam pertandingan olahraga, KMB adalah kelompok mayoritas yang paling gemuruh. Mereka berteriak, menabuh drum atau galon, atau tampil atraktif agar bisa menyita perhatian.

Di lapangan, sikap politik KMB ini tentu sangat bervariasi. Tetapi kencederungan sebagai kelompok nanggung dan galau adalah karakter utama mereka, eh kami.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.