Kelas Menengah Baru dan Mobil Bekasnya

Sejak bekerja, saya bergaul dengan  banyak orang yang tengah bersemangat menysuri gerak vertikal sosial.  Mereka adalah tenaga kerja muda yang bersemangat meninggalkan masa kere saat mahasiswa, menuju masa berkecukupan setelah memperoleh penghasilan sebagai pegawai.

Sebagaimana gerakan dalam terminologi fisika, gerakan sosial yang mereka (kami?) lakukan juga menyisakan gejolak. Sebagai pendaki tangga sosial, saya dan kawan-kawan juga mengalami gejolak khas kelas menengah baru. Ini gejala yang menarik untuk dijadikan olok-olok sekaligus sarana menertawakan diri.

Memang, perilaku kelas menengah kawan-kawan saya tidak sekronis deskripsi Gayatri Jayaraman tentang Kaum Miskin Urban di India. Tetapi tetap saja, perilaku kelas menengah baru perlu dicatat sebagai pengingat betapa lucunya mereka (kami?).

Mendefinisikan KMB

Istilah kelas menengah baru (KMB) sebenarnya kian rancu digunakan. Pasalnya, istilah itu ternyata bukan hanya istilah cukup didefinisikan dengan indikator-indikator ekonomi. Menurut Sasongko (2016) kelas menengah baru juga merupakan terminologi politik.

Jika saja KMB didefinisikan dengan perspektif ekonomi semata, urusan akan menjadi relatif sederhana. Orang dengan pengeluaran harian antara 5 sampai 20 dolar per hari adalah kelas menengah. Di bawahnya, berarti kelas bawah. Di atasnya, berarti elit.

Tetapi KMB bukan terminologi ekonomi, melainkan terminologi politik dan sosiologis. Kelas menengah baru justru kerap dilekatkan pada orang yang menunjukkan kegalauan perilaku sikap antara ogah mengaku sebagai proletar namun riilnya dia tidak memiliki cukup sumber daya untuk bergaya hidup layaknya elit.

Kegalauan perilaku itulah yang melahirkan gejolak. Mereka memanipulasi simbol-simbol kelas agar dapat didientifikasi layaknya elit, meskipun dengan sumber daya yang sangat terbatas. Manipulasi simbol-simbol kelas ini terutama dilakukan melalui jalan konsumsi.

Kegiatan konsumsi potensial dikonversi menjadi aktivitas manipulasi identitas karena berkaitan dengan hal-hal yang sangat visual. Pada age of looking, sesuatu yang visual lazim mendapatkan tempat khusus dalam ingatan dan tafsir publik. Kondisi ini didikung dengan eksisnya peradaban media sosial yang berkembang menjadi ajang pamer.

Singkatnya, orang-orang miskin yang berlagak bak elit inilah yang sering disebut sebagai kelas menengah baru. Gejala perilaku ini bisa terjadi karena elit bersikap agresif dengan mendistribusikan sikap dan pandangan politik serta ideologisnya kepada kelas di bawahnya.

Simbol Kemapanan

di India, demikian diceritakan Jayatri Gayaraman, banyak anak muda yang rela tidak makan seharian supaya bisa makan malam di restoran mewah. Nah, pilihan untuk makan di restoran mewah adalah usaha untuk memanipulasi idenitas. Ia ingin diidentifikasi sebagai elit, meskipun ia hidup dengan modal dan struktur ekonomi kelas bawah yang miskin.

Restoran mewah dipilih karena ia telah disepakati memiliki nilai simbolik yang bereferensi kepada kemapanan. Pakaian bagus, bermerk, juga gadget canggih juga merupakan barang bernilai simbolik mapan. Dengan menggunakan barang-barang itu, seseorang berusaha memanipulasi persepsi publik bahwa dirinya adalah kelas yang lebih elit.

Di Indonesia, kendaraan pribadi juga merupakan barang simbolik yang juga kerap digunakan untuk memanipulasi kelas sosial. Pernah muncul Avanza Effect yang merujuk pada anak muda atau keluarga muda yang memiliki mobil untuk kelai pertama kali.  Mereka bukan orang yang memerlukan mobil untuk mobilitas harian, tetapi menajdikan kendaraan sebagai properti simbolik penghias garasi atau sesekali digunakan untuk pulang kampung.

Avanza sendiri merujuk pada salah satu produk mobil murah keluaran Toyota. Harga yang terjangkau, membuat mobil jenis ini relatif dapat dibeli (baik tunau maupun kredit) pekerja sektor publik yang baru beberapa tahun berkarier.

Tetapi bagi kelompok kelas ekonomi yang masih berat membeli Avanza, membeli merk mobil lain yang lebih murah atau mobil bekas pun jadi. Asal: mobil. Dari situ lahirlah kelucuan baru: mobil menjadi  penunggu garasi, digunakan hanya untuk perjalanan dari dan ke bengkel. (Foto: inspirazis.blogspot.co.id)

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

2 Comments

  1. BenZ

    August 3, 2016 at 4:00 am

    Tulisan nya bagus, saya suka.

  2. Adri

    August 5, 2016 at 3:28 am

    Sukak sama cara Mas Rahmat nulis. Simpel tapi dalemmmm…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.