Kekeliruan Kata, Kebencian Kita

Beredar petisi pencabutan hadiah nobel untuk Aung San Suu Kyi. Petiisi itu merupakan respon atas perkataan “The Lady” yang menunjukkan sikapnya yang kurang senang diwawancara oleh wartawan beragama Islam. Perempuan yang selama belasan tahun dipuja karena kegigihan dan perjuangannya, mendadak dibenci oleh demikian banyak orang.
 
Kondisi itu, hemat saya, bukan semata-mata disebabkan oleh sikap Suu Kyi. Lebih besar dari itu, kebencian kepadanya disebabkan oleh kekeliruan cara kita memberi label terhadap sesuatu.
 
Ketika pulng dari Inggris ke kampung halamannya di Myanmar, kemudian keteguhannya untuk menolak tunduk kepada rezim militer, membuat banyak orang terpesona. Keterpesonaan itu melahirkan label yang gigantik, hiperbolis, dan rawan memicu kesalahpahaman: PEJUANG DEMOKRASI.
 
Label yang awalnya disematkan oleh segelintir orang itu kemudian disepakati secara luas karena direproduksi oleh media. Akibatnya, baik masyarakat Barat maupun Timur – yang memiliki perhtian terhadap demokrasi – sepakat menyebutnya sebagai PEJUANG DEMOKRASI.
 
Label gigantik ini menimbulkan masalah karena melambungkan persepsi publik terhadap perjuangan, usaha, dan jasanya. Persepsi yang melambung ini membuat masyarakat menggantungkan eskpektasi macam-macam terhadap perempuan ini. Dengan mengesampingkan sifat-sifat kemanusiaan yang dapat saja masih ada dirinya, masyarakat memahami keaktualan Suu Kyi semata-mata sebagai PEJUANG DEMOKRASI.
 
Lantaran publik memahami Suu Kyi semata-mata sebagai PEJUANG DEMOKRASI, publik mengharapkan dia bertindak dan bertutur semata-mata sebagai PEJUANG DEMOKRASI. Jika ada tindakan atau perkataan lain yang tidak relevan dengan persepsi publik itu, Suu Kyi dianggap ingkar.
 
Persoalan label adalah salah satu persoalan paling mendasar dalam karena berkaitan dengan cara manusia mempersepsi kehakikatan sebuah objek. Eksistensi objek selalu ditentukan oleh jenis label, nama, sebutan yang diberikan manusia kepadanya. Akibatnya, eksistensi objel tersimplifikasi oleh label dan sebutan itu.
 
Mari kita ambil contoh: benda yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai “speaker” diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “pengeras suara”. Eksistensi objek itu di dunia disederhana semata-mata sebagai “pengeras suara”. Padahal aktualnya, benda itu bisa digunakan untuk duduk, untuk meletakan sesuatu, juga untuk menyandarkan tubuh.
 
Aung San Suu Kyi adalah benda – atau katakanlah objek – yang dizalimi penutur bahasa karena disebut sebagai PEJUANG DEMOKRASI. Dia disayangi ketika bersikap sesuai label yang diberikan kebanyakan orang. Dia mendadak dibenci karena melakukan sesuatu di luar ekspektasi orang.
 
Pola demikian, sesungguhnya bisa enimpa siapa saja, yang telanjur dilabel dengan label gigantik tertentu.
 
Gus Dur, misalnya, tampaknya secara luas disepakati disebut sebagai BAPAK TOLERANSI. Label ini disematkan lantaran ia memiliki jasa besar mengembangkan nilai-nilai toleransi.
 
Namun bisa jadi, ada satu atau dua aspek dalam keyakinan, tuturan, dan tindakannya yang tidak relevan dengan gelar yang disematkan itu. Jika itu kemudian terungkap dan diketahui publik, Gus Dur yang dihormati dan disayangi bisa jadi akan segera dibenci. Kebencian semacam itu tidak selalu hadir karena objeknya buruk, tetapi kebencian kerap hadir karena ekspektasi seseorang yang tidak terpenuhi.
Rahmat Petuguran
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *