Kekejian yang Bersembunyi di Balik Bahasa

“Tempat cucimu sudah jadi, Bro,” kata saya pada istri, pagi tadi.

Saya bermaksud memberi tahu, tempat cuci piring ala kadaranya di rumah kami sudah bisa digunakan. Tempat itu saya buat kemarin. Setelah semalam berselang, semen di lapisan terluar sudah kering.

Informasi itulah yang membuat saya merasa perlu mengucapkan kalimat tadi kepada istri.

Tapi beberapa detik kemudian saya menyadari, ada yang salah dalam kalimat itu. klitik “mu” pada kata cucimu menunjukkan asumsi tersembunyi bahwa area cuci di bagian belakang rumah itu milik dia. Lebih lanjut bisa ditelusuri, ternyata ada pikiran tak adil dalam diri saya bahwa pekerjaan domestik mencuci piring adalah milik perempuan. Asumsi itu mungkin telah mengendap sepanjang bertahun-tahun, “bocor halus” melalui bahasa yang saya gunakan. Secara spontan. Nyaris tak tersadari.

Pengalaman itu mengingatkan saya pada riset Davidowitz tentang rasisme di Amerika.

Survei-survei konvensional umum menunjukkan bahwa rasisme di Amerika cenderung menurun. Survei itu menunjukkan orang Amerika cenderung semakin terbuka. Kalaupun rasisme masih cukup kuat, itu terutaa berkembang di negara bagian selatan.

Tapi data pencarian di internet menunjukkan kondisi berbeda. jumlah pencarian di Google dengan kata kunci “nigerjokes” ternyata bertambah. Kata pencarian itu naik drastis ketika Obama dilantik jadi presiden dan ketika ada banjir besar yang membuat seorang warga berkulit hitam terjebak.

Ketika hasil pencarian dipetakan secara geografis, ternyata bukan orang Selatan yang mendominasi pencarian itu. Orang-orang di Midwest lah yang menjadi penyumbang terbesar.

Saat ditanya secara terbuka, apakah setuju dengan rasisme orang cenderung mengatakan tidak. Tapi informasi metabahasa kerap menunjukkan kondisi lain yang bahkan bertentangan.

Menurut Davidowitz, ini pula yang membuat ada kejutan besar dalam Pemilihan Presiden 2016 lalu. Orang cenderung menampilkan diri setuju dengan gagasan-gagasan liberal yang diusung Hillary. Tapi dalam benak terdalam, ternyata banyak orang Amerika yang setuju dengan ide-ide konservatifnya Trump.

Itu terindikasi dari cara orang merangkai fasa ketika mereka mencari informasi tentang dua kandidat presiden itu. ternyata, frasa “Trump-Hillary” lebih populer daripada “Hillary-Trump”. Itu bahkan terjadi di negara-negara bagian yang awalnya diprediksi akan dimenangkan Demokrat.

Cara orang mengurutkan dua nama itu (apakah Hillary-Trump atau Trump-Hillary) merupakan perilaku berbahasa yang mengandung informasi metalinguistik. Sebab, ada kecenderungan alamiah dalam berbahasa orang akan menyebut sesuatu yang disukainya lebih dulu, baru lainnya.

Dalam kajian pragmatik, telah lama disadari bahwa tuturan adalah bagian kecil dari keseluruhan gagasan. Di samping gagasan verbal yang dituturkan, ada pengetahuan yang mendahuluinya (praanggapan), ada maksud implisit (implikatur), juga implikasi logis yang menyertai tuturan (perikutan).

Kondisi itulah yang membuat kita bisa menggali asumsi-asumsi tak terucap di balik tuturan. Orang cenderung memverbalkan hal yang secara sosial-politik dibenarkan (policial correctness) dan menyembunyikan asumsi jahat dalam pikirannya.

Dengan sedikit kejelian, pikiran-pikiran jahat yang disembunyikan bisa ditelusuri dalam berbagai ekspresi berbahasa.

Rahmat Petuguran

Keterangan gambar:
Setelah menyadari perkataan “cucianmu” bersumber dari pikiran yang jahat, saya menghukum diri dengan mencuci piring kotor.

Keterangan lagi:
Lihatlah, betapa jahat pikiran saya ketika saya menggunakan kata “menghukum” untuk menunjukkan aktivitas harian yang telah bertahun-tahun dilakukan istri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.