“Kecelakaan” dalam Film Contratiempo

Oleh Misbah Nurdi

Pernah berpikir −atau justru menyelidiki− berbagai (kemungkinan) versi dari sebuah kejadian? Mana yang kamu anggap sebagai “kebenaran”? Kalau jawabanmu adalah belum, tenang saja, film Contratiempo bisa menjadi latihan awal yang menyegarkan.

Sepanjang nonton berbagai film teranyar, menurut saya, film ini bener-bener unforgettable. Alur ceritanya yang ngetwist banget membuat film ini layak menempati sebidang lahan dalam ingatan. Setidaknya itu yang saya alami.

Kisah bermula dengan kematian Laura Vidal, sementara Adrian Doria menjadi terdakwa karena berada di kamar yang sama. Lha kok bisa? Bisa aja, kan Laura itu selingkuhan Doria.

Awalnya saya berpikir ada seseorang yang membunuh Laura dan mengambinghitamkan Doria sebagai terdakwa. Setelah penyelidikan polisi dan berbagai bukti yang ditemukan, kemudian saya menganggap Doria adalah pembunuh Laura. Semua bukti memperkuat dakwaan terhadap Doria. Namun, berdasarkan penuturan Doria kepada pengacaranya, saya jadi merasa Doria hanyalah korban kejahatan Laura. Laura lah yang menjadi penyebab serangkaian “kecelakaan”, serentetan contratiempo dalam film ini.

Konyolnya, saya kembali berpikir bahwa Doria adalah pembunuh Laura saat pengacaranya mampu menggali lebih dalam kesaksian Doria. Lebih konyol lagi ketika saya beralih meyakini teori pertama karena terkuaknya kemungkinan motif orang ketiga sehingga sangat mungkin melakukan tindakan tersebut. Gitu aja terus bang sampe Indonesia punya empat musim.

Bingung atau paham? Kalau paham, berarti kamu haibat. Kalau bingung, ya maklum tha, kan belum nonton, hhh.

Film ini menjadi menarik karena menempatkan Doria sebagai tokoh sentral. Kunci dari semua misteri yang menyelubungi kematian Laura. Masalahnya, Doria tampak menutupi tirai kebenaran yang ia tahu. Nah, di sinilah posisi Virginia Goodman −pengacara yang membantu Doria menghadapi dakwaan pembunuhan terhadap Laura− menjadi penting.

Meski cerita utama hanya berisi percakapan Doria-Goodman, strategi flash back kejadian demi kejadian yang Doria alami menjadi pelengkap yang sangat perlu untuk memahami duduk perkara. Goodman mengerti, ketika berhadapan seseorang, dia tidak berhadapan sebuah lembaran kosong. Ada masa lalu, keyakinan dan sepaket perspektif yang perlu dia pahami sehingga bisa memiliki pandangan yang relatif mendalam terhadapnya.

Goodman mesti paham kasus yang dihadapi kliennya ini. Karena itulah, Goodman mendesak Doria bercerita lebih detail supaya bisa menambal celah dalam pernyataan Doria sehingga dia lebih siap menghadapi pengadilan nanti. “Kebasahan kesaksianmu bergantung hal itu,” terang Goodman.

Menyimak penuturan Doria kepada Goodman, penonton diajak melihat “kebenaran” sebagai sesuatu yang berlapis-lapis. Sesuatu yang kita anggap sebagai “kebenaran” menjadi bukan apa-apa ketika memasuki “kebenaran” pada lapis berikutnya. Begitu seterusnya hingga kita berpikir jangan-jangan apa yang saya anggap kebenaran saat ini pun masih punya lapisan yang lebih dalam lagi.

Mirip-mirip lah sama film Inception yang menceritakan mimpi dari mimpi yang kita alami saat bermimpi yang masih berisi lagi mimpi dalam mimpi dari mimpi tersebut. Kebayang kan seperti apa ruwetnya dan betapa bingungnya kita apabila berhadapan situasi semacam itu? Mana yang kebenaran dan mana yang hanya anggapan?

Saya cukup terganggu ketika Contratiempo (Spanyol) diterjemah-judulkan menjadi The Invisible Guest. Lha wong gak ada genderuwo, gak ada wewe, gak ada Sadako, gak ada ndhas gelundung, gak ada satu pun penduduk bangsa tak kasat mata itu, dan juga gak ada mantan. Eh maaf, yang terakhir itu tambahan editor. Jadi, saya lebih sreg menggunakan arti harfiah Contratiempo yaitu kecelakaan.

Kejelian menangkap clue dan petunjuk yang terselip di sana-sini akan sangat membantu penonton menyelidiki misteri kematian Laura. Akhirnya selamat menonton! Eh tunggu sebentar, buat yang masih bimbang, saya kasih tiga clue. Pertama, jangan bikin gara-gara dengan orang teater. Kedua, jangan menyakiti orang, apalagi orang baik. Ketika sakit yang mereka alami begitu dalam, mereka bisa menjadi sosok yang sangat berbahaya. Barangkali kamu bakal takjub kekuatan dahsyat yang mereka simpan selama ini. Terakhir, jangan percaya secara berlebihan dan jangan curiga begitu berlebihan. Berkait clue terakhir kamu bisa mendalami dengan membaca Psikologi Prasangka Orang Indonesia-nya Prof. Sarlito Wirawan Sarwono.

“Aku bisa aja baca sendiri. Tapi, aku lebih berharap percakapan yang menyenangkan denganmu, bang.” #eaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.