Kata dan Kasta

Kata menentukan nasib manusia. Kata menentukan bagaimana seseorang hidup, siapa yang bisa dijadikannya teman, bahkan seberapa banyak kekayaan yang bisa diperolehnya. Kata adalah batu, pahat, dan sekaligus palu yang menentukan keburuntungan dan kesialan direliefkan.

Jika seseorang lahir dalam tradisi Hindu-India yang ketat, nasib buruknya sudah digariskan sejak satu kata dilekatkan kepadanya: paria. Kata itu segera “menyeretnya” pada kelas sosial paling rendah. Demikian rendah derajat kemanusiaannya, paria bahkan tak dihitung sebagai salah satu kasta.

Bagi orang yang menerimanya, kata itu akan berlaku seperti kutukan sihir. Nasib buruk akan segera mengikuti, nyaris tak bisa dihindari. Kata “paria” membuatnya harus hidup di lingkungan yang buruk, melakoni pekerjaan kasar berupah murah, juga berjodoh dengan orang yang sama sengsaranya. Hak-hak sosialnya sebagai anggota masyarakat akan tersandera, sebagaimana hak dasarnya sebagai manusia akan riskan dilanggar.

Sains modern menunjukkan, tak ada cukup argumentasi untuk mengatakan paria memiliki kualitas alami lebih rendah dari kelas lainnya. Sistem organ, hormonal, dan libidalnya sama dengan ksatria atau bahkan brahmana. Sebagaimana manusia lainnya, paria memiliki akal, kehendak, dan cita-cita untuk bahagia. Tetapi kata “paria” mengubah semuanya.

Dalam konteks ini, kata adalah sarana pembentuk pikiran. Jenis kata yang digunakan mempengaruhi kebermaknaan objek tertentu. Objek yang sama bisa diapresiasi begitu berbeda bergantung pada kata yang digunakannya. Kata membawa sederet konskuensi yang tak bisa diingkari.

Kondisi demikian terjadi, antara lain, karena sistem sosial manusia dibentuk oleh imajinasi. Adapun kata-kata adalah sarana yang merepresentasikan imajinasi itu. Meski jenis dan cara kata digunakan tak mengubah keberadaan objek, kata membentuk kebermaknaannya. Keberartian suatu objek bagi manusia ditentukan oleh kata yang digunakan untuk melukiskannya.

Jika seseorang hidup pada masa kolonial Belanda, baik dan buruk nasibnya akan bergantung pada label sosial yang diterimanya: Eropa, timur asing, atau pribumi. Jika dideskripsikan sebagai Eropa, seseorang akan mendapat banyak hak istimewa. Jika “timur asing” adalah label yang diterimanya, hak-haknya lebih terbatas. Nasib paling sial akan diterima siapa pun yang berlabel “pribumi”. Bukan hanya tidak berhak mendapat pendidikan yang layak, ia terancam berakhir di proyek-proyek kerja paksa.

Young (1999) mencontohkan hal itu dalam konteks kehidupan yang lebih intim dalam aktivitas sehari-hari. Bayi yang baru lahir belum memiliki konsep diri. Kesadaran itu baru ditemukan ketika orang di sekitarnya mulai memberi label kepadanya. Label “laki-laki”  atau “perempuan” yang dilekatkan  akan membentuk persepsi gendernya. Jenis permainan, selera berbusana, bahkan cara bicara akan berkembang sesuai label gender yang diterimanya.

Meski tidak seketat di India atau Indonesia masa kolonial, kata terus saja mencipta kasta. Seorang guru menulis kasta bagi muridnya dengan menyebut satu siswa “berprestasi rendah” dan menyebut lainnya “cerdas” atau “berbakat istimewa”. Pengawas pabrik mencipta kasta bagi karyawannya dengan menyebut “karyawan rajin” untuk satu kriteria dan “karyawan bermasalah” untuk kriteria lainnya. Bahkan orang tua mencipta kasta bagi anak-anaknya ketika menyebut “anak baik” dan “anak nakal” kepada anak yang berbeda.

Dalam situasi itulah, kata menemukan pengaruhnya dalam menggariskan nasib manusia. Kata mendeskripsikan benda-benda, mendisiplinkan pikiran manusia, dan kahirnya melukis nasib yang harus dijalaninya. (gambar: hidayatullah.com)

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.