Karena Pacaran Hanya Membuang Waktumu, Mulailah Pikirkan 10 Kebaikan Ini…

Entah sejak kapan, pacaran jadi kebiasaan bagi remaja dan anak muda. Pacaran jadi mekanisme saling kenal yang paling lumrah dilakukan dua orang berlawanan jenis. Lantaran sudah terjadi sejak lama dan dilakukan banyak orang, pacaran seolah peristiwa sosial yang wajar.

Anak muda sekarang, bahkan merasa masa mudanya tidak lengkap jika tak dilalui dengan berpacaran. Mereka minder jika pada usia tertentu tidak memiliki pacar.

Tapi, apakah pacaran adalah sebuah skema saling kenal yang sehat? Tidak juga. Pacaran kerap jadi pintu masuk seks bebas. Sudah tidak tak terhitung kehamilan tak dikehendaki yang terjadi karena pacaran.

Oleh karena itu, jika saat ini kamu masih sendiri, tak perlu memberi porsi waktu dan energi untuk pacaran. Sebaliknya, kamu bisa gunakan waktu, uang, dan energi yang kamu miliki untuk melakukan kebaikan.

1. Jadilah juara di hati orang tuamu

Tidak banyak orang yang punya harapan tulus atas diri kamu. Di antara yang sedikit itu, dua orang tuamu adalah salah satunya. Mereka adalah orang paling baik, yang selalu berharap kebaikan buatmu.

Ekspektasi mereka kepadamu tidak terlalu berat kok. Kamu tidak harus menjadi kaya raya, tidak harus menjadi pejabat tinggi, atau CEO perusahaan mutinasional. Mereka hanya ingin kamu bahagia.

Rasakanlah kebahagiaan dengan menjadi anak baik yang siap jadi teman bagi orang tuamu. Rasakanlah berkelakar dengan ayahmu di ruang tamu. Juga, rasakanlah kesenangan ketika kampu menjemput ibu yang baru pulang dari luar kota.

2. Menjadi kawan yang selalu ngangeni

Coba pikirkan sekilas saja: siapa orang yang selalu menanyakanmu kalau seminggu gak muncul? Apakah temanmu kangen kamu? Apakah mereka khawatir dengan kondisimu?

Kamu boleh saja tidak pintar. Kamu boleh saja anak orang miskin. Persahabatan sejati tidak memperhitungan hal-hal itu. Persahabatan adalah dorongan untuk menghargai satu sama lain.

Persahabatan yang terpelihara jauh lebih bermakna daripada satu-dua-tiga pacar yang kamu miliki.

3. Beterimakasihlah kepada Ir Soekarno dengan menjadi anak muda sehat

Proklamator Republik Indonesia Ir Soekarno sedih melihat rakyatnya kurus dan kumuh. Ia sedih melihat anak-anak muda saat itu yang penyakitan. Dia berambisi memerdekakan negerinya agar – salah satunya – anak-anak mudanya tumbuh sehat.

Dalam sebuah pidato kenegaraan, Soekarno tak menggunakan indikator makroekonomi sebagai alat ukur kemajuan bangsa. Ia justru pernah menggunakan pertumbuhan anak-anak sebagai indikator keberhasilan. “Lihatlah anak-anak kita. Tinggi badan mereka lebih tinggi lima-sepuluh sentimeter. Timbanglah bobot mereka, kini berat mereka sepuluh-dua puluh kilo dibandingkan sebelum merdeka.”

Soekarno dan bapak bangsa lain tidak memerdekakan Indonesia untuk membuatmu punya pacar. Mereka menginginkan anak muda sepertimu tumbuh sehat – tnnpa terserang penyakit galau.

4. Pernah jadi relawan bencana alam?

Saat kawan-kawanmu kongkow di café, kamu memilih bergabung dengan sebuah organisasi kemanusiaan datang ke lokasi bencana. Kamu tidak peduli bahwa kamu tidak punya cukup uang. Kamu hanya menuruti panggilan hati bahwa kesulitan orang lain adalah kewajiban bagimu.

Bergabung dengan organisasi kemanusiaan adalah pilihan yang menyenangkan bagi remaja sepertimu. Energimu yang melimpah akan tersalurkan. Dan jauh lebih penting, kamu membuat dirimu layak disebut sebagai manusia.

5. Buat gerakan sosial untuk atasi kemiskinan

Dari tahu ke tahun pemerintah membuat laporan bahwa angka kemiskinan menurun. Sementara kamu lihat dengan mata kepala sendiri bahwa kemiskinan masih terlalu banyak untuk disebut “telah berkurang”.

Matikan televisi, berhenti mendengar omong kosong pemerintah, dan mulailah menghimpun sumber daya untuk mulai gerakan sosial. Temuilah teman-teman sevisi, minta nasihat kepada orang yang berpengalaman, dan rencanakan yang bisa kamu lakukan untuk orang miskin di dekatmu.

Jangan biarkan orang miskin di dekatmu lapar. Jangan biarkan mereka hidup di gubuk reyot. Jangan biarkan anak-anak mereka putus sekolah. Jangan biarkan!

6. Mengajar secara sukarela anak-anak kecil di kampung

Memiliki jaringan dengan intelektual, businessman, atau pejabat adalah sebuah keuntungan. Tapi, menjadi remaja yang bisa akrab dan disukai anak-anak juga sebuah keuntungan. Apakah kamu termasuk anak muda yang disukai anak-anak kecil?

Mengumpulkan mereka, membacakan dongeng, atau membuatkan mereka mainan adalah pengalaman yang menyenangkan. Jika mereka keslitan memahami sesuatu, kamu bisa menjadi mitra belajar. Ajari mereka kebaikan.

7. Habiskan waktu 24 jam untuk perbaiki laptopmu sendiri

Laptopmu rusak setelah kamu pakai beberapa hari tanpa henti? Jangan manja dengan segera minta uang untuk beli laptop baru. Cobalah ambil drei di kotak perkakas. Buka dan lihat, kira-kira bagian mana yang rusak.

Sejauh kamu bisa perbaiki, cobalah gunakan spare part yang kamu punya untuk perbaiki. Tidak masalah kalau kamu harus begadang semalam, membuat gaduh di tengah malam.

Nah, kalau laptop malah tambah rusak, baru lapor ke orang tuamu. Hwahahaha. Pasang wajah memelas supaya disponsori untuk beli laptop baru.

8. Seminggu mengembara, mengamati kehidupan

Che Guevara memakai sepeda motor tua untuk berkeliling Amerika Latin. Berkat perjalanannya, ia tahu bahwa banyak rakyat yang menderita karena gurita neokolonialisme. Dia melihat bahwa suku-suku asli hidup miskin, sementara tambang dan hasil bumi dikeruk korporasi.

Perjalanan itulah yang membuat Che tahu bahwa takdirnya bukan sekadar jadi dokter. Berkat perjalanan, ia tahu takdirnya menjadi pembela rakyat miskin. Dia menolak hidup mapan, bekerja sebagai kelas menengah, tpai justru mengembara ke berbagai negara.

Perjalanan serupa juga dilakukan Mohammad Hatta. Dengan kereta api, ia kunjungi kota-kota di Sumatera. Dia rasakan bahwa kemiskinan masih jadi persoalan mendasar bagi rakyatnya.

Begitu pula Soekarno. Ia bertemu dengan Kang Marhen, petani kecil di pelosok Bandung. Kepada Kang Marhen, petani kecil itu, Soekarno berguru dan terinspirasi merumuskan marhaenisme.

9. Gulingkan pejabat korup, seret mereka ke pengadilan

Kalau kelak kamu akan lihat negara kian tandus karena pejabat kian korup. Tidak ada pilihan buatmu selain turun ke jalan. Himpun kekuatan dengan anak muda lain, dengan pelajar lain, dengan mahasiswa dari kampus lain untuk aksi.

Untuk memiliki keberanian semacam itu, kamu memang perlu belajar pada Gie. Kamu juga perlu belajar kepada Hariman Siregar. Atau, belajarlah kepada anak muda Hongkong bernama Joshua Wong.

Ingat, negara ini tidak didirikan untuk satu dua orang yang tamak. Negara ini tidak didirikan untuk memuaskan ambisi megaloman yang rakus. Negara ini didirikan untuk sekalian rakyat agar mereka hidup sejahtera, beranak pinak dengan merdeka, dan hidup bahagia.

Karena itu, jika kelas muncul pejabat korup, pastikan kamu siap di garis depan menentang mereka. Kamu juga siap melakukan advokasi supaya pejabat korup itu mendapat balasan setimpal di pengadilan.

10. Menikahlah segera saat kamu merasa siap

Jika pengembaraanmu sudah jauh, dan Tuhan mempertemukanmu dengan jodohmu, segeralah menikah. Jangan mempersulit diri dengan memasang target muluk-muluk untuk menggelar pernikahan dengan mewah. Juga, tak perlu mempersulit diri dengan membuat syarat-syarat selain yang telah dirukunkan.

Menikah akan membuatmu punya kedekatan mulitidimensi (benda apa ini?) dengan orang yang kamu cintai. Dengan menikah, kamu akan rasakan bahwa kalian adalah jiwa yang sama, namun selama ini terjebak di tubuh yang berbeda.

Apa keuntungan menikah? Banyak. Tapi yang terpenting, dengan menikah kamu memastikan diri menjadi orang yang paling berhak membahagiakannya. Cie cie cie…

Gambar: FIA.UB.AC.ID

 

2 Comments

  1. Portal Konseling

    June 2, 2015 at 5:18 am

    luar biasa, artikel sangat menginspirasi. saya kira cuma sekadar seru-seruan saja. ternyata memang isinya menyadarkan saya… terima kasih.

  2. Celoteh Anak Negeri

    June 2, 2015 at 6:40 am

    Soekarno dan bapak bangsa lain tidak memerdekakan Indonesia untuk membuatmu punya pacar. Mereka menginginkan anak muda sepertimu tumbuh sehat – tanpa terserang penyakit galau. MERDEKA!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.