Kaca Mata Tenaga Pengajar di Desa terhadap Online Learning

Ogan Komering Ilir– Akibat pandemi covid-19, pemerintah mengajurkan dan menetapkan untuk pembelajaran dilakukan di rumah saja secara daring.

Semenjak munculnya covid-19 di Negara Indonesia tepat pada bulan Maret, pemerintah dengan segenap jajarannya membuat berbagai strategi dalam upaya mencegah atau memutus rantai penyebaran covid-19.

Terhitung pasien covid-19 di Indonesia  28.818 jiwa dinyatakan positif, 8.892 jiwa dinyatakan  sembuh dan pasien meninggal sebanyak 1.721 jiwa, berdasarkan sumber  covid19.go.id  ( Kamis, 04/06/2020).

 

Salah satu langkah atau kebijakan pemerintah dalam upaya memutus rantai covid-19 dengan memberlakukannya pembelajaran secara online atau daring. pembelajaran online mulai dikoordinasikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, pada 16 Maret 2020.

 

Setelah pemerintah menghimbau untuk melakukan pembelajaran secara online atau daring, setiap tenaga pengajar dan sekolah melakukan merombak sistem penyampaian materi serta sistem penilaian  agar sesuai dengan kebutuhan peserta mengenai materi yang akan disampaikan secara online.

 

“Pembelajaran online dilakukan menggunakan media Whatsapp disana akan dibuatkan grup setiap mata pelajaran dan di bimbing langsung oleh guru mata pelajaran yang terkait,” ungkap Mimin, salah satu tenanga pengajar di SD N 1 Lubuk Seberuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (02/06/2020).

 

“Siswa yang aktif di grup Whatsapp berarti guru bisa memberikan penilaian secara maksimal, tetapi bukan berarti yang tidak mempunyai  Whatsapp nilainya kecil tapi tetap memantau dan memberikan penilaian yang terbaik,” lanjutnya.

 

“Orang tua dan guru adalah dua motivator yang harus siap mendampingi anak-anak dalam proses belajar mengajar dan keduanya saling bersenambungan antar guru dan orang tua dan tentu juga harus di tunjang dengan alat sarana dan prasarana,” tambahnya.

 

“Kendala dalam pembelajaran online  yang kami rasakan sebagai tenaga pendidik adalah minimnya sarana dan prasarana, apa lagi melalui pembelajaran daring, tidak semua orang tua dari peserta didik kita mempunyai smartphone dan kebanyakan juga masih gaptek. Kemudian  materi yang kita sampaikan juga tidak bisa maksimal karena tidak terjalin tanya jawab hanya  memberikan tugas terus menerus,” jelasnya

 

“Kalau menurut ibu 60% tidak efektif, karena tidak semua wali murid yg mendampingi anaknya belajar dirumah tidak punya media smartphone dan  anak kurang semangat juga belajar dirumah jika kelamaan belajar dirumah,” tuturnya.

 

Jika demikian sistem pembelajaran online yang diterapkan dimasa pandemi ini memiliki kelebihan dan kekurangan dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Tentunya juga karena faktor lingkungan, jika lingkungan perkotaan akan lebih mudah dalam proses pelaksanan online learning karena memiliki fasilitas yang menunjang seperti sinyal, internet dan smartphone tetapi berbanding terbalik dengan para pelajar dan tenaga pendidik yang di desa mereka mengalami kesulitan dalam hal saranan dan prasaranan.

 

[Natalia Whida Saputri]

Berita ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.