Jurusan Keris ISI Surakarta, Satu-satunya di Dunia

Ada sebuah program studi yang hanya dimiliki oleh satu kampus di seluruh dunia. Itulah program Setudi Keris yang dimiliki Institus Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dengan misi melestarikan kekayaan tradisi, program studi ini menerima 15 mahasiswa setiap tahun.

Kepada Portal Semarang, Rektor ISI Surakarta Prof Sri Rochana menjelaskan, program studi ini memang didirikan dengan amant khusus dari pemerintah. Pemerintah menilai, keris merupakan kekayaan tradisional yang penting. Agar generasi berikutnya menguasai dan mengetahui wacana perkerisan, mereka perlu dididik dengan serius.

“Ini kan penting. Bukan hanya keris dalam bentuk fisiknya. Di sini mahasiswa juga diajarkan tentang keris sebagai benda yang memiliki sejarah dan nilai filosofisnya,” katanya.

Secara kelembagaan, program studi keris dibuka ISI Surakarta sejak 2011. Izin pembukaan itu diberikan bersamaan dengan pembukaan program studi batik. Agar kajiannya lebih luas, program studi ini bernama resmi Keris dan Senjata Tradisional. Oleh karena itu, kajian di program studi ini bisa meluas pada senjata lain seperti rencong, celurit, atau tombak. Setelah menerima surat mandat, pihaknya lantas merumuskan profil, kompetensi, kurikulum, dan sumber daya manusia yang diperlukan.

Saat didirikan, program studi ini memeiliki sejumlah tugas. Pertama,a melaksanakan pendidikan, penelitian dan kekaryaan seni, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang keris dan senjata tradisional. Kedua, mendinamisasi kehidupan seni-budaya nusantara khususnya keris dan senjata tradisional di masyarakat. Yang tidak kalah penting, program studi ini bertugas mempublikasikan informasi keris dan senjata tradisional yang akurat dan terpercaya.

Sri Rochana mengakui, minat anak muda untuk belajar keris masih belum menggembirakan. Selain kurang populer, para pendaftarnya berasal dari lingkungan yang memang telah mengenal keris. Namun ia menjadikan itu sebagai tantangan. Pihaknya akan terus memopulerkan program studi ini sehingga diketahui dan minati masyarakat luas.

Sebagai lembaga pendidikan, ISI memperlakukan keris sebagai objek pengetahuan. Salah satu yang diajarkan adalah seni memproduksi keris. Sebab, membuat keris dengan kualitas bagus itu memerlukan keahlian khusus. Ketelitian ketika memproduksi keris sangat mempengaruhi hasil akhir, selain kualitas bahan yang digunakan.

“Yang menggembirakan, harga keris di pasaran sangat baik. Di masa sekarang, keris lazimnya dijadikan sebagai benda seni. Dengan kualitas baik, sebilah keris bisa dihargai hingga Rp200 juta,” katanya. Tidak mengherankan jika di kampus itu beredar seluruh bahwa mahasiswa Keris adalah calon orang kaya.

Apakah mahasiswa juga belajar ilmu batin sebagaimana dikuasai oleh para empu pada masa lampau? Sri Rochana menjelaskan, aspek-aspek kebatinan dalam keris itu bisa didekati secara saintifik. Ia mencontohkan, masyarakat menganggap keris bisa diberdirikan dengan bertumpu pada ujung sebagai magis. Menurutnya, itu bisa dipelajari secara teknis. “Ada ilmunya,” katanya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *