Jika Sekolah Tak Mencerdaskan…

RANCHODAS Syamaldas Chanchad datang ke kampus Imperial College Of Engeenering (ICE) membawa serangkai “kekacauan”. Dia merasa tidak nyaman dengan pembelajaran yang dikembangkan pengajar di institut teknologi terbaik di India itu. Karena itulah, ia sering mengajukan protes. Karena protes itu ia sering diusir dari kelas, menghabisan waktu di canopy kampus sambil mengamati banyak hal.

Pada kelas Mekanika misalnya, profesor yang tengah megajar memintanya menjelaskan definisi mesin. Chanchad justru membuat analogi dengan mengatakan semua hal adalah mesin. “Menghitung dengan cepat menggunakan kalkulator adalah mesin. Kita sudah sangat bergantung denan mesin. Dari bulpoint sampai resleting, semuanya adalah mesin,” ucapnya sambil menaik turunkan reslsting jeansnya.

Profesor ternyata lebih suka jawaban Chatur, mahasiswa penghafal, yang menjawab dengan mengungkapkan sejumlah definisi. Chatur yang sering disapa Silencer itu menjelaskan dengan sangat tepat, lengkap dengan frase dan kata hubung sebagaimana tersebut dalam buku.. “Hebat. Sempurna,” Profesor memuji. “Buku telah memberikan definisi, supaya kau bisa lulus kau harus menuliskannya,” lanjut profesor sambil memandang Chanchad.

Persoalan yang tersaji dalam film 3 Idiot inilah yang agaknya selalu muncul dalam kelas di sekolah-sekolah kita. Siswa kehilangan kepercayaan diri karena diwajibkan guru meniru orang lain. Nyaris tidak ada kebebasan bagi siswa mengaktualisasikan diri menjadi seperti yang mereka inginkan. Akibatnya, kelas menjadi penjara tanpa ranjang dan koran; sangat membosankan.

Orang akan menduga kekangan yang muncul dalam kelas lahir karena guru bersikap terlalu kaku. Guru menjadi peternak bebek yang tidak pernah melepaskan pecut. Ia menghendaki setiap siswa berjalan pada jalan yang ia kehendaki (kurikulum), meski sadar setiap manusia memiliki karakterisitik yang khas.

Ada semacam konsepsi yang meletakan siswa yang keluar dari ‘rule’ sebagai pembangkang, bahkan dicap gagal.

Meski demikian, guru bukan faktor tunggal. Ada kekuatan yang sangat dahsyat yang membuat kelas terasa begitu mengekang. Guru yang paling ramah sekalipun ketika masuk dikelas dipaksa menjadi menakutkan. Target-target belajar membuat suasana kelas menjadi arena pacuan kuda; menyajikan kompetisi yang sehingga akan ada pemenang dan pecundang.

Terbeban Target
Mengapa kondisi demikain tercipta, setidaknya saya rasakan selama 15 tahun terakhir? Menguraikannya satu per satu barangkali akan panjang lebar karena variabel yang mempengaruhi terlampau banyak. Salah satunya, tentu saja dari sekian banyak faktor, adalah kesalahan guru dan pemangku kebijakan di bidang pendidikan dalam mempersepsi pendidikan. Ini adalah kesalahan mendasar karena berakibat fatal.

Menetapkan target belajar, termasuk membuat indikator dan tujuan instruksional khusus (TIK), barangkali langkah awal supaya pembelajaran berjalan sistematis dan terarah. Keberhasilan pembelajaran selalu ditetapkan berdasarkan pencapaian target, persis seperti sistem setoran yang disepakati pemilik angkot dengan supir.

Siswa yang mampu meraih pencapain tertentu dianggap sukses, cerdas, berhasil, sedangkan yang tidak dianggap gagal, bodoh, tidak berguna.

Target barangkali membantu guru mengukur keberhasilan pembelajaran. Namun, target berpotensi menempatkan siswa pada posisi yang tidak semstinya. Siswa lelah diminta terus menerus lari mengejar target, bukan bersenang-senang menggali potensi diri sambil terus memaknai hidupnya.

Siswa seperti sepeda motor yang harus digas terus menerus supaya melintasi lintasan dalam waktu sesingkat mungkin meski ia sebenarnya hanya harus berkeliling taman sambil memaknai lingkungannya.

Saya selalu menganggap sekolah dan kuliah adalah bagian yang sangat kecil dari kewajiban manusia hidup. Hal yang jauh lebih besar adalah belajar. Sekolah dan kuliah perlu dilakukan seseorang sebagai bagian dari proses belajar. Jika kemudian benar berhasil membuat seseorang semakin cerdas dan bermakna bagi lingkungan, sekolah dan kuliah perlu dilakukan.

Namun jika sekolah justru menghalangi manusia untuk belajar, sekolah dan kampus harus dihindari. Jauh lebih baik belajar dari alam (lingkungan) yang memberi kebebasan daripada belajar di kelas yang terlalu membatasi.

Kewajiban saya sebagai manusia sebenarnya adalah belajar; di manapun, sejak merasa perlu hingga tidak memiliki kesempatan (baca; meninggal). Belajar perlu dilakukan karena manusia memerlukan pengetahuan untuk memaknai hidupnya. Karena itulah, pendidikan harus meletakan manusia sebagi titik tolak dan titik tuju.

Nilai-nilai kemanusiaan yang diberikan Tuhan melalui pewarisan jauh lebih berharga daripada kemajuan teknologi sebagaimana yang selama ini diidam-idamkan banyak orang.

Mitos Pembangunan
Justru dalam pandangan athropisntris, teknologi adalah ancaman paling nyata bagi nilai-nilai kemanusiaan. Paradigma pembangunan bangsa kita contohnya telah menempatkan teknologi setara dengan manusia sehingga seolah-olah bisa saling menggantikan.

Kemampuan manusia menciptakan berbagai produk teknologi dianggap sebagai bukti faktual keberhasilan manusia. Padalah, justru perlahan manuisa menyerahkan dirinya kepada teknologi. Manusia kemudian didikte oleh teknologi, tanpa pilihan untuk membantah.

Anggapan demikian telah membawa pengaruh yang tidak kecil pada pengelolaan kelas. Kelas menjadi semacam produsen tenaga pembangunan. Manusia dididik agar menjadi akselerator pembangunan. Akibatnya, paradigma manusia untuk pembanguna telah benar-benar dipraktikkan. Para pendidik lupa bahwa satu-satunya alasan pembangunan perlu dilakukan adalah untuk memanusiakan manusia.

Agus Salim dalam Indonesia Belajarlah memandang pendidikan sebagai strategi manusia dalam upaya memperoleh filsafat hidup yang paling tepat bagi dirinya. Pendidikan adalah alat bantu supaya manusia menemukan makna eksistensinya.

Karena itulah proses pendidikan berjalan terus menerus. Pendidikan sejati tidak dapat dibatasi hanya dari tempat, kelembagaan, kurikulum dan kebijakan yang menentukannya, tetapi merupakan totalitas lingkungan sosial-personal yang dihayati sepanjang kehidupan manusia (Salim, 2004).

Dilema
Bagaimana jika pendidikan (formal) justru menghalngi manusia berfalsafat karena terlalu mengutamakan rangkaian prosedur formal? Inilah persoalan paling klasik sekaligus paling aktual yang menyelubungi dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan formal justru mengajarkan manusia untuk belajar menjadi seseorang yang seperti orang lain kehendaki, bukan menjadi dirinya. Padahal, tuntutan naluriah manusia adalah agar ia hidup menjadi yang ia kehendaki.

Sebagian mahasiswa memilih jurusan atas pertimbangan peluang kerja. Kenyataan ini menerjemahkan fungsi sekolah hanya sebagai penyedia tenaga kerja. Ia diproses semata-mata supaya bisa memiliki keterampilan yang dapat dijual.

Jarang sekali mahasiswa yang memilih jurusan karena memang ingin menggeluti bidang tersebut lepas dari tendensi keinginan mencari pekerjaan. Apakah sedemikian parah? Demikianah kenyataan yang selama ini saya dapati.

Persoalan akan menjadi dilematis ketika seseorang dipaksa memilih untuk menjadi seperti yang ia kehendaki atau menjadi seperti yang dunia/pasar/uang kehendaki. Memilih menjadi seperti yang ia kehendaki mungkin akan membuatnya tampak tidak diperlukan pasar, tetapi menjadi seperti yang pasar kehendaki akan membuatnya jauh dari kehendak diri. Secara ekstrim barangkali, tidak mendapat pekerjaan atau menjadi pekerja?

Saya pribadi masih gamang untuk menentukan salah satunya. Namun belakangan ada kecenderungan untuk menjadi seperti yang saya kehendaki. Muncul keyakinan, dengan menjadi seperti yang saya kehendaki saya akan mampu memaknai diri sekaligus bermanfaat bagi orang lain. Saya tidak terlalu peduli apakah saya akan kesulitan mendapatkan pekerjaan karena saya tidak berusaha mendapatkannya. Saya ingin bermanfaat bagi orang lain; masyarakat dan lingkungan. Karena itulah pekerjaan bagi saya. Sumber tulisan ini, di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.