Jerat Kekuasaan di Balik Tayangan Infotainment

Kajian yang mengungkapkan bahwa televisi adalah arena kekuasaan telah banyak dilakukan.sejak era george gerbner (living with television), grame burton (talking television), hingga ishadi sk (media dan kekuasaan: televisi di hari-hari akhir presiden soeharto) simpulan bahwa televisi adalah arena kekuasaan terus menerus dikemukakan.

Meski demikian, kajian tentang perilaku televisi tetap menarik dilakukan karena televisi adalah subjek yang dinamis. Televisi terus berkembang, bermetamorfosis menempati peran sosial baru yang tidak pernah diduga sebelumnya. Untuk memahami televisi dalam konteks yang lebih ini, diperlukan kajian yang terus menerus dengan memanfaatkan berbagai disiplin ilmu.

Nah, buku media dan kekuasaan:antrologi membaca dunia kontemporer karya agus maladi irianto coba mengisi kekosongan itu dengan menawarkan pandangan antropologi untuk memahami televisi. Meski bukan tawaran yang betul-batul baru, pandangan ini membuat kajian terhadap televisi menjadi lebih lengkap. Dengan pendekatan itu ia mengulas aspek-aspek  human dari televisi, yaitu praktik sosial yang dilakukan manusia.

Lebih spesifik, agus memfokuskan kajiannya terhadap infotainment, sebuah mata acara setengah berita yang lebih banyak mengulas kehidupan selebritis. Dengan pilihan itu, agus menguraikan tipe relasi antara orang satu dengan orang lain dalam produksi, distribusi, dan penayangan acara infotainment.

Ia berargumentasi, tersajikannya acara televisi tersebut pada dasarnya melalui proses konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi pengetahuan para pelaku yang terlibat, yang kemudian diekspresikan secara tekstual. Dalam proses konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi pengetahuan para pelaku itulah, berlangsung kontestasi kekuasaan (hlm. 2 dan 3).

Pada bab ketiga misalnya, agus menguraikan enam relasi. Pertama, relasi antarindividu dalam rumah produksi. Kedua, relasi antara rumah produksi dan narasumber. Ketiga, relasi antara rumah produksi dan stasiun televisi. Keempat, relasi antara stasiun televisi dan pemasang iklan. Kelima, relasi antara stasiun televisi dan lembaga survei penonton. Enam, relasi antara stasiun televisi dan negara.

Dalam enam tipe hubungan itulah agus menunjukkan bahwa tayangan infotainment adalah arena kontestasi antarmanusia, termanifestasi dalam serangkaian praktik sosial yang spesifik. Tidak hanya menjadi arena kontestasi orang-orang terlibat, partai politik dan organisasi kemasyarakatan adalah pemain yang terlibat dalam tayangan infotainment.

Peran partai,misalnya, tampak ketika partai amanat nasional (pan) memprotes sebuah production house yang memberitakan perceraian gusti randa dengan ita purnamasari. Pan merasa ikut dirugikan karena nama ketua umum mereka saat itu, sutrisno bachir, disebut sebagai penyebab keretakan rumah tangga selebritis itu. Adapun kehadiran ormas, misalnya, tampak ketika forum betawi rempuk (fbr) berencana mengusir inul daratista karena ratu ngebor itu menolak ruu pornografi.

Sebagai peneliti, agus telah berupaya mengemas bukunya dengan populer. Terutama pada bagian keempat. Ia membuat uraian renyah, disertai data kuantitatif yang rapi, untuk menunjukkan persaingan antara infotainment satu dengan infotainment yang lain. Ia berhasil membimbing pembaca untuk bertualang ke rimba televisi, sekaligus menunjukkan bahwa hukum “memaka atau dimakan” juga berlaku di sana.

Namun, uraian yang renyah pada bagian empat tidak dapat ditemukan di bagian lima. Pada bagian akhir ini, penulis yang sedari awal ramah kepada pembaca justru menjaga jarak dengan menguraikan argumentasi-argumentasi teoretik yang pelik.

Tentu saja ini bukan kekeliruan. Toh, buku ini memang dikemas ulang dari disertasi doktoral penulis di Universitas Indonesia (UI). Namun risikonya, uraian pada bagian kelima justru membuat pembaca awam, yakni mereka yang belum akrab dengan michele foucault dan anthoni giddens, terseok-seok mengikuti penjelasannya.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.