Jejak Pengrajin Letter Kalilarangan Solo

PULUHAN gerobak letter berderat di sepanjang Jalan Kalilarangan, Kartopuran, Solo. Tidak kurang dari 80 gerobak di sana menawarkan jasa pembuatan letter atau plat nomor. Mulai beroperasi sejak 1975,para perajin tetap bisa bertahan hingga sekaang. Bagaimana kisah mereka?

Salah satu perajin letter itu bernama Didit Kristianto. Gerobaknya berukuran 2 x 1 meter terletak di muka Jalan Kalilarangan. Dari dalam gerobak Kamis (31/1) siang ia tampak asyik mengerjakan orderan. Tangannya cekatan membuat pola berupa huruf dan angka dengan skotlet. Pola yang sudah jadi lantas ditempel pada plat aluminium selebar 15 x 30 centimeter.

“Kalau yang ini untuk sepeda motor. Sepasang, harganya 30 ribu,” terang laki-laki berjenggot itu.

Didit sudah 10 tahun melakoni profesi sebagai perajin letter. Pertama kali ia membuka lapak pada 2001 setelah beberapa tahun sebelumnya membantu sodaranya yang punya usaha sama.

Selain melayani pembuatan plat nomor baru, Didit mengaku siap melayani reparasi plat yang sudah usang. Tindakan reparasi kerap ia lakukan pada plat nomor yang rusak, mengelupas, atau penyok akibat benturan. Dengan reparasi, plat akan kembali baru tanpa membuang logo Dirlantas yang ada.

Berprofesi sebagai perajin letter, bagi Didit, punya tantangan sendiri. Saat sepi ia ditantang menggaet pelanggan. Saat ramai, ia harus berbagai order dengan perajin lain.

“Sehari saya cuma sanggup kerjakan paling banyak lima. Kalau ada pesanan melebihi itu, saya bagikan ke teman-teman,” ujar pria yang pernah bermukim di Mojokerto ini.

Beruntung, Didit tidak perlu memikirkan pasokan bahan baku. Setiap kali butuh ia bisa langsung ambil dari pengedrop. Ia akan ambil beberapa lempeng plat aluminium yang sudah dipotong. Dengan begitu, ia tinggal membuat cetakan angka dan huruf jika sewaktu-waktu ada pesanan.

“Satu pasang saya beli dua puluh ribu,” terang Didit sambil menunjukan dua plat aluminium yang masih polos.

Sejarah Panjang

Meski sebagian perajin letter masih menggunakan gerobak, kerjinan letter di Kalilarangan ternyata membentangkan sejarah panjang. Kerajinan letter sudah dimulai sejak 1975, diperkenalkan oleh beberapa anak muda dari Surabaya.

Sebelum menempati Jalan Kalilarangan, perajian letter menjajakan jasanya di depan Toko Obral Jalan Gatot Subroto. Karena jumlah perajin terus bertambah, mereka dipindahkan. Adalah Ketua DPRD Kota Solo Yuslan Basir yang menyampaikan usulan prmindahan.

Maryanto, Ketua Paguyuban Perajin Latter Kalilarangan mengenang, perpindahan dilakukan pada media 1982.

“Kebetulan Pak Yuslan kan rumahnya dekat sini. Beliau tahu kalau Jalan Kalilarangan bisa ditempati. Sejak itu kami pindah ke sini,” ujar pria 57 tahun itu.

Generasi pertama perajin letter adalah anak muda asal Surabaya, antara lain Budi Santoso, Asnadi, Sukari, dan Rifai. Cak Budi, sapaan akrab Budi Santoso, menawarkan jasa pembuatan letter secara asongan. Dengan kotak kayu yang bisa dibawa ke mana-mana, ia menawarkan pada warga yang melintas di Jalan Gatot Subroto.

Sejak usaha Cak Budi sukses, warga Kartopuran banyak yang mengikuti. Mereka kemudian membuka lapak-lapak baru.

“Karena makin banyak, akhirnya Pak Yuslan usul supaya dipindahkan ke sini,” terang Maryanto.

Maryanto sendiri termasuk generasi awal perajin leter. Ia membuka usaha sejak 1982 dan kini sudah memiliki dua lapak yang ia beri nama Inna Letter. Salah satu putranya, Gunawan, melanjutkan usaha Maryanto.

Didapuk menjadi ketua paguyuban sejak 1992 membuat Maryanto paham  betul dinamika para perajin.  Menurutnya, para perajin perlu bersiasat supaya tidak kalah dengan teknologi.

Ia mengisahkan, saat ia masih menggunakan logus misalnya, datang teknologi bernama komputer. Logus yang diproduknya kalah cepat dan ditinggalkan. Solusinya, ia melajukan diversifikasi produk. Selain memproduksi plat nomor ia juga memproduksi papan nama berbahan kuningan. Ia juga sempat memproduksi spanduk.

Tapi spanduk tidak bertahan lama. “Kalah sama MMT,” terangnya.

Meski begitu, ia bersyukur order masih terus masuk. Pemesan plat nomor bahkan tidak hanya dari Solo, tapi Sukoharjo dan Wonogiri. Ia bekerja sama dengan perajin lain untuk berbagi pekerjaan.

“Sesama perajin kan guyub. Kalau yang lain sedang repot karena terlalu banyak pesanan, atau tidak mau mengerjakan karena pesanan cuma satu, mereka akan lempar ke saya,” ujarnya pada siang yang terik itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.