Panggilan Kemanusiaan Rita Retnaningtyas

RITA RETNANINGTYAS menjadi pembicaraan publik, tidak hanya di Semarang tapi juga Indonesia, ketika Jepang dilanda gempa dan tsunami, Maret lalu. Warga Kelurahan Srondol Kulon, Kecamatan Banyumanik, Semarang ini mendapat sanjungan karena aksi kemanusiaan yang dilakukannya. Bekerja sebagai perawat di Miyagi, Rita menunjukkan aksi heorik membantu korban gempa di negeri Sakura ini.

Rita Retnaningtyas berkerja sebagai perawat di Miyagi National Hospital sejak 2009. Rita Retnaningtyas dikirimkan ke Jepang oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) melalui program kerjasama G2G (Goverment to Goverment) antarpemerintah Indonesia dan Jepang. Alumni Akademi Keperawatan RS Telogorejo Semarang ini menandatangani kontrak kerja di Jepang selama tiga tahun.

Belum genap dua tahun di sana, Jepang dilanda gempa dan tsunami yang dahsyat. Pada 11 Maret lalu, sekitar pukul 14.30 waktu setempat, Rita Retnaningtyas sedang memasak di dapur di apartemennya.

Setiap hari jumat, Rita Retnaningtyas memanfaatkan waktu liburnya untuk ikut kursus Bahasa Jepang dan menulis Huruf Kanji. Tapi hari Jumat itu, Rita Retnaningtyas sedang libur akhir semester sehingga ia hanya istirahat di apartemennya.

Tiba-tiba sebuah gempa datang, Rita Retnaningtyas pun berlari keluar apartemennya. Sementara orang-orang di luar berteriak “Jising jising!” yang artinya “Gempa gempa!”.

Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah gempa yang sangat kuat kembali menggunjang Jepang. Saat itu Rita Retnaningtyas sadar kalau gempa kali ini gempa dahsyat, bukan gempa biasa yang kerap terjadi.

Sesaat itu juga, Rita Retnaningtyas langsung berlari menuju bangsal lantai tiga Miyagi National Hospital yang tidak jauh dari apartemennya. Meski masih panik karena gempa 9.0 SR itu, Rita Retnaningtyas merasa punya tanggung jawab sebagai perawat.

Di rumah sakit tempat ia berkerja itu, Rita Retnaningtyas menyatu dengan perawat-perawat lain untuk memberi pertolongan kepada pasien. Tak berapa lama setelah berada di lantai tiga Miyagi National Hospital itu, Rita Retnaningtyas menyaksikan langsung gelombang tsunami.

Bayangan tsunami Aceh ada di bayangannya, Rita Retnaningtyas hampi pasrah karena rumah sakit itu hanya berjarak lima kilometer dari pantai. Tapi untungnya, rumah sakit “dilindungi” oleh bukit yang tidak jauh dari situ.

Perawat berumur 35 tahun itu kemudian ikut mengevakuasi pasien ke atas bukit, bukit itu memang disiapkan untuk lokasi evakuasi bila terjadi bencana. Setelah tsunami berlalu, beredar kabar bahwa sebagian wilayah Prefektur Miyagi telah diluluh-lantakkan gempa dan tsunami.

Sehari setelah tsunami itu, Rita Retnaningtyas masuk kembali ke Miyagi National Hospital. Rita Retnaningtyas terharu dengan seorang temannya, perawat asli Jepang. Meskipun kehilangan suami dan anaknya karena tsunami, temannya itu tetap bekerja seperti biasanya. Sekalipun keluarganya menjadi korban, perawat tetap menolong pasien dan korban tsunami.

Karena semangat dari temannya itu, Rita Retnaningtyas memutuskan untuk tetap berkerja menolong para korban, meskipun kepala perawat menyarankan Rita Retnaningtyas untuk menyelamatkan diri dari Jepang. Setelah itu, Rita Retnaningtyas tinggal bersama para pengungsi sambil merawat korban yang sakit.

Lima hari setelah gempa, Rita Retnaningtyas baru bisa memberi kabar kepada keluarganya di Semarang. Dua pekan setelah tsunami, pihak rumah sakit mengizinkan cuti sebulan untuk pulang ke Indonesia. Semua biaya ditanggung oleh pihak rumah sakit. Rita Retnaningtyas baru tahu kalau media di Indonesia sedang membicarakannya ketika ia mengurus administrasi di Kedubes RI Tokyo.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojuru, memberikan apresiasi kepada Rita Retnaningtyas karena pengorbanannya menolong para korban tsunami. Saat ini, Rita Retnaningtyas sudah sampai di kampungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.