Jeans dan Bahasa, Pertarungan Selera Tua dan Muda

Pernah dimarahi dosen karena kuliah pakai celana jeans? Kalau pernah alami itu, pasti Anda kuliah saat Inggris dipimpin Raja Edward I. Hahaha.
 
Pada masa lalu, jeans memang mendapat persepsi negatif. Ia tidak diperlakukan semata-mata sebagai jenis material busana, tetapi juga ditafsir merepresentasikan nilai tertentu.
 
Seperti banyak tafsir, tafsir terhadap jeans yang demikian punya kekuatan dominan karena didengungkan oleh subjek-subjek dengan otoritas besar. Dan seperti banyak tafsir, tafsir terhadap jeans bisa sangat berlainan dengan makna awalnya.
 
Konon, jeans dirancang sebagai celana bagi pekerja pertambangan emas. Jacob Davis dan Levi Strauss bekerja sama memopulerkannya.
 
Ini wajar karena material ini memang menggunakan serat kuat, jenis yang cocok untuk orang dengan aktivitas fisik tinggi.
 
Saat semakin pop, jeans lepas dari konteks historis sebagai baju khas pekerja. Celana jeans kemudian berkembang menjadi simbol gaya hidup casual yang bebas, suka melawan, ala Generasi X.
 
Kesan inilah yang barangkali membuat jeans relatif tak diterima di lingkungan formal: kantor, akademik, dan birokrasi.
 
Semangat “pemberontakan” yang dibawa jeans – tampaknya – dianggap tak relevan dengan semangat “ketertiban” dan “kedisiplinan” yang telah menjadi tradisi di lembaga-lembaga itu.
 
Tapi tafsir terhadap jeans terus berubah.
 
Sekarang, jeans mungkin telah dianggap sebagai perlambang keluwesan. Dengan tafsir itu, jeans menjadi relatif berterima.
 
Dunia bisnis, birokrasi, dan akademik menerima jeans dengan relatif terbuka.
 
Sekarang, bukan cuma para manajer yang suka necis pakai jeans ke kantor. Mahasiswa dan dosen juga banyak yang pakai celana jenis ini saat di kampus.
 
***
 
Saya melihat, jeans adalah contoh yang baik untuk melihat bahwa busana adalah arena pertarungan selera anak muda dengan seniornya yang lebih konservatif.
 
Jeans sekaligus bukti, bagaimana pun sengitnya pertarungan itu, pada akhirnya selera anak-anak mudalah yang menang.
 
Selera anak muda berpeluang menang bukan terjadi karena secara objektif ia lebih baik. Tapi, karena anak muda selalu punya cara membuat gagasannya lebih berterima.
 
Lagi pula, tanpa harus bersiasat memenangkan pertarungan, anak muda selalu berpeluang menang karena “musuhnya” adalah para gaek yang tak panjang sisa usianya.
 
Bersabar dan diam saja, anak muda akan menang dengan sendirinya. Haha. Kedjam!
 

“Pertarungan” gagasan di balik jeans ini kerap saya ingat ketika saya berlagak menjadi orang tua dan menasihati anak-anak muda untuk menggunakan bahasa yang baik.

Misalnya, saya kerap menasihati mahasiswa: menulislah dengan tertib, gunakan struktur wacana yang jelas, kalau nulis karya ilmiah: strukturnya ya pendahuluan, landasan pustaka, metode, analisis, dan penutup.

Nasihat itu saya berikan di kelas karena saya sering baca tulisan junior-junior saya itu cenderung “urakan”. Hubungan logis antarbagian kalimat sering tidak nyambung!

Nah, tiap saya menasihati anak-anak muda itu, saya membatin: jangan-jangan selera berbahasa yang sedang saya “desakkan” sebagai “yang baik” kepada para junior ini sama seperti senior-senior saya yang dulu melarang jeans. Aturan itu, jangan-jangan bias generasi.

Ini sangat mungkin sebab, misalnya, ke depan anak-anak muda memang tidak perlu keterampilan berbahasa yang tertib. Toh, para komedian TV, yutuber, dan Instaseleb justru disukai karena bahasa mereka yang tak tertib, cenderung ekspresionis.

Percayalah, bagi anak-anak muda, sosok seperti itu lebih diidolakan daripada guru dan dosen dengan tulisan akademik yang baik.

Kalau ada Youtuber yang bicara dengan struktur gramatikal seperti Kak Seto, pasti penontonnya sedikit.
Sementara orang seperti Zaskia Gotik punya 10,8 juta pengikut berkat “kecerdasannya” bicara suka-suka dengan mengabaikan kaidah bahasa.

Jadi, apakah bahasa yang tertib adalah kredo yang akan berumur panjang? Jangan-jangan seperti kredo menghindari jeans, segera hilang setelah pendukungnya mati dan tubuhnya dimakan cacing.

 
Salam hormat,
 
Rahmat Petuguran
Anak muda yang lagi merasa tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.