Jatuh Cinta Versus Jatuh Hati

Seseorang bertanya kepada seorang. Seorang yang ditanyai dan seorang yang bertanya adalah diri saya sendiri. Pertanyaannya: “Adakah beda antara jatuh cinta dan jatuh hati? Dimana letak perbedaan antara kedua ungkapan itu? Bagaimana penjelasannya?”

Dalam beberapa bahasa—secara arbitrer ataupun secara kebetulan, gejala-gejala perasaan seperti jatuh cinta, memiliki risiko berupa ‘kejatuhan’. Dalam bahasa Inggris fall in love; Prancis tombe amoureux; dan dalam Bahasa jatuh cinta. Semua merujuk kepada ‘kejatuhan’. Kekecualian [mungkin] ada dalam cita bahasa Arab.

[kemungkinan] hanya orang Arab yang tidak pernah jatuh cinta. Dalam ekspresi Arabia, cinta [lebih sering] diungkap sebagai ‘peristiwa’ [waqa’ah] atau ‘kehadiran’ [hadara hubb fi qalbi]—peristiwa/kehadiran rasa cinta. Dan apabila kita cermati lebih jauh, sudah berabad-abad para pujangga Arabia dalam ekspresi karya-karya mereka mempunyai kecenderungan untuk memaknai cinta sebagai suatu peristiwa/fenomena misterius dan transenden yang hadir dalam fenomena kejiwaan.

Dalam ungkapan religius yang masyhur di kalangan umat Islam, seperti: “Syukur kita panjatkan ‘kehadirat Yang Maha Kuasa ….” atau “ilâ hadratin nabiyil musthafa… alfâtihah!” misalnya, di dalam ungkapan hadirat/hadrat tersebut itu sudah terkandung makna dan maksud tersirat tentang kehadiran rasa cinta yang transenden antara hamba dengan Tuhan ataupun terhadap Rasulullah SAW secara resiprokal. Tak terdapat cita ‘kejatuhan’ pada kedua ungkapan tersebut. Sebab, dalam keyakinan umat Islam, sikap batin berupa kesyukuran kepada Tuhan atas limpahan cintaNya [kasih-sayang] yang hadir dalam kehidupan manusia, dan penghormatan serta kecintaan kepada Rasul, ahlul bait, dan para sahabat Beliau, justru akan menaikkan [meninggikan] derajat seseorang yang mengamalkannya.

Secara blak-blakan, Andre Malraux, seorang pemikir Prancis bahkan mengatakan:
“On ne monte pas amoureux; on tombe. La langue française dit que l’amour est une chute. Tous les mots chinois expriment l’amour sont négatif. L’amour en chine, est une maladie ridicule; ‘Orang tak pernah dikatakan ‘naik cinta’, tetapi jatuh! Dengan kata lain cinta adalah ‘kejatuhan’. Semua kata-kata dalam bahasa China mengekspresikan cinta dengan cita negatif. Cinta di China dianggap sebagai semacam ‘penyakit’ yang aneh.” [Malraux: Elle a des Ailles, 17 mars 1975]

Lalu, jika ada ungkapan seorang kepada seseorang: “Aku jatuh cinta padamu ….”; apakah bedanya dengan ungkapan: “Aku jatuh hati padamu …”? secara spesifik, apakah sebenarnya yang dikandung dari masing-masing ekspresi tersebut?

Di dalam ungkapan bahasa Inggris ada yang mengatakan: “You are always in my mind …”, tetapi di lain waktu ada juga yang mengatakan: “You are always in my heart…”. Varian gejala apalagikah ini? Jika cinta itu gejala atau fenomena, sebenarnya dia berlangsung di pikiran ataukah di hati?

Apabila terjemahan bebas dari ungkapan “You are always in my mind …” adalah ‘Aku selalu memikirkanmu’ dan “You are always in my heart…”; ‘Aku selalu mengenangmu’, muncul kecurigaan bahwa pikiran/ingatan berada di pikiran [/otak], dan kenangan berada di hati.

Di dalam lema/kosa Bahasa situasi bisa lebih kalwut [: kalut-mawut] lagi. Sebab, dalam lagu-lagu, syair, puisi, prosa, novel, ekspresi, bahkan ungkapan rayu menggombal, segala yang berkait kelindan dengan cinta, ia bisa berada di hati, pikiran, jiwa, kalbu, nurani, jantung, kepala, dan dada, dst. Bahkan, secara amat tersirat bisa bermakna ‘kelamin’. Lagu berjudul Cinta Satu Malam, misalnya, secara vulgar-figuratif menyiratkan Poi [: point of interest] dari setiap kata ‘cinta’ dalam lariknya merujuk kepada satu hal saja, yaitu seks. Gejala peyoratif [: makna terselubung] semacam ini tersedia melimpah dalam lagu-lagu yang diciptakan orang di seluruh dunia dalam beragam bahasa. Bahkan secara tengil, Malraux pernah menulis: “…. di balik selubung kata ‘cinta’ ada ‘sosok’ hitam berbulu….”

Nah, ada yang bisa bantu menyingkap lebih jauh fenomena cinta di tema ini?

I Yasir Arafat, pejatuh (dan) pecinta

Sumber gambar: di sini.
Facebook Comments

1 Comment

  1. Wisata Dunia

    October 6, 2015 at 4:09 pm

    wahahaha… karena cinta selalu bermakna ganda, harap ditelisik lagi mana makna yang sedang dibawa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.