Jarak Sosial, Mengapa Cenderung Berkurang?

Suatu malam ada sejumlah mahasiswa yang datang ke rumah. Mereka meminta saya mengajari penulisan esai.

Di hari yang lain, ada gerombolan mahasiswa lain yang datang untuk memanen ace, memakan seperlunya, dan membungkus sisanya.

Di hari lain lagi, gerombolan yang lain lagi datang ke rumah membawa daging dan arang. Mereka minta izin untuk membakarnya di pekarangan rumah.

Kelompok yang terakhir itu, tentu tak sekadar numpang bakar daging. Mereka juga masak nasi, membuat minum, dan setelahnya: mencuci piring yang mereka pakai.

Sebagai tuan rumah, saya senang banyak mahasiswa yang datang ke rumah. Kehadiran mereka sungguh menghibur, mengingatkan saya pada pasal 33 UUD 1945. Haha.

Di sela-sela rasa terhibur itulah, kadang muncul pertanyaan: apakah kedatangan mereka adalah normal, atau hanya baru-baru ini dianggap normal?

Pertanyaan itulah yang mengantar saya pada satu kesimpulan bahwa masyarakat kita sedang mengalami perubahan struktur akibat berkurangnya jarak sosial.

Pada masyarakat feodal, jarak sosial antara satu kelompok sosial satu dengan lainnya bisa sangat tegas. Para priayi berkumpul dengan sesamanya sebagaimana petani juga hanya bisa berkerumun dengan sesamanya. Ada mekanisme sosial yang membuat aturan itu tampak logis, berterima, bahkan wajib dipatuhi.

Jika priayi mendekati petani miskin, itu bentuk kerendahan hati yang tidak lazim. Jika anak petani mendekati komunitas priayi, itu mungkin sebuah kekurangajaran.

Tapi baru-baru ini, orang-orang Jogja mana pun boleh “berteman” dengan GKR Hayu, mengirim direct message, dan membercandai putri sultan itu tentang rencananya memakai drone jammer untuk menghalau drone yang terbang di atas upacara adat.

Seorang karyawan magang juga bisa mencegah wakil direktur keuangan tempatnya bekerja untuk menanyakan suatu hal.

Dan seperti yang saya alami: mahasiswa bisa main ke rumah dosen tanpa rasa canggung yang berlebihan.

Ya, masyarakat kita sedang berubah akibat jarak sosial semakin tidak relevan.

Dulu, jarak sosial terbentuk karena distribusi kekuasaan yang cenderung terpusat. Institualisasi membuat orang-orang di puncak piramide kekuasaan memiliki akses penuh terhadap kelas di bawahnya. Sebaliknya, orang-orang bawah tak memiliki akses ke atas kecuali pihak atas mengizinkannya.

Dalam dunia pendidikan, pola semacam itu bisa tampak dalam perilaku guru dan dosen yang otoriter. Guru adalah penguasa kelas, dalam arti yang sesungguhnya. Guru pintar, siswa tidak tahu. Guru arif, siswa lugu.

Di lingkungan kerja, hubungan kasubbag, kabag, kepala biro, dan kepada dinas bisa benar-benar ketat.

Di lingkungan keluarga, jarak psikologis ayah dan anak bisa benar-benar jauh. Untuk memandang mata ayah saat dia marah saja, itu bentuk kelancangan yang mungkin tidak bisa diterima.

Keketatan hubungan herarkial seperti itu dipelihara karena sesuai dengan struktur yang “benar” demi “keteraturan” dan “ketertiban”.

Tapi kondisi kini berubah. Kekuasaan tidak lagi berpusat secara tradisional pada institusi melainkan terdistribusi kepada pribadi atau perseorangan. Ini terjadi karena infrastruktur teknologi telah memungkinkan orang per orang melakukan pekerjaan yang satu atau dua dekade lalu hanya mungkin dilakukan institusi atau korporasi besar. Institusi kehilangan prestisnya.

Hingga awal akhir 90-an, internet hanya dimiliki kantor pemerintah dan perusahaan besar. Karena itulah, hanya institusi dan korporasi yang memiliki website, bisa mengelola “kantor berita”.

Sekarang, remaja berusia 12 tahun saja menggenggam piranti yang terhubung ke internet saat boker. Dengan piranti itu dia bisa membangun jejaring tanpa batas, membangun fanbase, dan membangun pengaruh kepada masyarakat luas.

Institusi tradisional terancam kebangkrutan karena kekuasaan yang dulu eksklusif dimilikinya kini menjadi jajan pasar yang bisa diperoleh dengan recehan.

Seorang profesor sejarah dengan keilmuan matang tidak lebih “berwibawa” daripada Wikipedia. Pelatih tari tersertifikasi mungkin kekurangan murid karena dikalahkan Youtube. Meski sedih, saya juga meramal perguruan tinggi akan kehilangan relevansinya ketika aplikasi-aplikasi pendidikan semakin berkembang dan diterima luas.

Distribusi kekuasaan menimbulkan perilaku sosial, politik, dan ekonomi yang benar-benar berbeda.

Saat manajer gaek meminta ruang khusus yang terpisah dengan stafnya, manajer milenial justru mengobrak-abrik kantor menjadi ruang terbuka dengan menyediakan meja kafe yang bisa dipakai bersama.

Saat guru-guru sepuh menganggap siswa yang menanyakan pelajaran lewat Whatsapp sebagai kekurangajaran, ada guru-guru muda yang asyik chating dengan siswanya membahas skor pertandingan MU dan Newcastle.

Jarak sosial benar-benar dalam perubahan besar. Orang semakin dekat, akrab, dan egaliter.

Perubahan ini, bagi sebagian orang tentu mengkhawatirkan. Ada nilai-nilai tradisi yang barangkali diterabas: kesantunan, misalnya.  Orang-orang tradisional akan mengkhawatirkan hubungan yang semakin dekat melanggar kepatutan dan sebagainya.

Tapi bagi anak-anak muda, ada makna baru untuk nilai-nilai itu. Mereka tak khawatir melanggar batas karena merekalah generasi yang akan membikin batasnya sendiri.

Salam,
Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.