Jangan ‘Insecure’ Mari Bersyukur

Oleh : Alifia Fadhila Ramadhani

Melihat apa yang kita miliki bukan melihat apa yang orang lain miliki dan menyalahkan diri sendiri. Penggunaan kata ‘insecure’ akhir-akhir ini sering muncul di media sosial yang diartikan sebagai bentuk bayangan hitam yang menghantui sebuah hubungan karena rasa cemas dan ketidakpercayaan diri. Hal tersebut menjadikan sebuah kebiasaan yang kerap dirasakan setiap orang.

Ketika seseorang berada di posisi lebih dari kita, lalu kita merasa down dan kecewa karena bukan kita yang berada di posisi tersebut. Seakan-akan menyalahkan seisi dunia bahwa Tuhan sedang tidak adil. Maka, itu yang dinamakan insecurity atau insecure.

Dilansir dari kabar.news (29/04/2020), mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Makassar gantung diri di kamar kostnya dan meninggalkan sepucuk surat. Mahasiswa asal Kabupaten Lawu Timur ini menulis surat yang berisi permintaan maaf kepada keluarga khususnya orang tua, rekan, dan kekasihnya. Ia mengaku hanya mampu menjalani kuliah hingga semester 4 dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini.

Kasus tersebut ada kemungkinan bahwa mahasiswa sedang mengalami depresi yang hebat sehingga memang sudah direncanakan sampai-sampai harus menulis sebuah surat. Seseorang yang sudah mampu dikatakan dewasa dengan umurnya sekarang ini ternyata belum mampu mengendalikan depresinya. Perasaan depresi bisa timbul karena sebuah peristiwa yang membuatnya sangat terpuruk hingga mempengaruhi pada emosional seseorang. Di saat seperti itu perlu adanya dukungan kuat dari orang-orang di sekitar, tetapi yang mampu mengubah itu semua adalah dirinya sendiri.

Dikatakan dalam laman alodokter.com (11/03/2019), seseorang yang sedang mengalami depresi memiliki ciri-ciri seperti kecemasan, kekhawatiran yang berlebihan, tidak mampu mengendalikan secara emosional dan merasa putus asa atau frustasi.

Kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dapat ditimbulkan dari hal-hal yang kecil yaitu insecure terhadap diri sendiri. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan rasa insecure dapat mengakibatkan stress yang berkepanjangan hingga sampai pada tahap depresi. Seseorang yang depresi butuh penanganan khusus oleh psikiater namun jika dibiarkan maka dapat menyebabkan seseorang berkeinginan untuk bunuh diri.

Sebenarnya, seseorang akan insecure karena merasa dirinya kurang, merasa belum mampu seperti kebanyakan orang, berada di posisi yang jauh dari manusia pada umumnya, atau bahkan dari circle pertemanan yang membuat dirinya merasa minder. Terlebih lagi lingkungan yang membuatnya sering mendengar kalimat yang menjatuhkan dirinya.

Melihat hal itu memang sangat mirip dengan kasus mahasiswa STMIK Makassar, ia mengalami insecure terhadap diri sendiri yang semakin lama membuat dirinya merasa stress yang berkepanjangan. Ia kurang mampu dalam mengendalikan emosionalnya sehingga muncul untuk melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Memang wajar saja jika setiap orang selalu ingin tampil maksimal dan tidak ada yang salah dengan itu, namun perlu diingat bahwasannya tidak ada manusia yang sempurna. Maka, perasaan kecewa terharap diri sendiri tidak perlu berlarut-larut hingga menimbulkan depresi yang berat.

Alangkah baiknya jika hal itu dihindari yaitu  dengan cara bersyukur atas apa yang kita miliki. Yakinkan diri sendiri bahwa kita mampu dan kuat karena kalau bukan diri kita siapa lagi? Cukup untuk tidak mendengarkan pembicaraan orang-orang di luar sana. Mulai untuk menggapai sejuta impian yang kita simpan dan buat perubahan untuk itu.

 

[ Alifia Fadhila Ramadhani ]

Opini ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah jurnalistik dari Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pedidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.