Industri Idol-idolan, Eksploitasi Hasrat Menjadi Bintang

Delapan belas ribu anak muda antre dalam sebuah pemilihan idola. Mereka bertahan di bawah terik matahari, di antara lalu-lalang kendaraan bermotor. Ketika mereka dinyatakan lolos, ekspresi bahagia membuncah. Sambil menunjukan “golden ticket” mereka berujar “Ini untuk Ibu saya.” Adapun mereka yang gagal, keluar dengan lemas, bahkan tak sedikit yang berderai air mata.

Hasrat menjadi idola, pusat perhatian, dan dihargai barangkali motif paling sederhana untuk membantu kita memahami tindakan mereka. Maslow, jauh-jauh hari telah mengemukakan tesis itu, dengan menyodorkan Maslow hirarki. Namun, teori itu terasa belum cukup lengkap menjelaskan “kerja keras” ribuan anak muda itu. Sebab, di balik hasrat beraktualisasi ada mekanisme industri yang bekerja merepresi.

Posisi ribuan anak muda yang berambisi menjadi idola perlu diperjelas dengan mengurai tipe relasi dengan industri di belakangnya. Pasalnya, pemilihan idola hampir selalu dikonsep sebagai materi industri hiburan. Adalah watak industri untuk mengeksploitasi pihak lain dalam aneka bentuk transaksi.

Postulat pemasaran lama, setidaknya yang dapat kita baca pada versi awal gagasan Kotler, menyebut transaksi terjadi karena ada supply anda demand. Namun belakangan terjelaskan, demand bisa diciptakan, melalui iklan. Industri menciptakan rasa ingin, membangkitkan imajinasi melalui media. Iklan kemudian digunakan sebagai juru doktrin, yang intens dan tampak bersahabat. Maka tak heran kalau Jobs, pendiri Aple, kemudian membuat postulat baru “banyak orang tidak menyadari apa yang mereka butuhkan, sebelum anda menunjukannya.”

John M Echols mengartikan idola sebagai bintang film pujaan. Idola, dalam kamus besar bahasa Indonesia, bermakna gambar, patung, atau orang yang dijadikan pujaan. Pujaan, sebagai objek material adalah sesuatu yang mengundang rasa kagum. Sederhananya, menjadi idola adalah menjadi sosok yang dikagumi orang lain.

Idola, pujaan, dan kekaguman berada pada wilayah psikologis. Maka, dengan simplifikasi, hasrat menjadi idola adalah hasrat memenuhi kebutuhan psikologis. Namun, ketika idola dikemas dalam industri hiburan, implikasinya melebar pada urusan ekonomi. Keyakinan ini tertanam melalui proses observasi bahwa sebagian besar orang yang menjadi idola (di industri hiburan) menjadi kaya.

Citra yang dibangun industri hiburan adalah proposal yang ditawarkan pada segenap pemirsa. Proposal yang ditawarkan melalui iklan dan sinetron. Tawaran menjadi terkenal dan sekaligus kaya tentu saja menggiurkan. Karena itu, belasan ribu anak muda meyakinkan diri layak menjadi idola. Kemudian, mereka menganggap kesusahan yang menyertai pencapaiannya sebagai jalan perjuangan.

Demikian agresifkah iklan dan sinetron memainkan persepsi khalayak? Budiman (2001) mengemukakan, menyaksikan televisi bukan semata mengarahkan pandangan pada layar. Jauh dalam dari itu, penonton memberi inteprestasi tayangan yang disaksikannya kemudian mengonstruksi situasi pada tayangannya sebagai situasi baru dalam hidupnya. Karena itu, menyaksikan televisi sejatinya juga praktik konsumsi. Dalam diam, para penonton tengah bertransaski nilai dengan para pengiklan dan pengelola televisi.

Pengaruh televisi menjadi semakin kuat karena apapun yang ditampilkannya selalu berefek performatif. Setiap tuturan  tidak semata-mata menyatakan sesuatu (to say things) melinkan juga secara aktif dan simultan menyatakan sesuatu (to do things). Jika muncul slogan “cantik itu kulit mulus bebas bulu” pada iklan pemulus kulit, iklan sebenarnya meminta pemirsa untuk membeli produk tersebut.

Kondisi semacam itu tidak hanya terjadi pada iklan, yang secara terang-terangan memiliki hasrat ekonomi, tetapi pada tayangan-tayangan lain seperti sinetron dan berita. Sinetron yang menampakan perempuan berpakaian mewah, tubuh langsing, dan menerima penghargaan dari lingkungannya juga menggerakan penonton untuk meniru. Atau acara masak-memasak, misalnya, yang mempertontonkan dapur indah, berhias keramik, dengan perlengkapan mahal, juga telah melahirkan demonstration effect pada penonton.

 

Ilusi Panggung

Panggung adalah ilusi. Di sanalah segenap angan dan ambisi digantungkan. Ilusi diciptakan industri untuk memelihara hasrat mengonsumsi. Dalam relasi “idol” peserta pemilihan idola sebenarnya adalah konsumen pemikiran. Mereka mengonsumsi nilai yang ditawarkan industri hiburan melalui iklan, sinetron, film, dan tayangan infotainment.

Sugesti bertubi-tubi ternyata mendapat tempat di tengah komunitas yang mempercayai keajaiban. Mitos “gadis biasa dipersunting pengeran” bersemayam dalam ingatan kolektif masyarakat. Menjadi sejahtera tak harus dilakukan dengan kerja keras dan menabung. Selain jalan linear itu, menjadi idola adalah cara yang lebih pintas.

Kondisi mental demikian juga dipengaruhi kondisi sosial ekonomi. Jalan pintas kerap menjadi pilihan dalam lingkungan sosial yang tak menghargai proses. Kerja keras, bagian tak terpisahkan proses, tak menjamin tujuan tercapai. Pada saat yang sama kemiskinan personal dan sosial tak menawarkan banyak jalan supaya seseorang bisa hidup sejahtera. Maka, spekulasi dengan memanfaatkan jalur mobilisasi tak terhindarkan. Menjadi idola adalah kesempatan langka.

Dengan konteks yang berbeda, kompetisi menjadi idola pernah dikisahkan Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dhukuh Paruk. Srinthil bocah belasan tahun mendadak terkenal setelah ditasbihkan menjadi the next ronggeng di dhukuh Paruk karena pesonanya. Kehidupannya pun berubah drastis dari anak yang biasa bermain di kebun menjadi idola yang menari di panggung besar. Ia menghidupkan kembali suasana dhukuh yang hampir mati menjadi begitu bergairah.

Dalam kondisi seperti ini eksploitasi sosial ekonomi terhadap “keidolaan” tak terhindarkan. Seorang laki-laki dewasa di Dhukuh Paruk misalnya, merasa bangga jika mampu ngibing bersama Srinthil. Tentu saja dengan terlebih dulu memberi sawer. Bahkan pada itu, keperawanan sang idola dilelang. Laki-laki mana pun, asal membawa banyak uang, bisa “memetik”mahkota sang idola.

Bisnis pertunjukan berkembang pesat kini. Jika Srinthil menjadi idola dengan tampil dari panggung ke panggung, “idola” menyasar jutaan pasang mata. Uang, motif paling purba pelaku industri, yang berputar pun miliaran. Meski dalam rupa yang tak sama, eksploitasi terhadap idola tentu bakal terjadi.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.