Indonesia Tidak Boleh Terserah

Baru-baru ini Indonesia menjadi trending topik disosial media dengan adanya tagar “Indonesia Terserah”. Hal ini merupakan bentuk kekecewaan dari para tenaga medis terhadap warga Indonesia dibeberapa daerah maupun kota yang mengabaikan bahkan melanggar protokol kesehatan untuk menghambat penyebaran wabah Covid-19.

Tentu saja para tenaga medis sangat kecewa. Disaat mereka berjuang memerangi virus ini yang mempertaruhkan nyawa mereka sendiri, bahkan sudah ada puluhan tenaga medis yang gugur saat bertugas, tetapi sebagian masyarakat Indonesia malah bersikap bebal, egois, seenaknya sendiri, dan tidak peduli yang berakibat membahayakan diri sendiri dan orang lain disekitarnya.

Dilansir dari laman m.cnnindonesia.com (Rabu, 20/05/2020) , berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan, jumlah kasus virus Covid-19 dari 19.000 lebih pasien positif, 4.500 lebih pasien yang sembuh, serta 1.200 lebih pasien meninggal. Ketua Gugus Tugas Covid-19, Doni Monardo mengatakan bahwa 81% masyarakat Indonesia ingin mengakhiri Pembatasan Berskala Besar (PSBB). Meskipun begitu, pemerintah tetap tidak akan mencabut PSBB yang dilakukan saat ini. Pencabutan PSBB tidak akan dilakukan bila masyarakat masih tidak patuh pada protokol kesehatan.

Perilaku sebagian masyarakat yang sampai sekarang menghiraukan protokol kesehatan pun semakin menjadi. Ada yang berburu baju lebaran di pusat perbelanjaan yang mengakibatkan tempat tersebut penuh dan sesak. Dan juga anak-anak muda yang malah mengadakan buka bersama dibeberapa tempat makan yang ramai juga. Hal ini pun menjadikan alasan ramainya tagar Indonesia Terserah. Rasa kecewa para tenaga medis membuat mereka hampir menyerah untuk melawan virus Covid-19 ini.

Anggota komisi kesehatan DPR RI Fraksi PDIP, Muhammad Nabil Haroen dalam TEMPO.CO (Kamis, 21/05/2020) meminta Pemerintah untuk mendengarkan suara publik yang diwujudkan melalui tagar Indonesia Terserah. Kebijakan-kebijakan yang tidak sinkron dapat membingungkan masyarakat. Munculnya tagar tersebut bisa menjadi bahan intropeksi di tengah fokus penanganan pandemi virus Covid-19.

Adanya beberapa kebijakan salah satunya adalah larangan untuk mudik. Tetapi malah akses tersebut dibuka dan pastinya menimbulkan kerumunan masyarakat di bandara, stasiun maupun terminal. Dan juga banyak masyarakat yang bepergian ke mall dengan santainya.

Pemerintah harus menghargai perjuangan para tenaga medis dan juga sebagian masyarakat yang mematuhi protokol kesehatan selama ini. Jangan sampai usaha dan perjuangan yang selama ini dilakukan menjadi sia-sia karena kebijakan Pemerintah yang tidak sinkron dan juga komunikasi antar pejabat negara yang tidak komprehensif. Dan juga jangan sampai kepercayaan publik menjadi hilang terhadap Pemerintah akibat mengabaikan fakta yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Kompas.com (Rabu, 01/04/2020) telah menggunakan istilah physical distancing atau jarak fisik sebagai cara untuk menghindari penyebaran virus corona lebih luas. Langkah ini bukan berarti bahwa secara sosial, seseorang harus memutuskan hubungan dan komunikasi dengan orang-orang yang dicintai atau dari keluarganya. Para ahli menyebut bahwa langkah ini “arah yang tepat”.

Perilaku masyarakat sangat ditentukan oleh latar belakang sosial, budaya dan religi. Dengan melihat latar belakang masyarakat Indonesia yang penuh dengan kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan, maka physical distancing, serta PSBB akan sulit pelaksanaanya. Menjaga jarak fisik ditengah pandemi seperti ini sangatlah penting dilakukan. Virus corona diketahui penyebaran utamanya melalui pernafasan, terutama orang yang sedang batuk atau bersin. Oleh karena itu, menjaga jarak fisik dianjurkan untuk mengurangi penularan.

Masih ada harapan dan kesempatan untuk memutus penyebaran wabah Covid-19 ini. Solusinya yakni, kita mematuhi protokol kesehatan yang ada. Jangan keluar rumah bila bukan urusan penting. Kita harus memberi dukungan dan semangat bagi para tenaga medis agar tidak menyerah. Selain itu, Pemerintah harus tegas dengan memberikan sanksi yang cukup berat bagi masyarakat yang melanggar PSBB. Tak hanya itu, Pemerintah harus bersikap konsisten terkait dengan kebijakan yang dikeluarkan dan tidak plin-plan. Jika kebijakan Pemerintah tidak diperbaiki, maka akan terjadi kekacauan di masyarakat. Maka dari itu, mari kita mematuhi protokol kesehatan dari Pemerintah serta mengisolasi diri dirumah masing-masing.

[Firliana Damayanti]
Artikel opini ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah Jurnalistik dan jurusan Kurikulum Dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.