(Yang Mengaku) Ilmuwan Menggonggong, Tukang Las Tetap Berlalu

Ada seorang tukang las yang mengaku bisa bikin tangan robotik. Ini jenis teknologi yang barangkali cuma ada di film Iron Man. Ini alat canggih, apalagi bisa digerakan dengan pikiran. Publik terhenyak, hebring, setengah tidak percaya bahwa seorang tukang las bisa bikin elektroensefalografi dari barang rongsokan.

Bisa diduga: setelah dibanjiri pujian, si tukang las akan dibanjiri tuduhan bahwa dia membual. Bisa diduga: tuduhan itu pasti datang dari seorang (yang mengaku) terpelajar. Dengan kata-katanya yang akademis, dia simpulkan bahwa si tukang las bohong.

Apakah si akademisi terpelajar itu sudah meneliti alat bersangkutan? Belum. Dia cuma lihat fotonya di internet. (Internet? ROTF)

Saya ingin menyalami orang (yang mengaku) ilmuwan itu. Dia pasti merasa harga dirinya terinjak-injak. Masa iya, dia yang sekolah tinggi-tinggi hingga hampir modyar gak bisa bikin alat begitu, si tukang las malah (mengaku) bisa?

Saya juga memaklumi, kalau si ilmuwan akan lebih offensif untuk membuktikan kalau temuan si tukang las adalah bualan daripada membuka kemungkinan (sekecil apa pun) bahwa si tukang las benar.

Kalau ternyata banyak yang justru percaya kepada si tukang las daripada si ilmuan, si (orang yang merasa lmuwan) punya argumen ringkas: kalian bodoh, mudah dibohongi. Ini kan kerjaan wartawan abal-abal dari media aba-abal. Pokoknya sama sekali tidak ada kemungkinan kalau si tukang las benar lah. Masa tukang las bisa bikin tangan robotik? Hah?

Bagi (yang mengaku) terpelajar itu, sama sekali tidak ada kemungkinan bahwa si tukang las memang berbakat. Bagi (yang mengaku)  ilmuwan itu, pokoknya kalau barang canggih, pasti harus dibuat oleh manusia terpelajar sepertinya. Tukang las? Pasti bohong! Pasti! Tidak ada kemungkinan lain.

Mengapa si ilmuwan tidak menemui si tukang las, membuka kemungkinkan kalau alat itu adalah sebuah rintisan? Siapa tahu, dengan pengetahuannya sebagai (ang mengaku) ilmuwan dia bisa bantu si tukang las mewujudkan tangan robotik yang sesungguhnya.

“Kerja sama dengan tukang las? Mending saya tuduh dia tukang kibul aja, daripada harus repot-repot mikir. Lagian, sebagai orang (yang menganggap dirinya) terpalajar, saya ini punya kerjaan. Mending ngantor, seperti biasa. Ngapain capek-capek ngurusi tukang kibul?”

Sumber gambar: rakyatku.com

New Picture (8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.