Ikan-ikan dari Laut Merah, Bahagia dan Nestapa di Mata Danarto

Ikan-Ikan dari Laut Merah Danarto

MANUSIA baik, akan menerima kebaikan. Manusia jahat, akan menerima musibah dan penderitaan. Konsep itu, sejenak, mengingatkan pembaca dengan konsep karma. Konsep itu berpusat pada ajaran bahwa setiap hal yang dilakukan manusia akan kembali kepadanya.

Meski tak menggunakan istilah “karma”, cerpenis Danarto agaknya termasuk yang percaya bahwa mekanisme seperti itu berlaku dalam kehidupan manusia. Kepercayaan itulah yang ia representasikan dalam sejumlah cerita yang terhimpun dalam buku Ikan-ikan dari Laut Merah (Diva Press, 2016).

Ada 19 cerita pendek dalam buku yang sebelumnya diterbitkan dengan judul Kacapiring ini.

Narasi besar, bahwa “orang baik akan menerima kebaikan, ornag jahat akan menerima derita” tergambar pada hampir seluruh cerita. Orang-orang baik, dalam cerita-cerita tersebut, menerima “hadiah” tak terduga. Demikian pula orang jahat: mendapat derita yang kerap kali di luar nalarnya.

Melalui gaya bertutur yang oleh banyak orangdisebut sebagai realisme magis, Danarto berusaha membolak-balikkan karma sebagai mekanisme yang sangat rahasia. Kebaikan dan kejahatan di mata manusia, ternyata tidak selalu sama dengan kebaikan dan kejahatan di mata Tuhan.

Tokoh-tokoh yang oleh manusia dianggap jahat, justru di hadapan Tuhan memiliki kebaikan sehingga menerima berbagai ganjaran dengan cara-cara yang di luar nalar.

Dalam cerpen Lailatul Qodar, contohnya Danarto menggambarkan bahwa hadiah bagi manusia baik ternyata berupa “jalan ajaib” yang membebaskannya dari kemacetan panjang saat mudik ke Jogja.

Satoto dan keluarganya terjebak kemacetan di jalan tol. Mobil yang mereka kendarai tak bergerak beberapa jam.

Dengan magis, Satotot tiba-tiba melihat ada sebuah jalan baru yang sepi. Bukan hanya sepi, sehingga kendaraan mereka bisa melaju dengan lancar, jalan itu juga luar biasa indahnya. Tepi-tepi jalanan dihiasi aneka cahaya yang berlarian menyambut mereka. Ada kembang api yang pecah menghiasi langit malam.

Secara fisik jalan itu tidak pernah ada. Jalan itu memang sebuah keajaiban yang dibuat Tuhan khusus bagi Satoto dan keluarganya. Dengan jalan itu, Satotot bisa pulang ke kampung halaman dengan jalur khusus sehingga bisa sampai di rumah orang tuanya dengan cepat, bahagia, dan penuh semangat.

Kebaikan apa yang Satoto lakukan sehingga berhak menerima ganjaran istimewa itu? Danarto tak membuat narasi lebih, kecuali: Satoto berusaha keras mendapatkan lailatul qodar.

Danarto hendak menasihati bahwa yang baik di mata manusia tak selalu kebaikan yang sesungguhnya. Dan yang tampak jahat di mata manusia, belum tentu kejahatan yang sesungguhnya. Hanya Tuhan yang tahu.

Cerpen Zamrud menarasikan hal itu. Tokoh saya pada cerita tersebut dipersepsi para buruh sebagai penindas. “Saya” dianggap sebagai orang yang turut bertanggung jawab membuat ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Akibatnya, “saya” dimaki-maki oleh buruh.

Namun, “saya” tidak demikian. Dalam internal manajemen, “saya” sangat getol agar PHK tidak perlu dilakukan. Dia bernegosiasi kepada manajemen agar berbagai cara ditempuh, asal tidak dilakukan pemecatan terhadap buruh. Usaha itu dilakukan “saya” di luar pengetahuan buruh.

Kebaikan yang “saya” lakukan tetap menjadi rahasia, tetapi Tuhan tentu mengetahuinya.

Barangkali, berkat kebaikan itulah “saya” mendapat ganjaran. Ketika mobil yang ditumpangi olehnya dan keluarga mengalami kecelakaan, mereka diselmatkan oleh orang yang tak pernah dikenalnya. Orang itu memiliki kekuatan magis sehingga membuat mobilnya yang terperosok ke jurang bisa diangkat kembali ke jalan dan keluarganya yang nyaris mati bisa sehat kembali. Penolong itu adalah Kiai Hasan Menhad, tokoh spiritual yang sebenarnya telah lama meningga dunia.

Cerpen Jejak Tenah berusaha membuat cerita yang bertentangan. Jejak Tanah berpusat pada seorang juragan yang mayatnya ditolak bumi. Akibatnya, setiap kali dimakamkan, mayat orang ini akan melayang kembali ke rumah gedongnya yang dihuni istri dan anak-anaknya.

Suasana mencekam yang dialami keluarga setiap malam membuat keluarga ini benar-benar menderita. Mereka tak menyangka, ayah dan suami yang selama ini mereka sayangi “diberlakukan” demikian oleh bumi. Karena itulah, sang anak mencari tahu, apa yang sebenarnya dilakukan sayah semasa hidupnya.

Dari konsultasi dengan kyai, anak ini tahu bahwa ayahnya seringkali mengambil tanah dari orang miskin untuk dikembangkan menjadi kawasan komersial yang menguntungan. Hasrat menjadi kaya dilampiaskannya dengan merenggut hak orang lain.

***

Dari berbagai cerita itu, Danarto tampaknya ingin mengajak pembaca untuk belajar melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Perspektif manusia, barangkali demikian menurutnya: sangat terbatas. Adapun realitas demikian kompleks.

Dalam cerita “Jantung Hati”, Danarto bahkan berusaha menawarkan cara baru memandang kematian. Dia memandang kematian sebagai peristiwa yang indah.

Perjumpaan manusia dengan malaikat maut, Izrail, digambarkannya sebagai pengalaman yang menyenangkan. Ia tidak menghadirkan Izrail sebagai sosok yang sangat dan menakutkan, melainkan sebagai sosok yang indah. Karena itulah, Danarto menggunakan “sekuntum” untuk menyebut satuan malaikat. Ia hendak menjadikan malaikat sebagai bunga, dalam persepsinya.

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.