Identitas dan Kenikmatan, Yang Tak Terbaca di Layar Kaca

Sebagai produk kebudayaan, film tidak hadir dari kekosongan budaya. Film juga tidk pernah memiliki fungsi tunggal, baik sebagai hiburan, sebagai komoditas bisnis, atau semata-semata sebagai alat politik. Ketiga fungsi itu (dan mungkin fungsi lainnya) tak terpisahkan satu sama lain. Film menjadi produk sekaligus pelaku kebudayaan itu sendiri.

Buku Identitas dan Kenikmatan karya Ariel Heryanto berisi ulasan mengenai tumpang tindih fungsi film Indonesia dalam layar kebudayaan. Sang penulis yang dikenal luas sebagai sosiolog, mengurai bahwa film memiliki berbagai aspek. Dengan kekayaan dokumentasinya, Ariel menunjukkan hal-hal yang tak terbaca di layar kaca.

Pada bagian awal Ariel memberikan semacam landasan konseptual bagaimana film bekerja dalam latar kebudayaan. Bab Mengenang Masa Depan ia berbicara tentang situasi kebangsaan masyarakat Indonesia. Tidak hanya situasi visual yang teramati, Airel mengajak pembacanya untuk memahmi situasi mental. Di sini Ariel berbicara tentang apa hasrat, ketakutan, dan kenangan bangsa Indonesia.

Bab kedua adalah favorit saya. Di sini Ariel memberi semacam peta besar memahami film dalam suasana masyarakat yang euforia dalam Islamisme (dan kemudian post-Islamisme). Meminjam pemikiran Bayat, Ariel menjelaskan perubahan suasana kultural dan kebangsaan  Indonesia ketika gelombang Islam datang untuk ke sekian kalinya ke Indonesia pada dekade 80-an. Ia mengungkapkan bagaimana pemikiran dan gaya hidup Islam mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku penganutnya di Indonesia.

Analisis yang paling saya ingat adalah tentang sinkretisme ketaqwaan dan modernitas. Dua hal yang dulu tampaknya bersandingan secara opsional, oleh umat Islam di Indonesia disandingkan. Terutama oleh masyarakat urban, ketaqwaan Islam berusaha diraih dengan cara mempraktikkan gaya hidup modern ala Barat. Perilaku semacam ini, menurut Ariel, jauh berbede dengan model ketaqwaan yang dipraktikan oleh Muslim satu atau dua generasi sebelumnya.

Analisis ini penting karena mengulas sesuatu yang sangat dekat dan sangat riil. Banyak anak muda perkotaan misalnya mengenakan jilbab berkunjung ke mall berbelanja majalah Cosmpolitan yang isinya berisi ulasan tentang seks. Di lain waktu saya pernah mendapati, lelaki bersarung berbelanja film-film Hollywood yang dibintangi Megan Fox. Pada satu sisi, masyarakat urban ingin hidup dengan syariat namun pada sisi lain mereka tidak kuasa menahan kenikmatan yang ditawarkan produk-produk populer yang sekuler.

Ariel juga menunjukkan pertarungan sinematis, yakni pertarungan ideologi dan kultural dalam praktik produksi, distribusi, dan konsumsi film. Sejumlah film tenar seperti Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban menjadi medan perebutan pengaruh oleh orang yang ingin mengakkan syariat Islam secara ketat dengan pihak yang lebih konformis. Bagi pengusaha film, dua hal itu sama sekali tidak penting karena yang ingin mereka kejar adalah angka penjulan dan keuntungan. Adapun bagi politisi, film jadi sarana kampanye yang efektif, antara lain dengan menghadirkan air mata untuk mendukung citra melankolisnya.

Di layar, tampak bahwa Ayat-Ayat Cinta adalah “film islami” yang mengajarkan penontonnya untuk mempraktikan ajaran Islami dalam kehidupan sehari-hari. Namun di balik itu, film ini justru menunjukkan bahwa praktik berislam kerap memiliki disinkronisasi dengan konteks zaman.

Di layar kaca, Perempan Berkalung Sorban tampaknya agresif menyerang maskulinitas Islam. Dengan strategi visual yang terancang, film ini memprovokasi penonton untuk mempertanyakan kembali kekuasaan laki-laki atas (tubuh) perempuan. Namun di balik layar, film ini justru diharapkan menjadi autokritik bagi internal penganut Islam supaya lebih adil bersikap kepada perempuan.

Tidak hanya terhadap film produksi dalam negeri, Ariel juga menyinggung gelombang K-Pop. Film-film Korea yang booming sejak beberapa tahun silam juga dinilai turut mempengaruhi wajah kebudayaan masyarakat Indonesia.

Inilah sejumlah fungsi politik film yang diuraikan Ariel dengan data yang kaya. Ia mengajak pembaca untuk menikmati film tidak semata dari yang tampak di layar kaca. Ia mengajak pembaca menikmati film dari sesuatu yang tak tampak di layar kaca.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

1 Comment

  1. Pingback: Resensi Identitas dan Kenikmatan; politik budaya layar Indonesia | Ariel Heryanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.