Humanisme di Sekolah Kita…

SEKOLAH tak pernah sepi kritik. Namun, sekolah juga tetap menjadi pilihan pertama orang tua untuk menjamin pendidikan anak-anaknya. Ekspektasi orang tua terhadap sekolah pun amat tinggi. Bukan lembaga sosial semata, sekolah diharap jadi instrumen mobilitas ekonomi.

Sayangnya, ekspektasi tersebut kerap tidak mendapat jawaban sepadan. Alih-alih dapat menyediakan lingkungan belajar dengan proporsi intelektual dan moral seimbang, sekolah kerap melahirkan masalah personal dan sosial baru pada siswa. Siswa tidak menjadi katalisator kehidupan sosial yang harmonis, tapi justru kerap menjadi pemantik persoalan.

Untuk menjawab persoalan ini kultur sekolah memagang peran yang besar. Setidaknya karena dua alasan. Pertama, dalam sehari siswa menghabiskan 5 – 8 jam di sekolah. Di sanalah anak memperoleh model perilaku yang akan diduplikasi atau dimodifikasi. Selain mencermati teman, guru, dan karyawan, siswa mempelajari pola interaksi di antara mereka.

Kedua, sekolah hadir dengan pretensi moralitas yang besar. Tidak sekadar menawarkan pilihan-pilihan nilai, sekolah berhak membuat justifikasi mana sesuatu yang buruk, baik, dan lebih baik. Kemungkinan nilai yang ditawarkan sekolah untuk diadopsi siswa lebih besar dari nilai di lingkungan lain.
Humanisme

Membangun kultur sekolah seperti membangun rumah. Agar kukuh pada tataran praktis, diperlukan landasan ideologis yang matang. Pada tahap inilah pemahaman filosofis tentang humanisme kemudian penting dirumuskan dalam kerja personal dan institusional.

Humanisme di sekolah hendak menempatkan siswa sebagai manusia yang utuh (Munif, 2011). Secara personal siswa adalah bangunan fisik dan psikis yang kompleks, sedangkan secara sosial ia adalah bagian dari sistem kosmos.

Prinsip yang hendak dibangun adalah, sekolah hadir karena kebutuhan manusia untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan untuk manusia dan bukan manusia untuk pendidikan, Karena itu, proses yang berlangsung didalamnya musti mampu mengejawantahkan nilai-nilai kemanusiaan pada tataran konseptual dan praktis.

Johnson (2008: 163), misalnya, menyebut anak didik memiliki karakteristik yang unik. Konskuensinya, sekolah wajib menghargai beragam jenis kepribadian. Tindakan massal yang dilakukan di kelas dan sekolah harus menyediakan pemakluman bagi satu atau beberapa siswa yang belum atau tidak bisa menyesuakannya. Fasilitas penanganan khusus bagi pribadi unik diperlukan untuk menghindari penyeragaman tindakan.

Untuk mencapai pemahaman terhadap keunikan siswa, guru memang dituntut bekerja lebih keras. Ia perlu bergaul secara personal, misalnya, untuk mengenali jenis kecerdasan mana yang siswa miliki.

Howard Gardner, pakar multiple intelegence, menyebut setidaknya ada tujuh jenis kercedasan, yakni naturalistik, intrapersonal, logis matematis, kinetis, linguistik, visual-sepasial, dan interpersonal. Diperlukan lebih dari sekadar tes formal supaya masing-masing kecerdasan terbaca dengan baik, setidaknya mendekati akurat.

Humanisme di sekolah menemui kendala lantaran berbenturan dengan kultur birokratis. Sebab, belakangan sekolah menjelma menjadi tangan panjang pemerintah. Sebagai institusi negara, ia bekerja secara terukur mendukung haluan politis penguasa. Akibatnya, prinspi pedagogik yang paling mendasar sekalipun terabaikan, terganti ritus formal-sermonial.

Agar benturan kedua paham tersebut dapat dihindari, perlu tafsir baru terhadap sekolah dan eksistensi sosiologisnya. Bagi siswa sekolah hanyalah salah satu dari sekian banyak cara mereka belajar mengenali dunianya. Sekolah mengkonversi nilai kehidupan dalam rangkaian aktivitas belajar. Sementara belajar adalah strategi manusia mempersiapkan kehidupan di masa depan.

Sasaran paling substansial sekolah adalah kesiapan pembelajar menghadapi hidup supaya bermaknas. Sementara nilai ujian, prestasi akademik, dan hanyalah penanda, instrument untuk membantu pendidik memahami kondisi siswanya.

Dunia belajar adalah dunia yang sangat dinamis. Anak terus menerus berkembang, mengalamai gejolak psikologis tiada henti. Karena itu, sekolah dituntut bertindak fleksibel, keluar dari pekem birokratis yang ketat. Guru perlu memandang siswa sebagai manusia muda, memiliki karakter psikologis dan perspektif yang khas. Karena itu persoalan yang muncul pada mereka mestinya dipandang dengan empati pedagogis: asah, asih, dan asuh.

Contoh kecil pernah dilakukan Ki Hajar Dewantara di Perguruan Taman Siswa yang pernah dipimpinnya . Ia menggunakan analogi keluarga untuk membangun kedekatan guru dan siswa. Sapaan “Ki” dan “Nyi” bagi para guru misalnya memunculkan kesan akrab dan bersahaja. Siswa disapa “Nak” bukan “peserta didik” seperti yang lebih populer saat ini.

Guru-Orang Tua
Meski secara konspetual sekolah humanis tidak mengandung kecacatan, sekolah kerap menemui kesulitan pada tataran praktis. Perjuangan mengenali potensi dan karakteristis siswa memerlukan waktu, energi, dan (mungkin) biaya ekstra. Terlebih, mayoritas sekolah di Indonesia masih menggunakan sistem kelas yang massal.

Untuk mengatasi itu, diperlukan model komunikasi guru-orang tua yang lebih intensif. Tidak terbatas pada pertemuan formal, komunikasi guru dan siswa dilakukan sewaktu-waktu.

Orang tua berperan menyuplai informasi tentang kehidupan anak di sekolah supaya guru dapat mengambil tindakan secara tepat. Sebaliknya, guru menyampaikan laporan perkembangan belajar secara deskriptif agar orang tua dapat mengambil tindakan yang tepat di rumah.

–Surahmat, sedang sekolah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.