Hotel Silaturahmi – Catatan ke-1 Harjanto Halim

SEHARI sebelum berangkat ke Jakarta untuk acara kondangan, saya bb ke adik yang tinggal di Jakarta – untuk menanyakan lokasi.

“Hotel Dharmawangsa itu di mana…?,” tanya saya.

Langsung dibalas.

“Depan rumahku…, dekat rumahku…. APIKKKK…! My fave…,” jawab adik saya penuh antusias.

Saya tersenyum.

“Aku besok kondangan disana…, enaknya tidur di hotel…, atau dimana..?”

“Hotel…!! Eh dibayari apa bayar sendiri? Nek dibayari ya monggo. Nek suruh bayar sendiri kam stay with me aja…”

“PING!!!” “PING!!!”

Saya dulu heran, kenapa orang memilih menginap di rumah kerabat ketimbang di hotel. Alasan finansial pasti jadi pertimbangan utama. Tapi di luar itu? Rumah kerabat belum tentu se-kinclong hotel, belum tentu ada kolam renangnya. Sedangkan di hotel sarapannya komplit. Segala lauk & masakan ada, Western, Chinese, maupun local. Tempat tidurnya selalu dirapikan, selimutnya berlapis lapis, bantalnya gedhe & empuk. Showernya kenceng, airnya panas dingin. Ahh…, segala kebaikan tersedia. Tapi ada yang tak tersaji, ada yang tak tersedia di sebuah hotel – sebuah kongkow, sebuah obrolan santai atau sekedar kegiatan menjalin silaturahmi.

Saya ingat waktu kecil dulu. Saat liburan di Jakarta, tinggal di rumah paman. Anak anak paman enam orang, ceweknya lima. Bayangkan, serumah isinya lima cewek! Ributnya minta ampun. Mau makan dimana, semua urun ngomong. Mau dolan kemana, semua urun usul. Mau tidur, saya diajak barengan. Hahahah. Seru sekali. Dan herannya, kalau menginap di rumah orang, apa saja yang tersaji di meja makan, terasa lezat.

Saya teringat kisah seorang tante tua. Beliau bercerita kisah hidupnya dulu yang susah. Anaknya lima orang, makan tak tentu, lauk seadanya. Tiap liburan tiba, keponakannya pada datang & menginap di rumahnya yang mungil. Total jadi delapan anak yang harus diberi makan. Mereka semua pada krasan, padahal hanya diberi makan sayur asem & tempe – itupun dipotong kecil kecil supaya semua kebagian. Kadang dibelikan ikan asin, itupun yang ayakan – harganya lebih murah. Padahal keponakannya anak orang berada. Saat dijemput pulang, semua pada ngumpet.

“Besok saja dijemputnya…,” begitu ujar si tante pada orangtuanya.

Nyaman-nya sebuah rumah bukan karena adem-nya AC, atau mewahnya hidangan, atau empuknya ranjang, tapi karena ramahnya penghuni & hangat-nya sapa. Kini saya bisa mengerti. Memang lebih seru tinggal di rumah orang. Lebih hangat, lebih banyak kejadian, lebih banyak obrolan.

Saya terlelap di ranjang. Barusan kongkow dengan adik saya sampai hampir jam 2 pagi. Ditemani secangkir teh hangat & buah anggur serta irisan keju.

“Mosok sih anggur dimakan sama keju?,” tanya saya.

“Di Perancis ya begitu…,” jawab adik saya.

Saya pun ngemplok anggur dengan seiris keju yang… – prengus-nya minta ampun. Saya pun bernapas lewat mulut, sambil ngemplok anggur berkali kali. Tapi enak juga. Ada manis, kecut, asin & prengus menjadi satu, dibilas teh hangat yang pahit & kesat….

Inilah bianglala kehidupan yang akrab kita jalani. Tidak satu rasa, tapi ada banyak rasa. Dikemas dalam fragmen yang berbeda, disajikan untuk pemirsa yang berdebar. Siapa juara dari semua adegan? Itulah guna dari satu obrolan. Hehehe. Saya tidur pulas sekali. Besok harus bangun pagi pagi, sudah janjian bersama adik yang lain – mau ke pasar cari sarapan.

Januari 2013
Harjanto Halim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.