Homo Deus, Mambaca Sejarah Masa Depan Manusia

Apa yang dialami manusia seratus tahun setelah hari ini?
Apakah manusia masih suka ribut memilih presiden?
Apakah sekolah masih berdiri dan anak-anak masih mau datang ke sana?
Apakah sepasang kekasih masih perlu kencan romantis dengan mendatangi restoran dan bertukar cerita seru?

Homo Deus, buku kedua Yuval Noah Harari yang saya baca, tentu tidak menjawab persoalan remeh itu. Ia membawa narasi besar tentang lahirnya manusia baru yang tidak cuma sangat kuat, tapi mungkin juga abadi. Manusia dewa.

Meski begitu, pertanyaan-pertanyaan kecil di atas akan terjawab dengan sendirinya jika kita telaten membaca halaman demi halaman buku ini.

Manusia abadi? Serius lu Ndro?

Iya, dia meramal kelak manusia akan hidup jauh lebih lama bahkan mengalami imortal seperti dewa. Imortalitas diperoleh manusia karena kematian sudah jadi urusan teknis yang bisa ditangani dengan teknologi.

Gagasannya soal manusia abadi memang terdengar seperti omong kosong besar. Tapi argumentasi yang dikemukakannya lumayan serius sehingga membuat saya cenderung percaya bahwa mungkin saja itu akan terjadi.

Penjelasan itu cukup rasional karena penulis buku ini memetakan bahwa manusia abad 21 sedang berada di tubir revolusi teknologi yang sangat menentukan.

Manusia mengalami revolusi besar ketika mengalami revolusi kognitif. Revolusi itu telah membuat kera Afrika ini menjadi salah satu makhluk tercerdas yang memuncaki mata rantai makanan. Mereka (eh, kita!) menaklukkan makhluk-makhluk lain.

Revolusi kedua terjadi dalam revolusi pertanian. Manusia pengumpul dan pemburu memasuki periode hidup baru sebagai manusia desa yang suka mendomestikasi tanaman. Revolusi ini memungkinkan manusia memiliki banyak makanan, hidup berkelompok dalam sebuah organisasi besar, memiliki prajurit, membentuk kelas sosial, dan sebagainya.

Revolusi ketiga terjadi dalam revolusi sains. Berkat revolusi ini manusia memahami dunia dengan cara yang sangat berbeda dengan cara-cara sebelumnya. Hasilnya, manusia mengalami kemajuan pesat dalam teknologi.

Agama, Humanisme, Dataisme

Dalam 70 ribu tahun usia peradabannya, manusia telah mengalami berbagai periode berdasarah-darah. Manusia pernah tak berdaya menghadapi penyakit, kelaparan, dan masa perang yang menyakitkan.

Dengan berbagai ukuran, penderitaan itu belum benar-benar berakhir. Di berbagai belahan dunia, masih banyak penyakit tak tertangani. Di Timur Tengah perang masih bergelora. Di Afrika dan bahkan beberapa daerah di Indonesia, juga sering muncul kasus kelaparan.

Tapi tiga masalah itu tidak lagi jadi masalah universal. Lebih banyak manusia yang telah berkelimpahan daripada kekurangan. Lebih banyak orang mati obesitas daripada kelaparan sebagaimana lebih banyak orang mati bunuh diri daripada perang.

Pada periode keberlimpahan ini, manusia menggunakan sains dan teknologi bukan untuk mengobati penyakit, tapi untuk membuat orang sehat semakin sehat. Itulah yang membuat manusia super bernama Homo Deus lahir.

Dalam buku ini, Harari meramalkan bahwa kehidupan manusia akan berubah dengan sangat besar. Agama-agama akan mencapai hari tua digantikan oleh humanisme. Namun humanisme juga akan segera tidak relevan karena digantikan agama baru bernama dataisme.

Pada masa lalu, kejayaan agama telah melahirkan masyarakat agama. Banyak kekaisaran yang terbentuk berdasarkan agama. Gereja memiliki kekuasaan melampui negara.

Pada masa kejayaan agama, manusia hidup dengan menggali makna hidup berdasarkan kitab suci. Manusia memahami kehidupan, kematian,kesedihan, dan kbahagiaan berdasarkan apa yang Tuhan telah sebut dalam kitab suci.

Namun bagi banyak orang, kondisi ini tidak lama lagi akan menjadi usang. Manusia akan segera memiliki agama baru bernama humanisme.

Agama humanisme adalah kompensasi yang terpaksa diambil manusia karena modernitas telah menyingkirkan agama dan membuat kehidupan menjadi kering. Agar tak betul-betul kering, manusia melahirkan agama baru yang relevan dengan modernitas. Humanisme.

Humanisme didirikan pada asumsi bahwa manusia itu sakral. Manusia memiliki kehendak, perasaan, dan kebebasan yang harus dihormati.

Agama humanisme inilah yang antara lain membuat sistem pemerintahan demokrasi berdiri. Karena setiap manusia adalah sakral, maka setiap warga negara memiliki hak memilih. Doktrin dalam humanisme liberal adalah: rakyat selalu benar, selera pelanggan tak pernah salah, dan  keindahan terserah penonton.

Tetapi kelak, manusia menjadi semakin tidak yakin dengan potensi insansi yang dirasakannya sebagai manusia. Manusia justru akan beralih ke agama baru bernama dataisme. Perubahan ini akan begitu massif sehingga manusia sendiri tidak merasakannya.

Nah, ketika kepercayaan manusia terhadai humanisme mulai hilang, demokrasi jadi tidak relevan. Orang tidak perlu lagi memilih pemimpin. Pemimpin akan tercipta dari sekelompok elit manusia yang sangat cerdas, kuat, dan kaya.

Bisa juga, orang tak lagi memandang romantisme sebagai sesuatu yang perlu. Kencan, baca novel, nonton konser tak diperlukan lagi ketika kegembiraan telah bisa dibungkus dalam pil-pil kecil.

Paradoks Ramalan

Sebagai juru kisah, Harari adalah pribadi yang tekun. Ia menggerakan gagasan besarnya melalui cerita-cerita kecil yang bersumber dari kisah pribadi orang, kutipan adegan dalam novel, film, juga hasil penelitian yang berserak.

Cara bercerita yang cenderung induktif inilah yang membuat buku ini tak bisa dibaca secara sekilas. Penjelasan-penjelasan besarnya hanya mungkin diterima jika contoh-contoh kecil yang diuraikannya dipahami terlebih dahulu.

Sebagai sejarawan, Harari telah selesai dengan masa lalu manusia ketika menulis Sapiens. Oleh karen itu, ia mengarahkan perhatiannya ke masa depan.

Tapi, bukankah masa depan bukan sejarah? Itu persoalan lain.

Sebagai ramalan, hal-hal yang disampaikan Harari tampak sangat relaistis karena sebagian kondisi itu telah terjadi. Hari-hari ini, banyak orang meninggalkan keyakinan terhadap humanisme dan lebih meyakini data. Pengalaman jiwa manusia juga semakin tidak berharga ketika tidak dikonversi dalam bentuk data.

Tapi saya tidak terlalu khawatir. Toh, dia sendiri telah menyampaikan paradoks ramalan. Menurutnya, semakin ramalan dipercaya maka akan semakin kecil kemungkinannya terjadi.

Marxisme sebagai ramalan telah melahirkan dunia yang sangat kapitalistik. Itu terjdi karena para industriawan percaya dengan ramalan Marx, lantas mengubah sistem kera industri agar ramalan Marx tidak betul-betul terjadi.

Ramalan Harari tentang matinya humanisme juga mungkin akan memiliki paradoks yang sama? Karena itulah, masa depan yang diangankan Harari bisa jadi hanyalah masa lalu. Masa depan yang jadi sejarah.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.