Hei Kamu, Masih Ingat Keseruan Mengisi Buku Kegiatan Ramadhan?

Di zaman saya sekolah dulu, ada kewajiban dari guru agama untuk melaporkan kegiatan ibadah selama bulan Ramadhan. Untuk melaporkan kegiatan, sekolah memberi buku sakti bernama “Buku Laporan Kegiatan Ramadhan”.

Saat masih SD saya dapat buku laporan Ramadhan seukuran saku. Waktu SMP, buku laporan Ramadhan lebih besar. Mungkin seukuran A5.

Bagi saya, dan mungkin siswa lain, kegiatan mengisi buku kegiatan Ramadhan sungguh kegiatan yang menarik. Buku itu menjadi buku paling familiar dan paling digemari selama bulan suci. Dalam sehari, kami harus belasan kali membuka dan mengisi buku legendaris ini.

Ada beberapa rubrik andalan dalam buku ini, seperti laporan salat fardu, laporan salat tarawih, laporan salat sunah nontarawih, dan laporan tadarus.

Selain itu, ada juga halaman laporan peringatan nuzulul quran, pelaksanaan zakat fitrah, dan pelaksanaan salat Idul Fitri.

buku kegiatan ramadhan

Yang membuat buku ini menarik adalah, siswa tidak boleh ngarang. Semua harus diisi dengan sejujur-jujurnya. Untuk memastikan itu, setiap laporan ibadah harus dibubuhi oleh otoritas setempat. Ya, semacam “pihak yang berwajib.”

Saat ngisi kolom laporan salat fradlu, misalnya, ada kolom tanda tangan imam. Saat ngisi kolom salat Jumat, ada kolom tanda tangan khatib. Begitu juga pada kolom laporan tadarus, harus ada tanda tangan pimpinan tadarus.

Karena itulah, selama Ramadhan, imam salat di masjid, para khatib, dan pembina tadarus adalah tokoh idola kami. Setiap habis salat, habis jumatan, atau habis tadarus, kami mengantri untuk minta tanda tangan mereka.

Dalam persepsi saya dulu, semakin penuh isian dalam buku ini, semakin baik lah ibadah saya. Semakin baik ibadah saya, makin bertaqwa. Dan semakin bertaqwa, semakin mudah saya akan masuk surga. Hwahahaha. Sederhana kan?

Makanya, sebisa mungkin, saya laksanakan semua ibadah yang tercantum di buku. Salat sunah yang tidak pernah saya laksanakan pun, mendadak saya laksanakan. Meskipun tahajud pada siang hari. Hwehehe.

Selain melaksanakan semua amalan, supaya buku terisi penuh kami juga akan bekerja keras mengejar agar memperoleh tanda tangan. Setiap habis salat, kami dekati imam. Tiap selesai jumatan, kami dekati khatib. Begitu juga saat pembagian zakat fitrah, meskipun tidak jadi amil, kami ikut ribut di tempat pembagian zakat.

Begitu semangatnya kami mengisi buku laporan ini, kalau sampai terlewat satu tanda angan saja, kami merasa sayang. Maka, kami akan kejar imam sampai ke rumahnya agar beliau mau tanda tangan. Beruntung, imam masjid di kampung saya baik hati. Doi suka-suka aja dimintai tanda tangan.

Suatu hari kami mengikuti salat Jumat. Seperti anak lain yang tak tahu aturan, kami bicara satu sama lain. khatib melihat kami berisik. Saat itulah, di sela khutbahnya, khatib mengingatkan “Hei, anak-anak. Kalau kalian berisik, nanti tidak saya kasih tanda tangan lho…”

Peringatan dari khatib – yang lebh menyerupai ancaman itu – segera membuat kami diam. Kami takut tidak diberi tanda tangan olehnya. Kalau tidak diberi tanda tangan, ada kolom yang akan kosong. Kalau ada kolom yang kosong, berarti ibadah Ramadhan kami tidak sempurna. Kalau ibadah tidak sempurna, perjalanan ke surga bisa terganggu.

Hwahahahahaha…

1 Comment

  1. Ajang Supardi

    January 26, 2016 at 7:10 am

    Zaman sekarang masih adakah di sekolah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.