Hasrat Gigantik Perempuan Cerdas Nan Cantik

Di rezim meritokrasi, seorang perempuan berusia sekitar 35 tahun mungkin saja menduduki posisi strategis sebagai Kepala Bagian Cyber Central Intelegence of America (CIA). Itulah cara saya meyakinkan diri ketika pertama kali melihat Alicia Vikander memerankan Heather Lee dalam Jason Bourne. Sejak film dibuka, sosok ini menyita perhatian saya karena tiga hal: cantik, cerdas, dan memiliki ambisi kuat.

Dengan kombinasi tiga hal itu, saya sudah menduga bahwa perempuan ini akan berada dalam pusaran konflik selama film berlangsung. Perempuan seperti itu – cerdas dan cantik – memang memiliki kutukan untuk senantiasa dalam pusaran konflik. Mereka ahli membuat konflik, sekaligus ahli membuatnya semakin buruk.

Keterlibatan Lee dimulai ketika ia menerima laporan sistem keamanan internet CIA dijebol oleh Nicolette Parsons. Sebagai kepala divisi cyber, Lee tanggap dengan memagari database instansinya. Tidak sekadar tanggap, dia kuat dan agresif. Lihat bagaimana cara dia merebut kendali komputer dari stafnya ketika kondisi semakin darurat. Dengan pengetahuannya, dia melacak lokasi peretas, mematikan sumber listrik di sana, juga menginjek mallware ke jaringan peretas.

Aksi Lee beraksi di depan komputer seperti penari sirkus. Dia bergerak lincah, cepat, dengan cara-cara yang tak terduga. Dalam banyak hal, ia mendobrak batas mungkin dan tidak. (Catatan: selain bermain film, di Swedia Alicia Vikander memang penari).

Lihat misalnya, ketika Bourne membuka file hasil retasan Parsons, Lee memanfaatkan ponsel dalam ruangan itu untuk menghapus file. Emang bisa? Di tangan Lee, bisa. Juga, bagaimana dia meretas jaringan polisi Athena dan memandu Asset mengejar Bourne dari benua yang berbeda. Emang bisa? Lee, bisa!

Kekuatan Pengetahuan

Sejak awal saya berprasangka, perempuan yang cantik dan pintar selalu punya ambisi gigantik. Demikian pula karakter Lee dalam film ini. Sekalipun masih muda (bahkan disapa “Nak” oleh Direktur Robert Dewey) dan menduduki direktur siber, ia masih punya ambisi lebih besar: menyingkrikan Dewey, atasannya, dan mungkin meraih posisi puncak.

Hasrat itu tergambar ketika di luar dugaan, Lee mengajukan diri untuk memimpin operasi penangkapan Jason Bourne. Dengan sangat percaya diri ia berkata: saya akan bawa pulang Bourne, kalau gagal, lakukanlah apa yang harus Anda lakukan. Keren, cuy!

Dialog ini menggambarkan betapa rindunya Lee pada petualangan, pada tantangan. Ia perempuan yang tampaknya merasa kesepian jika hidup tanpa tantangan. Sifat ini relevan dengan dua sifat utama Lee di atas: cerdas dan cantik.

Benarkah perempuan cerdas dan cantik selalu memiliki hasrat gigantik? Ini pertanyaan yang bias gender karena yang mengajukan adalah seorang laki-laki. Tapi mari kita dudukkan kecerdasan dan kecantikan sebagai variabel sosial. Kita akan lihat betapa kombinasi keduanya adalah kombinasi yang lengkap sekaligus: berbahaya.

Secara sederhana, saya memaknai kecerdasan sebagai kemampuan yang dimiliki makhluk hidup untuk mengolah informasi. Seseorang dengan kecerdasan baika akan mudah menerima, mengklasifikasi, dan menjadikan informasi sebagai landasan bagi tindakan yang dilakukannya. Dengan informasi yang memadai, tindakan seseorang lebih terukur dan terencana, lebih efektif dalam meraih sesuatu.

Ini relevan dengan tesis Alvin Tofler beberapa dasawarsa silam tentang orang kuat. Menurutnya, bukan lagi orang berotot dan memiliki aset ekonomi melimpah yang kuat. Jenis kekuatan pertama berlaku pada era purba. Jenis kekuatan kedua berlaku pada masa baron dan mencapai puncaknya pada revolusi industri. Di era seperti saat ini, kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh pengendali informasi.

Dibandingkan jenis modal lain, modal intelektual (baca; kecerdasan) jauh lebih mudah dikonversi ke jenis modal lain, seperti ekonomi dan sosial. Orang pintar, kalau pengin kaya, mudah. Dia tinggal masuk dalam pasar kerja dan menukarkan kercerdasaanya dengan gaji dan honor yang besar.

Orang cerdas juga relatif lebih muda mengumpulkan modal sosial. Misalnya, masuklah dalam komunitas dan menjadi pribadi yang disenangi. Atau, masuklah arena politik. Orang-orang dengan kercerdasan rata-rata mudah memanipulasi persepsi orang lain sehingga bisa memiliki keterpercayaan tinggi. Dari situ, dia mendapatkan jaringan, persahabatan, dan mungkin relasi politik dalam waktu singkat.

Lee sendiri telah melakukan itu. Ia masuk ke CIA dengan modal kecerdasan tinggi dalam bidang teknologi informasi. Dengan kecakapan istimewa yang dimilikinya, ia bisa melesatkan kariernya sehingga bisa meraih posisi strategis. Dengan menjadi kepala bagian cyber  ia memperoleh akses ke berbagai infrastruktur agensi. Jabatan membuatnya posisi sosialnya kian kuat dan terlegitimasi.

Cantik dan Kecantikan

Lalu, bagaimana dengan kecantikan? Apakah itu variabel yang penting dalam masyarakat posmodern seperti saat ini?  Ya. Kita hidup pada era of looking, era visual. Sesuatu yang indah dan berharga secara visual akan menjadi sangat penting dan berguna

Cantik itu sendiri, hemat saya, bukan kondisi aktual sebuah objek. Cantik, sebagai jenis keindahan, adalah pengalaman estetik pada manusia yang diperoleh berkat hubungan trimetrik antara objek, subjek, dan nilai. Artinya, cantik tidak bisa dirumuskan dengan algoritma yang baku dan berlaku universial. Citra cantik selalu berkaitan dengan konteks ruang dan waktu. Beda komunitas beda pula konsep kecantikannya. Konsep kecantikan berubah-ubah bergantung pada konstelasi kekuatan agen yang berkuasa merumsukan dan meneguhkan kecantikan itu.

Oke, kita sudahi di situ tentang konsep kecantikan. Kita kembali ke pertanyaan awal: apakah kecantikan sesuatu yang berharga dan (kadang) berbahaya?

Seroang peneliti psikologi sosial yang namanya saya lupa, pernah berhipotesis bahwa dalam pencarian jodoh laki-laki selalu mengidamkan perempuan yang memenuhi seleranya dalam aktivitas reproduki. Cara ini berbeda dengan perempuan yang cenderung memilih pasangan dari seberapa kekuasaannya di luar yang bisa dibawa pulang ke rumah (pangkuannya).

Skema inilah yang membuat laki-laki selalalu mengidamkan perempuan cantik. Sementara perempuan selalu mengidamkan laki-laki yang cerdas, memiliki pengaruh sosial, dan kaya. Imajinasi libidal laki-laki membuat mereka selalu mengidamkan perempuan yang asyik diajak bersenggama. Adapun imajinasi perempuan membimbing mereka memilih laki-laki yang kaya dan berkuasa.

Coba saja lihat: betapa banyak perempuan cantik yang menikah dengan laki-laki jelek tapi kaya. Ini bisa terjadi karena kecantikan dan kekayaan dipertukarkan, dijadikan alat transaksi dalam perjodohan.

Dalam situasi pertukaran seperti itu, perempuan cantik selalu memiliki bargaining position yang tinggi dalam perjodohan. Dengan modal visual yang ciamik, perempuan bisa memperluas sekaligus mempertinggi harga dalam pasar perjodohan. Dia akan menjadi buruan laki-laki. Semakin cantik, semakin tinggi nilainya dalam pasar perjodohan, perempuan memiliki kekuatan semakin besar untuk menentukan pilihan jodohnya.

Nah, bagaimana kalau perempuan menjadi cantik dan cerdas sekaligus? Dia akan menjadi penguasa dalam aneka sektor. Dia akan terus melejit mendaki tangga vertikal, dalam bidang sosial, politik, maupun ekonomi.

Tentu saja perempuan cerdas akan menyadari hal itu, menyadari betapa berharga kecerdasan dan kecantikan yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia tidak akan berpuas diri memiliki sesuatu yang biasa. Ia akan mengidamkan banyak hal, sesuatu yang jauh di atas jangkauannya. Heather Lee adalah sosok seperti itu.

Ulasan saya ini saya kira adalah pujian kepada perempuan-perempuan cantik nan cerdas. Orang seperti Anda adalah kekuatan dunia yang sesungguhnya. Suwer!

Ulasan saya ini juga jadi peringatan bagi kaum laki-laki. Kalau Anda memiliki kekuatan seimbang atau lebih tinggi dengan perempuan cantik dan cerdas, bermitralah dengan perempuan itu. Kalau kekuatan Anda nanggung, jauhilah! Jauhi seperti Bourne meninggalkan Lee begitu saja di taman dalam adegan di menit-menit akhir film ini. (gambar: bourne.wikia.com)

Rahmat Petuguran
Alumni Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.