Hasrat Berperang di Balik Seragam Ormas

Cara kita (orang tua, ciyeee ngrasa tua) mempersepsi dan mengajarkan perang rasanya benar-benar keliru. Di berbagai buku, perang disajikan dalam perspektif heroisme, patriotisme, dan perjuangan. Perspektif itu membuat perang tampak menjanjikan kehormatan, kemuliaan, dan kebanggan.

Ini perspektif yang berbau propaganda karena berdaya persuasif kuat, bisa mendorong siapa pun terprovokasi untuk merasa siap berperang. Akibatnya, perang bukan hanya tampak dekat, tetapi –lebih mengerikan lagi – juga tampak seperti sesuatu yang diinginkan.

Tidakkah kita bisa mengganti perspektif bahwa perang adalah kengerian? Perang adalah kesakitan luar biasa akibat organ tubuh tergorok dan remuk oleh senjata. Perang adalah luka permanen karena tubuh hancur oleh ledakan granat. Perang adalah tangis abadi karena segala cita-cita harus dilupakan begitu saja.  Dan perang adalah kesedihan sepanjang hayat karena orang-orang tercinta hilang begitu saja bahkan tak terlacak jazadnya.

Imaji bahwa perang adalah ekspresi heorisme ada di sekitar kita, bahkan saat suasana damai seperti saat ini. Ekspresi itu mudah kita temui dalam ekspresi kebahasaan orang-orang di sekitar kita, terutama ketika mereka bicara tentang orang atau kelompok lain yang mereka benci.

Lihatlah cara ormas-ormas kita melengkapi dirinya dengan laskar, pasukan, atau sebutan lain yang menunjukkan bahwa mereka seolah adalah barisan orang yang siap berperang. Lihatlah cara ormas-ormas di sekitar kita menyeragami diri dengan baju loreng. Lihat pula cara para “laskar” itu meneriakkan yel-yel kebanggannya.

Banyak ormas menyeragami anggotanya dengan seragam loreng layaknya tentara. Seragam loreng yang dimiliki TNI dirancang sebagai bagian dari strategi bertempur. Seragam motif itu akan membuat prajurit mudah berkamfulase dengan hutan tropis di Indonesia. Artinya, desain ini disesuikan dengan kondisi medan tempur TNI.

Mengapa motif loreng diplih ormas yang “medan tempurnya” bukan di hutan melainkan di desa dan perkotaan? Pilihan itu menunjukkan imaji perang yang terpelihara dalam diri pengguna dan pernacangnya. Mereka ingin mengidentifikasi diri sebagai sekelompok orang terlatih, memiliki keahlian khusus, dan oleh karena itu: siap berperang. Padahal, tidak juga kan?

Pilihan itu tak keliru jika muncul pada masa perang kemerdekaan. Saat itu fron dan laskar sipil sangat diperlukan untuk membantu TNI menghalau tentara Belanda, Jepang, dan kemudian Sekutu. Peran sipil dan militer lebur karena menghadapi kondisi darurat. Militer dan sipil memiliki hak dan kewajiban yang sama mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Pilihan itu menjadi ganjil diekspresikan saat ini, ketika negara dalam kondisi damai dan peran sipil militer dibatasi dengan sangat ketat. Bahkan meski sama-sama angkatan bersenjata, peran polisi dan tentara dibatasi dengan undang-undang.

Lantas, kenapa ormas-ormas masih memelihara atribusi perang? Mengapa imaji perang perlu dipelihara? Perang dengan siapa? Untuk keperluan apa? Itu yang patut dipersoalkan.

Sentimentalisme Identitas

Agak sulit menyangkal bahwa hubungan antarkelompok masyarakat kita saat ini cenderung tegang. Ketegangan itu antara lain disebabkan oleh pertarungan politik, perebutan pengaruh dan kekuasaan. Tetapi di luar itu, ketegangan juga dipengaruhi dinamika masyarakat global. Kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat lain kerap menampilkan diri secara berhadap-hadapan dalam sejumlah wacana populis, baik wacana poliitk, kebudayaan, maupun teologis.

Ketika ketegangan itu muncul, sentimentalisme identitas jadi menguat. Kelompok satu mempererat imaji persaudaraannya, tetapi pada saat yang sama juga mempertegas perbedaan dengan kelompok lainnya. Identitas jadi instrumen sosial untuk menggerakkan sejumlah orang sekaligus. Akibatnya, masyaraka cenderung mengikat diri pada satu kelompok dan mendudukkan kelompok lain sebagai liyan (the other).

Novelis Perancis kelahiran Libanon Amin Maalouf (2000) menunjukkan, permainan identitas menyajikan paradoks. Di satu sisi, identitas adalah sesuatu yang produktif karena membantu individu membangun keterikatan dengan manusia lain. Tetapi di sisi lain, sentimentalisme identitas kerap dipupuk sehingga melahirkan kebencian, permusuhan, dan bahkan perang.

Sebagaimana Amartya Sen (2006), Maalouf menyebut kekeliruan paling mendasar dalam mempersoalkan identitas adalah mengimajinasikannya sebagai sesuatu yang tunggal dan hakiki. Agama, ras, sekte, dan gender menjadi penanda identitas yang kerap kali dianggap abadi. Padahal setiap individu mengalami dinamika keidentitasan yang dinamis. Pada satu waktu mereka dapat mengidentifikasi diri berdasarkan agama, di lain waktu berdasarkan rasnya, tapi di lain waktu juga berdasarkan klub sepakbola kesukaannya.

Di Indonesia, sentimentalisme ini kerap dimainkan dengan mengungkit identitas organisasi kemasyarakatan. Individu yang bernaung dalam ormas yang sama merasa menjadi satu bagian dari individu lain dalam ormas yang sama, tetapi merasa sebagai yang lain (liyan) bagi individu di ormas berbeda. Ormas menjadi identitas baru yang dianggap penting dan bermakna, sama seperti identitas agama, ras, dan gender pada kesempatan lainnya.

Saya menduga, dari latar sosial semacam itulah imaji perang dalam organisasi kemasyarakatan kita lahir dan terpelihara. Perang yang diimajinasikan bukan antara pribumi dengan kolonial yang menjajahnya sebagaimana fron dan laskar pada masa perang kemerdekaan. Perang yang diimajinasikan juga bukan antara aktivis sipil dengan tentara represif dalam sebuah negara otoriter. Perang yang dimajinasikan justru perang antara masyarakat sipil yang berebut pengaruh untuk mengegolkan kebenaran kelompoknya.

Meski agak memalukan untuk diakui, tiap-tiap ormas tampaknya menyimpan ambisi “memerangi” ormas lainnya, baik secara politis, kultural, ideologis, bahkan jika perlu: secara fisik. Agar masing-masing ormas berpeluang menjadi pemenang, mereka membangun imaji bahwa mereka adalah pihak yang benar.

Sentimentalisme ini kemudian dimainkan dengan berbagai permainan bahasa. Mereka membuat klaim kebaikan untuk dilekatkan pada kelompok sendiri sambil membuat stereotip buruk kepada kelompok lain yang diidentifikasi sebagai “lawannya”. Ada klaim nasionalis, relijius, toleran, suci, dan lainnya. Sementara itu, ada pula stereotip kafir, radikal, ekstrimis, intoleran, dan sebagainya.

Mengeksplorasi Kesamaan

Baik Sen maupun Maalouf mewanti-wanti bahwa permainan identitas dapat terakumulasi jadi kebencian. Dan sebagaimana terjadi di banyak negara, kebencian adalah bahan bakar yang sempurna bagi meledaknya konflik. Penganiayaan, perang, dan bahkan genosida di berbagai negara terjadi karena sentimentalisme identitas yang dibesar-besarkan.

Konflik di Irlandia melibatkan kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai union dan kelompok lain yang mengidentifikasi prokebebasan. Konflik itu terjadi juga berkat “permainan” identitas agama antara Katolik dan Kristen. Di Rwanda, perang saudara muncul akibat permainan identitas ras antara yang mengidneitifikasi diri sebagai Hutu dengan kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Tutsi.

Tentu berlebihan untuk menyamakan situasi di Tanah Air saat ini dengan perang-perang berkepanjangan di atas. Tetapi konflik-konflik besar itu berasal dari permianan identitas yang awalnya tampak sepele.

Karena itu, agar yang sepele itu tak berkembang menjadi besar dan genting, harus segera diredam. Hubungan antarormas, antaragama, dan antarkelompok di Indonesia mestinya dijalin dalam landasan yang lebih universal. Tiap-tiap anggota ormas adalah manusia. Tiap-tiap manusia berhak sejahtera dan bahagia. Dan hubungan kemanusiaan mestinya menjadi hubungan yang melampui sentimentalisme apa pun. (Gambar: artstation.com)

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *