Hasil Penelitian: Banyak Anak Kos Tak Kenal Induk Semangnya

KEHIDUPAN mahasiswa ternyata tidak se-wah kesannya. Kerap disebut sebagai agen perubahan (agent of change), kehidupan mahasiswa justru menyajikan banyak keganjilan. Misalnya, banyak mahasiswa yang tinggal di kos ternyata tidak kenal induk semangnya.

Fakta itu terungkap dalam penelitian berjudul Pola Interaksi Mahasiswa dengan Masyarakat yang dilakukan oleh Prof Dr Masrukhi, Tommi Yuniawan, dan Ali Masyhar tahun 2011 silam.

Dalam penelitian tersebut terungkap, mahasiswa aktivis jarang berinteraksi karena kesibukan di kampus. Adapun mahasiswa nonaktivis mengaku sibuk pacaran, belajar, dan mengerjakan tugas kuliah.

Tidak hanya itu, terungkap pula bahwa jarang sekali mahasiswa yang melayat jika ada tetangga kos atau warga sekitar kos yang meninggal.

Hal itu dibenarkan oleh Mustofyan, ketua RT 05 RW 1 Kelurahan Sekaran. Menurutnya, sikap mahasiswa memang sudah jauh berubah. Saat ini mereka tidak lagi guyub dengan masyarakat sekitar. Dalam kegiatan sosial yang dihelat warga mereka jarang terlibat.

“Ada yang masih suka ikut kerja bakti, tapi sedikit sekali. Nol koma sekian persen lah,” ucapnya sambil tertawa.

Perubahan juga ia rasakan pada unggah-ungguh mahasiswa. Jika dulu masih banyak yang bertegur sapa, sekarang sangat jarang. Bahkan banyak yang tidak saling kenal.

“Mahasiswa kan macam-macam. Mereka beda-beda. Masih ada yang mau tanya dulu sih, tapi sedikit,” katanya.

Pihaknya sebenarnya telah membuat aturan supaya setiap mahasiswa pendatang membuat surat keterangan tinggal sementara. Namun kebijakan itu tidak direspon baik. Sekalipun telah disosialisasikan melalui pemilik kos, sedikit sekali mahasiswa yang menanggapinya.

“Sekitar 5 persen saja. Padahal kami kan perlu data itu, supaya kami bisa bertanggungjawab kalau tidak terjadi apa-apa,” lanjutnya. Hal senada disampaikan Sungarso, ketua RT 8 RW 4 Keluaraha Tambakaji. Karena dekat dengan beberapa perguruan tinggi, ada sejumlah mahasiswa yang kos di wilayahnya.

“Jumlahnya sekarang sudah tidak terlalu banyak, tapi ada,” katanya.

Menurutnya, mahasiswa di lingkungannya cenderung abai. Mereka sangat jarang bergaul dengan warga. Begitupun ketika ada kegiatan bersama warga, hampir tidak pernah ada mahasiswa yang melibatkan diri. “Sebenarnya saya berharap mereka ndukung,” katanya.

Apa pengakuan mahasiswa mengenai hal ini? “Kalau bergaul tapi Cuma buang-buang waktu dan nggak ada faedahnya buat apa?” kata Septian Agus, 22, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang. “Mending sendiri, baca-baca buku,” lanjut pemuda yang tinggal di Medoho itu.

Mince, mahasiswa lainnya, punya pendapat lain. Ia menilai masyarakat di sekitar tempat kosnya kurang cocok dengannya. “Orang-orangnya suka membicarakan orang lain, suka pamer pada hal-hal yang tidak penting, jadi kita males bergaul dengan mereka,” kata mahasiswi yang sementara tinggal di Panca Karya ini.

Meski demikian, ada pula mahasiswa yang guyup dan senang bergaul dengan warga. Parno, warga Bulusan Kecamatan Tembalang mengaku, masih sering nongkrong dengan mahasiswa.

“Kalau kerja bakti mereka memang tidak diikutkan, karena pemilik kos yang bertanggungjawab. Tapi kami masih sering ketemu. Kalau ketemu mereka juga negur dulu,” akunya.

Sejak kampungnya menjadi daerah kos-kosan pada tahun 1998, Parno mengaku ia belum pernah mendapati hal-hal yang tidak mengenakan. “Kalau mereka kebut-kebutan, kita tegur, besoknya tidak berani lagi,” lanjutnya.

Caption Foto: Anak kos sedang menyaksikan film favoritnya.
Sumber: Kaskus

Facebook Comments

1 Comment

  1. idris muhammad

    July 12, 2015 at 10:19 pm

    Kok analoginya mahasiswa, kalau itu juga saya kira semua yg ngekos.. hy kebetulan yg jd sampling yang kos yh mahasiswa.. tp bagus penelitiannya, di Jkarta mungkin lebih rendah pertisipasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.