Hanend, Fisika Politik, dan Kamar Pengetahuan

Mahasiswa paling keren se-Universitas Negeri Semarang Hanend Marhaen​ punya cara unik memperkenalkan diri ketika terlibat diskusi. “Saya Hanend, mahasiswa Fisipol,” katanya. Dia kemudian melanjutkan “Itu cabang ilmu baru, gabungan antara fisika dan politik.”

Dia memang mahasiswa fisika – meski saya ragu dia pahami konsep Archiemedes dan sistem operasi Newton 2. Tapi, dia juga gemar belajar politik. Dia menteri propaganda di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unnes – sebuah posisi yang sebuatnnya sama dengan posisi yang pernah diduduki Joseph Goebbels. Selan itu – yang bikin saya kerap mesem – ternyata dia pernah mengidolakan Budiman Sudjatmiko. Hwahaha.

Meskipun kata “fisipol” ia katakan dengan kelakar, Handend sedang menyodorkan sebah perspektif keilmuan. Bagi saya, dia sedang membuka ingatan lama bahwa ilmu pengetahuan – sejatinya – adalah universal. Dan tiap-tiap orang berhak mempelajari bagian manapun dari pengetahuan yang luas itu, sesuai kebutuhan dan minatnya.

Memang, dalam tradisi akademik perguruan tinggi, spesialisasi dan linearitas telah jadi semacam hukum. Dua hal itu harus dipetahui. Sarjana teknik seolah-olah hanya boleh bicara tentang teknik. Sarjana bahasa hanya boleh bicara tentang bahasa. Dan sarjana biologi genetis hanya boleh bicara tentang prinsip kerja hukum mendel.

Tradisi semacam itu, kadang terasa membatasi – juga mengekang. Sebab, seorang pembelajar kerap merasa perlu tahu lebih banyak hal daripada yang dipelajarinya. Keingintahuan itu kerap harus dikendalikan sebab tak memperoleh ruang yang cukup.

Padahal, jauh-jauh hari, bapak-bapak ilmu pengetahuan kita sudah mencontohkan, mereka bisa piawai di berbagai bidang sekaligus. Bukankah Leonardo Da Vinci adalah perupa sekaligus teknolog? Bukankah Ibnu Sina adalah dokter sekaligus filsuf? Dan bukankan Soekarno insinyur sekaligus penggagas Marhaenisme?

Pada masa lampau, orang bisa jadi astronom sekaligus musisi – dengan kepakaran yang sama-sama terakui. Orang bisa menjadi atlet sekaligus desainer rumah. Orang bisa menjadi agamawan (?) sekaligus praktisi tata kota.

Tapi, kini itu tugas yang tampak sangat berat. Barangkali itu terjadi sejak orang mengasumsikan ilmu sebagai kamar-kamar dalam sebuah hotel yang besar pada awal kemunculan positivistik. Orang harus berdiam dalam kamarnya, khusuk dalam ruang yang sempit. Sekali saja dia menyeberang ke kamar lain, penjaga akan menegur, menuduhnya ngintip.

Nah, entah dengan kesadaran itu atau tidak, Hanend sebenarnya sedang mendobrak “pengemaran” ilmu pengetahuan. Ia agaknya menghendaki, pengetahuan menjadi rumah besar. Di rumah besar itulah orang bisa lincah berpindah dari sisi satu ke sisi lain – dari sudut satu ke sudut lain.

Itu jika pembacaan saya tak keliru.

Salam,
Rahmat Petuguran
Playboy yang setia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.